Jambu mete (Anacardium occidentale) merupakan komoditi perkebunan utama kecamatan Wakorumba Utara, khususnya desa Wantulasi. Produksi jambu mete cenderung fluktuatif dan produktivitasnya relative masih rendah. Salah satu factor yamg menyebabkan rendahnya produktivitas jambu mete, adalah serangan hama dan penyakit, disamping factor iklim/cuaca yang tidak mendukung, (terutama terjadinya hujan dengan intensitas tinggi pada masa berbunga), serta kondisi kebanyakan tanaman sudah renta. Beberapa jenis hama yang lazim menyerang tanaman jambu mete adalah : ulat kipat, kepik peengisap (helopeltis), ulat penggerek daun, kutu dan aphids.. Tetapi akhir-akhir ini petani desa Wantulasi mengeluhkan adanya serangan hama dengan ciri2 fisik mirip kupu-kupu kecil putih dan biasanya menyerang bagian pucuk dan tangkai bunga tanaman. Serangan hama ini ternyata cukup massif, sehingga sangat menghawatirkan petani setempat, Pada tanggal 1 November 2019, Penyuluh pertanian setempat mengambil contoh organisme pengganggu tanaman (OPT) berbentuk kutu putih pada permukaan bawah daun yang ada di kebun jambu mete desa Wantulasi. Setelah diidentifikasi, ternyata OPT tersebut, adalah nimfa hama wereng pucuk jambu mete (Sanurus indecora). Terjadinya serangan hama wereng pucuk diduga karena adanya tanaman inamg yang tumbuh di sekitar tanaman jambu mete. Tanaman inang hama wereng pucuk antara lain : mangga, jeruk, kakao, cabe, nangka, dan lain-lain. Bagaimana hama wereng pucuk menyerang tanaman jambu mete ?. Menurut Negara (2016) bahwa cara menyerang Sanurus indecora yaitu nimfa dan imagonya menyerang tanaman dengan cara menusuk dan mengisap cairan tanaman. Pada pucuk dan tangkai bunga, dengan memperlihatkan gejala bekas serangan berupa titik-titik hitam agak menonjol bulat kecil seperti benjolan dan bila dibelah akan terlihat tusukan tersebut mencapai floem dan xilem. Akibatnya mengganggu jaringan tanaman utamanya aliran zat hara menuju bunga terganggu, ketika populasi tinggi, serangan pada tangkai bunga yang diserang mengakibatkan bagian bunga tersebut mengering sehingga bunga berguguran. Pengendalian hama wereng pucuk jambu mete dapat dilakukan dengan pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT), baik secara biologi/alami, mekanik, maupun kimia. Secara alami, hama wereng pucuk dapat dikendalikan dengan musuh alaminya, seperti semut rangrang, laba-laba, belalang sembah, dan belalang pedang. Pengendalian secara mekanik, dapat dilakukan dengan mengumpulkan telur yang ada pada permukaan daun, dan pucuk, lalu dimusnahkan. Sedangkan secara kimia, hama ini dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Lamda sihalotrin dengan dosis 0,5 ml/l. Pengendalian secara kimia dilakukan jika kepadatan hama cukup tinggi dan musuh alami berkurang. Penggunaan insektisda merupakan alternative terakhir dan harus dilakukan dengan hati-hati, serta sesuai dengan dosis anjuran, karena dapat membunuh serangga atau predator bukan sasaran dan parasitoid hama tersebut. Semoga semua jenis hama, khususnya hama wereng pucuk jambu mete dapat dikendalikan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas, sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani jambu mete Amiin. Disusun : Ali Hamzah, S.P. Penyuluh Pertanian Kecamatan Wakorumba Utara, Buton Utara.