Akhir- akhir ini harga cabai menembus angka fantastis, di tingkat petani saja sudah mencapai Rp 70. 000,- per kilo. Hal ini membuat petani di desa Kampungbaru kecamatan Plandaan semakin tersenyum lebar, pasalnya mereka mendapatkan keuntungan yang cukup besar dibanding dengan bulan-bulan yang lalu. “Alhamdullillah petani disini bisa tersenyum, soalnya tanaman padi kami banyak yang dimakan tikus, tanam cabai sebagai gantinya dan harganya tinggi” kata Bpk Mashuri. Beliau adalah petani yang menanam cabai. Sudah lebih dari 15 tahunan berbudidaya cabai rawit. Dahulunya beliau pencari kayu dihutan, karena adanya larangan mencari kayu. Beliau beralih profesi menjadi petani cabai, hal ini dikarenakan meneruskan profesi orangtuanya.Bapak Mashuri mengaku senang berinovasi, dengan mempraktekan ilmunya yang didapat dari pelatihan-pelatihan. Selain itu beliau juga bercerita senang menentang arus, yang artinya belum musimnya tanam cabai, beliau malah justru menanam, agar harga panennya tinggi. Saat ini beliau menanam ada sekitar 0,5 hektar cabai rawit. Beliau menanam dari bulan Maret lalu, sampai saat ini beliau sudah memanen beberapa kali. Menurut Bpk Mashuri, kalau tanamannya cabai normal bisa panen 16 - 20 kali panenan, asalkan dirawat dengan sebaik mungkin. Tips – tips agar tanaman cabai tidak mudah terserang hama penyakit, apalagi kalau tanamnya diluar musim, yaitu dengan menggunakan pupuk bokashi dan sedikit dalam penggunaan pupuk kimia. Hasilnya tanaman cabai milik Bapak Mashuri lebih bagus dan buahnya lebih lebat. Menurut beliau penggunaan pupuk bokashi sangat membantu kesuburan tanah, “kalau tanahnya subur, otomatis tanamannya juga bagus, dan lebih tahan terhadap hama penyakit” . Jadi tanaman juga seperti manusia butuh nutrisi untuk pertumbuhan. Selain membuat tanah subur penggunaan bokashi juga bisa menahan air didalam tanah, oleh karena itu kenapa tanaman cabainya tidak mudah keriting atau biasanya disebut dengan “puther”. Faktor penyebab keriting pada tanaman cabai adalah penggunaan pupuk yang berlebihan. Terutama penggunaan N yang tinggi yang membuat tanaman keropok atau daya tahan lemah terhadap serangan hama penyakit. Sedangkan yang kedua yaitu hama dan penyakit. OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) utama pada tanaman cabai yaitu hama Trips dan kutu kebul. Bapak Mashuri lebih mengutamakan pencegahan daripada pengendalian, yaitu dengan menutrisi tanaman menggunakan pupuk mikro. Kalaupun ada tanamannya yang sudah terserang beliau menggunakan pestisida yang dosisnya rendah. asalkan tepat pengaplikasiaanya, selain itu beliau juga menggunakan air bersih dan hangat untuk menghilangkan kutu kebulnya, penyebab yang selanjutnya adalah faktor cuaca, yaitu musim kemarau yang panas kering dan musim hujan yang terlalu basah. Adapun tahapan dalam budidaya tanaman cabai yang dilakukan oleh Bapak Mashuri yaitu: Pengolahan tanahnya. Tanah merupakan komponen penentu berhasil tidaknya budidaya cabai. Dalam pengolahan tanah dapat menggunakan handtraktor dengan kedalaman yang cukup dalam. Tujuannya supaya tanahnya lebih gembur dan meningkatkan kesuburan tanah. Perlu juga ditambahkan bahan bokashi sebagai pupuk dasarnya Bibit Cabai. Setelah menyiapkan tanahnya sebagai media tanam, selanjutnya yang penting juga menyiapkan bibit cabai yang berkualitas agar pertumbuhannya bagus. Bibit yang digunakan biasanya dari pembenihan. Sedangkan varietas yang dipilih adalah ORI 212 (F1) yang lebih tahan terhadap hama penyakit. Hasil panen 1 - 1,3 ton per boto seratus atau per 0,14 ha. Bisa dihitung kalau luasannya 0,5 hektar bisa memperoleh 2,8 – 3,64 ton per 0,5 hektar. Untuk pemasaran biasanya sudah di beli langsung tengkulak di desanya sendiri. Harapan dari Bapak Mashuri adalah petani di desa Kampungbaru khususnya dan di kecamatan Plandaan pada umumnya bisa berbudidaya cabai dengan cara yang baik dan benar, agar meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panennya