Pengayaan nilai nutrisi jerami padi a. Jerami padi sebagai produk samping tanaman padi tersedia dalam jumlah yang besar, namun demikian pemanfaatannya belum optimal. Hal ini disebabkan karena bahan ini memiliki nilai nutrisi dan biologis yang rendah. Rataan jumlah jerami padi yang dapat diperoleh untuk setiap hektar adalah 4 ton, dan setelah melewati proses fermentasi dapat menyediakan bahan pakan untuk sapi sebanyak 2 ekor/tahun. b. Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal maka sebelum diberikan ke ternak, perlu diberi perlakuan agar lebih disenangi ternak dan mempunyai nulai nutrisi yang lebih baik dari bahan dasarnya. Perlakuan umum yang telah banyak diterapkan antara lain melalui pencacahan, fermentasi ataupun amoniasi. c. Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang cukup besar jumlahnya dan belum sepenuhnya dimanfaatkan. Produksi jerami padi bervariasi yaitu dapat mencapai 12 - 15 ton per hektar 1 kali panen, atau 4-5 ton bahan kering tergantung pada lokasi dan jenis varietas tanaman padi yang ditanam. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan untuk meningkatkan kualitas jerami padi, baik dengan cara fisik maupun kimia dan biologis. Tetapi cara-cara tersebut biasanya disamping mahal, juga hasilnya kurang memuaskan. Dengan cara fisik misalnya memerlukan investasi yang mahal, secara kimiawi meninggalkan residu yang mempunyai efek samping sedangkan dengan cara biologis memerlukan peralatan yang mahal dan hasilnya kurang disukai ternak (bau amonia yang menyengat). Cara yang praktis , lebih murah dan hasilnya sangat disukai ternak adalah fermentasi dimana jerami ditambahkan bahan mengandung mikroba proteolitik, lignolitik, selulolitik, lipolitik dan bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik (contohnya starbio, starbio plus, EM4 dan lain-lain). Bahan yang dibtuhkan untuk membuat jerami fermentasi dianataranya sebagai berikut : jerami 1 ton ; urea 6 kg; EM4 atau bahan sejenisnya 6 liter ; air secukupnya. Tempat pembuatannya harus ada naungan/atap agar terhindar dari hujan dan sinar matahari langsung. Cara pembuatannya adalah jerami kering panen dilayukan selama satu sampai dua hari untuk mendapatkan kadar air 60 % (tanda-tandanya jerami kita remas, apabila air tidak menetes tetapi tangan kita basah, hal tersebut menandakan kadar air tersebut telah mendekati 60%). d. Jerami yang telah mendapat perlakuan fermentasi sebaiknya disimpan pada tempat yang teduh dan terhindar dari terik matahari maupun dari terpaan air hujan. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari kerusakan yang dapat diakibatkan oleh sengatan matahari maupun air hujan. Jerami padi yang telah melewati proses fermentasi siap untuk digunakan e. sebagai bahan pakan dasar untuk ternak sapi. Penyediaan dan Pola Pemberian Pakan a. Agar memberi dampak yang baik untuk ternak, maka pemberian sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan bahan pakan lainnya, seperti hijauan legum pohon (lamtoro, kaliandra, glirisidia ataupun turi) yang dapat diusahakan/dibudidayakan di areal pematang ataupun pagar kebun/rumah. b. Pemberian jerami padi pada ternak sapi disesuaikan dengan ukuran tubuh ternak. Sapi dewasa umumnya diberikan sejumlah 20-30 kg jerami, dan untuk merangsang nafsu makan, maka pada saat diberikan sebaiknya dipercikan air garam. c. Penambahan bahan pakan lain/ekstra, seperti dedak padi, katul maupun hijauan legum dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan di lokasi masing-masing. Disarankan agar pakan ekstra untuk ternak bunting laktasi/menyusui dan anak diberikan dalam jumlah yang d. lebih banyak agar kebutuhan ternak dapat terpenuhi dan pertumbuhan ternak menjadi optimal. Tatalaksana Perkandangan a. Untuk memudahkan dalam tatalaksana pengelolaan ternak, maka lokasi, bentuk, ukuran, model dan keamanan kandang perlu diperhatikan. Upayakan agar lokasi kandang dekat dengan sumber pakan/dekat sawah dan mudah terjangkau oleh sarana transportasi. b. Hal ini penting, karena selain memudahkan dalam penyediaan bahan pakan, juga memudahkan dalam pengangkutan kotoran/pupuk organik produk olahan kotoran ternak. c. Model bangunan kandang dalam bentuk kelompok sangat disarankan. Hal ini penting untuk membantu pemilik ternak dalam menjaga keamanan, demikian pula kesehatan ternak. d. Ukuran kandang harus disesuaikan dengan kondisi/status fisiologis ternak sapi. Secara umum ukuran kandang untuk satu ekor sapi induk dewasa adalah 3 m2, dan diupayakan agar lantai terbuat dari bahan yang tahan injakan, tidak mudah becek dan mudah dibersihkan, misalnya dari adukan beton. e. Sekat kandang dapat disesuaikan dengan kondisi setempat, dengan catatan cukup kuat dan memiliki daya tahan pakai yang cukup lama. f. Model dan bentuk kandang yang baik sangat membantu pemilik/kelompok ternak dalam tatalaksana keseharian, khususnya dalam mengelola kotoran ternak. Kotoran ternak dalam bentuk feses, urine dan sisa pakan merupakan bahan baku yang sangat baik untuk pembuatan pupuk organik atau lebih dikenal dengan pupuk kandang. g. Secara umum, kandang ditempatkan pada lokasi strategis yang dekat dengan area persawahan maupun sarana transportasi, sehingga mempermudah pengangkutan kompos maupun jerami. h. Kandang dibangun dalam bentuk kelompok dengan model disesuaikan lokasi yang tersedia. Kapasitas 2 - 4 ekor sapi dengan ukuran 8 - 10 M2, lantai kandang dibuat dari beton. Kesehatan dan sanitasi lingkungan a. Kesehatan dan sanitasi lingkungan perlu juga mendapat perhatian. Lingkungan yang baik lebih disarankan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Penyakit ataupun gangguan kesehatan yang umum terjadi adalah gangguan pencernaan, eksternal dan internal parasit dan mata. b. Upayakan untuk selalu melaporkan setiap terjadinya gangguan kesehatan pada petugas setempat. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM, Sumber : Pedoman Umum Pengembangan Integrasi Tanaman Ruminansia, Direktorat Jenderal Peternakan 2012)