Loading...

INTEGRASI SAPI POTONG DENGAN TANAMAN PADI (BAGIAN I)

INTEGRASI SAPI POTONG DENGAN TANAMAN PADI (BAGIAN I)
Pengembangan ternak sapi sampai dengan tahun 2014 akan tetapdiarahkan untuk pencapaian program Swasembada Daging Sapi dan kerbau (PSDS/K), dimana didalamnya juga menyangkut aspek pengembangan pakan. Program pengembangan pakan ternak tetap mengacu pada pencapaian kemandirian bahan baku/pakan yang akan dilakukan melalui berbagai kegiatan, salah satunya adalah aplikasi kegiatan integrasi ternak ruminansia, khususnya sapi potong. Konsep integrasi ternak dalam usahatani tanaman baik itu tanaman perkebunan, pangan, atau hortikultura adalah menempatkan dan mengusahakan sejumlah ternak, tanpa mengurangi aktifitas dan produktifitas tanaman. Bahkan keberadaan ternak ini harus dapat meningkatkan produktifitas tanaman sekaligus dengan produksi ternaknya. Integrasi ternak bertujuan agar terjadi sinergi saling menguntungkan (mutualism sinergicity) dan pada akhirnya dapat membantu mengurangi biaya produksi. Penurunan populasi ternak ruminansia diduga disebabkan oleh semakin sempitnya lahan pangonan, yang dikonversi menjadi lahan lahan perkebunan, disamping itu pula semakin kecilnya pemilikan lahan produksi tanaman pangan, yang tidak memungkinkan untuk memelihara ternak karena ketersediaan rumput dan sisa-sisa hasil pertanian yang tidak mencukupi kebutuhan pakan. Belum lagi semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan produk ternak menyebabkan permintaan produk ternak meningkat, sehingga mau tidak mau untuk memenuhi kebutuhan terpaksa harus melakukan importasi, yang menguras devisa negara. Namun dengan mempertimbangkan pentingnya komponen ternak dalam usahatani, selain sebagai tabungan petani, juga dapat menunjang mempertahankan dan meningkatkan produksi tanaman melalui pemanfaatan pupuk kandang. Saat ini masyarakat petani di dunia disarankan untuk mengurangi pemakaian pupuk an-organik, yang telah menyebabkan penurunan kualitas tanah pertanian dan emisi gas metan (terutama dari lahan sawah) yang juga ikut menyebabkan efek rumah kaca, meningkatkan suhu atmosfir. Pengelolaan ternak dalam hal ini dilaksanakan oleh keluarga petani yang dalam waktu yang bersamaan melaksanakan produksi tanaman. Oleh karena itu pasokan untuk menunjang pengelolaan ternak sebagian besar diharapkan dapat diperoleh dari sisa hasil pertanian tanaman, meskipun sebagian kecil pasokan harus diperoleh dari luar. Sebagai konsekwensinya adalah keluarga petani tanaman yang akan mengusahatanikan integrasi ternak dalam tanamannya, harus menguasai teknik pemeliharaan dan pemanfaatan ternak secara baik, disamping pengetahuan praktek usahatani tanamannya, terutama pengetahuan dalam mengintegrasikan berbagai manfaat ternak pada tanaman dan sebaliknya. Melalui kegiatan integrasi ternak dengan tanaman pangan hortikultura diharapkan tercapainya beberapa sasaran kegiatan, yaitu : (a) Meningkatnya produktifitas usahatani, tanaman pangan atau hortikultura melalui pemanfaatan ternak ruminansia ; (b) Meningkatnya pemanfaatan sisa hasil pertanian tanaman perkebunan, tanaman pangan atau hortikultura untuk pakanternak ruminansia ; (c) Meningkatnya pemanfaatan tenaga ternak dan pupuk kandang dalam usahatani, (d) Mengembalikan kesuburan tanah melalui pemanfaatan pupuk kandang, (e) Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan praktis keluarga petani dalam pengelolaan secara optimum ternak yang diintegrasikan dalam usahatani Pola Integrasi Ternak Sapi Potong Dengan Tanaman Padi Pengembangan usaha budidaya ternak ruminansia dalam suatu kawasan persawahan dapat dilakukan dengan usaha pemeliharaan ternak sapi yang diketahui dapat memanfaatkan secara optimal sumber daya lokal dan produk samping tanaman padi. Pola pengembangan tersebut telah dikenal dengan nama Sistem Integrasi Padi Ternak (SIPT) dan merupakan suatu sistem usaha tani yang pengelolaannya saling terintegrasi dengan berbagai komponen usahatani padi-ternak. Program SIPT dapat dilaksanakan antara lain melalui penerapan berbagai macam teknologi pengolahan bahan baku pakan dan kotoran ternak sebagai sumber bahan baku pupuk organik. Produk teknologi pengolahan diharapkan mampu mendukung kegiatan usahatani padi melalui penyediaan pupuk organik dan penyediaan bahan pakan yang berkelanjutan untuk sapi potong. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka diperlukan suatu strategi penerapan konsep pertanian terpadu, berkelanjutan, lintas sektoral dan ramah lingkungan. Jerami padi yang tersedia dalam jumlah yang besar dapat dimanfaatkan oleh ternak sapi, sementara kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas padi. Dengan kata lain, pola integrasi sapi dengan padi dapat menghasilkan padi sebagai produk usaha tanaman pangan dan daging dan/atau susu sebagai produk usaha peternakan Dengan demikian, integrasi ternak sapi dengan padi diharapkan dapat merupakan salah satu jalan keluar dalam upaya meningkatkan produktifitas ternak dan sekaligus dapat tetap mempertahankan usahatani padi yang berkelanjutan (sustanaible agriculture). Disamping juga mempertimbangkan aspek-aspek ramah lingkungan (environmentally tolerable). Secara sosial diterima masyarakat (socially acceptable), secara ekonomi layak (economically feasible) dan diterima secara politik (politically desirable). Pengembangan SIPT dilaksanakan dengan tujuan untuk (i) mendukung upaya mempertahankan dan sekaligus memperbaiki struktur dan tekstur lahan pertanian serta menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman pertanian yang seimbang, (ii) mendukung upaya peningkatan produktivitas tanaman padi (sebagai produk utama) dan daging (sebagai produk ikutan), (iii) peningkatan populasi ternak sapi yang sekaligus, (iv) meningkatkan pendapatan petani. Teknologi pengolahan limbah atau hasil samping padi Untuk dapat mencapai tujuan tersebut diatas maka beberapa teknologi siap pakai perlu di-ujiterapkan. Teknologi dimaksud antara lain adalah : (1) pengayaan nilai nutrisi jerami padi (2) penyediaan dan pola pemberian pakan (3) teknologi tatalaksana perkandangan dan pengolahan kotoran ternak (feses, urine dan sisa pakan) (4) kesehatan lingkungan/sanitasi. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM, Sumber : Pedoman Umum Pengembangan Integrasi Tanaman Ruminansia, Direktorat Jenderal Peternakan 2012)