Loading...

Industri Pengolahan Buah Pisang

Industri Pengolahan Buah Pisang
Pisang adalah tanaman herbal yang berasal dari kawasan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Pisang termasuk famili Musaceae, terdiri atas berbagai varietas dengan penampilan warna, bentuk, dan ukuran yang berbeda-beda. Terdapat bermacam-macam jenis pisang, tetapi bila dikelompokkan akan terbagi menjadi empat golongan yaitu (a) Pisang yang dapat dikonsumsi segar tanpa diolah terlebih dahulu, dan pisang ini digolongkan pada pisang buah meja. Contohnya pisang barangan, pisang mas, pisang seribu, pisang ambon, pisang hijau, pisang susu, pisang raja dan pisang badak (Cavendish); (b) pisang olahan yaitu pisang yang dapat dikonsumsi setelah diolah terlebih dahulu seperti direbus, dikukus, digoreng atau dibuat produk-produk lain seperti keripik pisang, cake, dan roti. Contohnya pisang kepok, pisang nangka, pisang kapas, pisang tanduk, pisang raja uli, pisang kayu dan lain-lainnya; (c) pisang biji, jenis pisang ini tidak bisa dikonsumsi dalam bentuk segar maupun olahan secara langsung tetapi dapat dikonsumsi bersama-sama dengan bahan makanan lainnya. Misalnya pisang klutuk untuk pembuatan rujak; (d) pisang hias yaitu kelompok jenis pisang yang digunakan sebagai pisang hias pada berbagai keperluan untuk tanaman hias, misalnya pisang lilin dan pelepah. Keripik pisang adalah produk makanan ringan dibuat dari irisan buah pisang dan digoreng, dengan atau tanpa tambahan makanan yang diizinkan. Syarat mutu kripik pisang dapat mengacu SNI 01-4315-1996, Kripik Pisang. Untuk melayani konsumen yang memiliki selera berbeda-beda, dapat diciptakan ras kripik pisang yang beraneka rasa, berikut ini rasa-rasa yang terkandung dalam keripik pisang: Rasa Manis, Rasa Asin, Rasa Pedas, Rasa Keju, Rasa Cokelat, Rasa Strawbery, atau keripik pisang Rasa Barbeque. Tekstur atau kerenyahan keripik merupakan unsur utama penilaian konsumen. Keripik pisang yang baik, jika digigit akan renyah, tidak keras, tidak lembek dan tidak mudah hancur. Selain itu unsur penampilan warna makanan juga menjadi parameter kualitas penilaian konsumen. Sistem pengukuran yang akurat, dan rinci merupakan cara dalam meningkatkan kontrol kualitas. Permintaan pisang untuk industri pengolahan skala rumah tangga (10-50 kg/hari), skala UKM kripik (100-120 kg/hari), sale (1,5-2 ton/bln), ledre (70-120 kg/hari), puree (300-500 kg/hari) dan tepung (700-1.000 kg/minggu). Skala besar, membutuhkan kapasitas 10-12 ton pisang segar/hari. Buah pisang Barangan mempunyai sifat yang mudah rusak setelah panen. Hal ini merupakan salah satu kendala dalam penyediaan buah pisang Barangan dengan mutu prima kepada konsumen. Buah pisang Barangan merupakan buah klimakterik. Penyimpanan pada suhu kamar dan udara yang lembab dapat mempercepat proses respirasi dan meningkatkan kehilangan hasil. Sifat ini perlu diantisipasi, mengingat dalam distribusi pemasaran dibutuhkan masa simpan minimal 3 minggu hingga lebih dari satu bulan. Hasil industri tepung pada umumnya diperlukan sebagai bahan baku industri hilir, baik industri pangan maupun pakan. Penggunaan tepung sebagai bahan baku industri hilir meningkat seiring dengan teknologi yang mampu menciptakan produk-produk olahan baru. Disamping itu, tumbuhnya masyarakat modern menuntut makanan siap saji yang lebih bergizi dan menyehatkan, aman dikonsumsi, convenience, enak, dan harga yang terjangkau. Sebaliknya, tersedianya bahan baku yang cukup baik dalam kualitas maupun kuantitas mendorong pertumbuhan industri-industri pangan olahan dalam berbagai level, mencakup industri rumah tangga, kecil, menengah dan industri besar, serta industri jasa boga seperti hotel dan restoran. Kesemua hal tersebut di atas merupakan tuntutan dari hilir yang hendaknya dijadikan peluang untuk berkembangnya industri berbagai jenis tepung (tepung-tepungan). Pisang sumber pangan potensial, yuk kita tingkatkan pengelolaan pasca panennya. DAFTAR PUSTAKA Pangan Lokal: Budaya, Potensi dan Prospek Pengembangan Tahun 2016, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian