Loading...

HAMA TANAMAN PAPRIKA DAN CARA PENGENDALIANNYA

HAMA TANAMAN PAPRIKA DAN CARA PENGENDALIANNYA
Paprika merupakan komoditi berprospek cerah karena peluang pasarnya sangat luas dan harganya pun cukup tinggi dibandingkan komoditi sayur lain.Walaupun budidaya paparika ini sangat menguntungkan namun setiap usaha pasti ada saja masalahnya. Masalah yang merupakan musuh dalam budidaya paprika adalah serangan hama & penyakit. Akibat serangan hama & penyakit ini adalah kualitas dan kuantitas hasil panen paprika menurun dan bahkan petani bisa mengalami kerugian.Menurut Prabaningrum et al.(2002 ) hama yang umum menyerang tanaman paprika adalah Trips (Thrips parvispinus), ulat grayak (Spodoptera litura), tungau teh kuning (Polyphagotarsonemus latus), kutu daun persik (Myzus persicae), Lalat pengorok daun (Liriomyza sp.) 1. Trips (Thrips parvispinus) Trips menyerang daun-daun muda dengan cara menggaruk dan menghisap cairan daun. Gejala serangan ditandai dengan bagian bawah daun yang terserang berwarna keperakan, selanjutnya berubah menjadi kecoklatan. Daun tampak keriput, mengeriting dan melengkung ke atas. Hama trips dapat pula menyerang buah paprika sehingga dapat menurunkan kualitas buah. Pengendalian trips pada tanaman paprika dapat dilakukan melalui; (a) penggunaan mulsa plastik hitam perak, dipasang pada lantai rumah plastik/greenhouse sehingga dapat menghalau trips sehingga diharapkan tidak menyerang tanaman paprika, juga mulsa plastik akan akan menghalangi trips mencapai tanah pada saat akan menjadi pupa. (b) pemasangan perangkap lekat warna biru, putih atau kuning. Sejak penanaman, di atas kanopi tanaman dipasang perangkat lekat warna biru, putih atau kuning sebanyak 1 buah per 2m2. (c) pembuangan mahkota bunga dan penjarangan buah. sehingga tidak berdempetan karena merupakan tempat persembunyai trips. Oleh karena itu, mahkota bunga pada buah yang telah terbentuk harus segera dibuang. (d) penyemprotan insektisida merupakan upaya terakhir untuk pengendalian trips pada tanaman paprika. Penggunaan insektisida dilakukan jika populasi hama tersebut telah mencapai ambang pengendalian trips yaitu fase vegetatif ( 0-5 MST ) = 2,7 ekor trips/daun atas, fase berbunga ( 6-11 MST ) = 0,3 ekor trips/daun pucuk dan 0,8 ekor trips/bunga, dan fase berbuah ( >11 MST ) = 0,3 ekor trips/daun atas 2.Ulat grayak (Spodoptera litura). Hama ulat ini menyerang semua jenis tanaman karena bersifat polifag. Warna ulat sangat bervariasi, dengan ciri utama adanya garis menyerupai sabuk berwarna hitam yang melingkar pada ruas ketiga. Tanaman inangnya antara lain adalah kubis, cabe, paprika, tomat, terong. Gejala serangan ditandai dengan ulat muda memakan daun dengan meninggalkan epidermis, sehingga daun menjadi transparan. Ulat tua memakan seluruh bagian daun dan yang ditinggalkan hanya tulang daunnya saja. Pengendalian ulat grayak pada tanaman paprika yang dilakukan dengan sistem PHT adalah. (a). pengumpulan kelompok telur dan larva yang terdapat pada tanaman paprika kemudian dimusnahkan; (b).pemasangan feromonoid seks atau perangkap lampu.Tujuannya untuk menangkap imago atau ngengat S.Litura, dan (c) penggunaan insektisida. Penggunaan insektisida baru boleh dilakukan jika serangan ulat grayak sudah mencapai ambang pengendalian 5% kerusakan daun. 3.Tungau (Polyphagotarsonemus latus). Di rumah plastik, hama tungau umumnya menyerang tanaman paprika dan tomat. Hama tungau teh kuning sering disebut pula tengu (bahasa Jawa), tongo (bahasa Sunda) atau Mites (bahasa Inggris). Tungau teh kuning berkaki enam. Warna tubuh kuning transparan, dengan ukuran tubuh ± 0,25 mm. Gejala serangan ditandai dengan timbulnya warna seperti tembaga pada permukaan bawah daun, tepi daun mengeriting, daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah (seperti sendok terbalik). Pada serangan berat, tunas dan bunga gugur. Pengendalian tungau dengan sistem PHT dapat dilakukan dengan penggunaan akarisida selektif seperti Propargit (Omite 570 EC) dan Dikofol (Kelthane 200 EC). 4.Kutu daun persik (Myzus persicae) Kutu daun persik sering pula disebut sebagai kutu daun tembakau. Nimfa dan serangga dewasa menyerang daun-daun muda, dengan cara menusuk dan mengisap cairan daun. Gejala serangan, ditandai dengan perubahan tekstur daun menjadi keriput, terpuntir, berwarna kekuningan, pertumbuhan tanaman kerdil, daun menjadi layu dan akhirnya mati. Disamping itu, kutu daun merupakan vektor penyakit virus PLRV dan PVY. Tubuhnya berwarna kuning kehijauan, dengan panjang tubuh berkisar antara 0,8-1,2 mm. Pengendalian kutu daun persik dengan sistem PHT adalah penggunaan insektisida jika populasi telah mencapai ambang pengendalian yaitu 7 ekor/10 daun, maka dapat disemprot dengan insektisida Fipronil atau Alfametrin. 5.Lalat pengorok daun (Liriomyza sp.) Daerah sebaran lalat penggorok daun hampir di seluruh dunia. Di Indonesia, spesies yang menyerang adalah L.Huidobrensis, yang tersebar mulai daerah dataran tinggi sampai daerah dataran tinggi sampai daerah dataran rendah. Hama ini menyerang mulai dari persemaian sampai tanaman dewasa. Lalat pengorok daun bersifat polifag. Tercatat sekitar 120 species tanaman dari 21 famili merupakan inang utamanya. Serangan serangga dewasa pada daun ditandai oleh bercak-bercak putih bekas tusukan ovipositor. Serangan berat akan mengakibatkan daun mengering seperti terbakar. Gejala serangan oleh larva berupa alur-alur putih pada permukaan daun paprika. Pengendalian dengan sistem PHT dapat dilakukan dengan pemasangan perangkap lekat warna kuning di atas kanopi tanaman sebanyak 1 buah per 2m2 dan penggunaan insektisida yang selektif dan efektif seperti Kartap hidroklorida atau Siromazin. Disarikan oleh : Lasarus, Pusat Penyuluhan Pertanian Sumber : 1. Standar Prosedur Operasional (SOP) Paprika di Greenhouse. Dirat Budidaya Tanaman Sayuran & Biofarmaka, Ditjen Hortikultura, Departemen Pertanian., 2006 2.Nikardi G, dkk; 2006. Budidaya Tanaman Paprika (Capsicum annuum var.grossum) didalam Rumah Plastik. Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.