Loading...

Irigasi Tetes Sistim Grafitasi

Irigasi Tetes Sistim Grafitasi
Pemberian air ke tanaman dapat dilakukan dengan beberapa cara. Yang paling mudah dan murah adalah dengan sistim pengaliran air langsung ke lahan atau sistim leb. Tapi cara ini tidak tepat untuk kawasan yang ketersediaan air dan tingkat kelembabannya rendah, misalnya di wilayah lahan kering. Air yang mengalir akan banyak meresap ke tanah dan menguap. Dalam kondisi demikian, sistim irigasi yang tepat adalah dengan irigasi tetes. Petani di Taiwan dan Thailand, termasuk petani durian, mangga, dan jeruk sudah terbiasa menggunakan sistim irigasi tetes. Di Indonesia sudah banyak diterapkan pada tanaman bunga dan sayur-sayuran. Meskipun membutuhkan biaya awal yang tinggi, sistim irigasi tetes ini akan menghemat tenaga kerja pada tahun berikutnya, dan tentunya lahan kering yang tidak dapat ditanami pada musim kemarau, akan dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal. Masalah utama dalam budidaya tanaman di lahan kering adalah irigasi. Ketergantungan terhadap air hujan, tidak memungkinkan petani untuk bercocok tanam di musim kemarau. Sistim irigasi leb yang biasa dilakukan oleh petani, sangat tidak efisien dalam penggunaan air untuk tanaman. Air banyak yang meresap ke dalam tanah dan menguap sebelum sampai ke daerah perakaran tanaman. Sistim irigasi tetes secara ideal membutuhkan biaya investasi yang mahal. Tetapi dengan cara konvensional, biaya investasi dapat ditekan seminimal mungkin. Bak penampungan air diletakkan pada tempat yang lebih tinggi dari lahan untuk mendapatkan head / tekanan akibat gaya grafitasi yang cukup untuk mengalirkan air ke selang utama/primer. Dari selang utama selanjutnya didistribusikan ke tanaman melewati selang sekunder yang dilubangi jarum sebagai emiter (penetes). Volume air yang diberikan pada tiap tanaman dapat dikendalikan dengan mengatur kran air. Jumlah air dan nutrisi yang diberikan disesuaikan dengan kondisi yang diperlihatkan tanaman. Admin_Joko Suharsono, SP_MUrikah, SP