Jagung merupakan komoditas pangan utama setelah padi dan gandum. Kebutuhan akan jagung terus meningkat dikalangan masyarakat sehingga impor jagung tidak dapat dihindari. Pada tahun 2016 impor jagung sudah menurun sekitar 60% dan pemerintah berharap tahun 2018 jagung sudah tidak impor. Produksi jagung harus ditingkatkan guna mengurangi impor.Untuk meningkatkan produksi jagung, Balitbangtan telah menciptakan jagung hibrida tongkol dua dengan produksi dua kali lipat dari jagung biasa yang di pamerkan pada acara Hari Pangan Sedunia (HPS) di Boyolali Provinsi Jawa Tengah pada 29 Oktober 2016. Pada kesempatan tersebut Presiden Republik Indonesia Joko Widodo berkesempatan memberikan nama jagung hibrida tongkol dua dengan nama "NASA (Nakula Sadewa) 29".Keunggulan Jagung NASA 29Keunggulan Jagung NASA 29 ini memiliki umur panen 105 hari dengan warna biji kuning-oranye. Potensi hasil yang tinggi mencapai 13,5 t/ha. Selain potensi hasil yang tinggi, jagung ini memiliki ketahanan terhadap penyakit bulai, karat, dan hawar. Keunggulan lainnya jagung hibrida tongkol dua NASA 29 ini adalah stay green, yaitu warna batang dan daun di atas tongkol masih hijau saat biji sudah masak/waktu untuk panen sehingga dapat dimanfaatkan untuk pakan. Peningkatan hasil lebih dari 35% dari jagung hibrida tongkol dua dan rendemennya tinggi serta janggel yang keras.Pada saat acara HPS, telah disumbangkan kepada petani sebanyak 5 ton benih NASA 29, selain itu juga telah disebarkan benih NASA 29 di sentra pengembangan jagung hibrida, yaitu di Sulawesi Selatan dan NTB, masing-masing 20 ha, di Jawa Timur 15 ha, di Sulawesi Utara dan Jawa Barat masing-masing 10 hektar, di Sulawesi Tenggara dan Jambi masing-masing 5 ha. Untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan melalui perluasan penggunaan benih varietas jagung hibrida bertongkol dua pada lingkungan yang sesuai untuk peningkatan produktivitas jagung regional dan nasional serta respons petani terhadap varietas unggul baru (VUB) jagung hibrida tongkol dua "Nakula Sadewa (NASA) 29" yang tinggi, berikut disajikan teknik budidaya jagung hibrida. Teknik Budidaya Jagung Hibrida Pemilihan benih: Jenis hibrida varietas bisi dan pioner, umumnya sudah bersertifikat. Setiap provinsi sudah tersedia benih jagung jenis unggul ini. Biasanya benih sudah dibubuhi fungisida yang berfungsi untuk melindungi tanaman dari berbagai penyakit.Penyiapan lahan : Lahan diolah hingga gembur sehingga aerasi baik dan tanah mempunyai sirkulasi udara yang bagus. Pada tanah yang PH rendah (asam) disarankan menggunakan kapur, untuk meningkatkan derajat keasaman tanah. Bila drainase tinggi, jagung disarankan dibuat guludhan. Waktu dan cara tanam : Tanaman Jagung sangat baik sekali di tanam pada Bulan Mei-Juni-Juli (musim hujan selesai hingga memasuki kemarau). Jarak tanam : Bagi tanah yang berjenis tanah becek, disarankan dibuat guludhan. Dengan membuat guludhan dimaksudkan untuk menghindari tanah becek, sehingga aerasi tanah jelek. Jarak antar guludhan adalah 75 cm sedangkan jarak di dalam baris 20-25 cm. Pemupukan : Pemupukan penting karena jagung jenis unggul membutuhkan banyak nitrogen minimal 300 kg. Urea diberikan saat tanam 1/3 dan sisanya diberikan setelah umur tanaman 1 bulan. Di samping itu diberikan pupuk SP36/TSP 200-250 kg dan KCL 75-100 kg diberikan pada saat tanam. Pemberian pupuk dianjurkan tidak dicampur, dimana jarak dgn larikan kira-kira 7 cm dan kedalamannya 7 cm. Pemeliharaan : Penyiangan pada umur 4 minggu setelah tanam, setelah itu baru diberi pupuk. Jangan melakukan pemupukan sebelum penyiangan karena akan diserap oleh rumput yang belum disiangi. Hama yang menyerang: Penggerek batang/daun diberi insektisida yang sistemik karena ketika ditaruh bisa terserap dan nantinya akan mengalir di seluruh jaringan tanaman, sehingga hama yang makan tanaman akan mati. Misalnya Furadan 3G. Panen dan pasca panen: Umumnya jagung kering dapat dipanen sekitar 90 hari. Kegiatan penanganan pasca panen sangat diperlukan mengingat hasil panen jagung mudah rusak jika tidak mendapat perlakuan pasca panen yang tepat. Sembilan jam setelah panen, jagung harus dikeringkan sampai kadar air mencapai 14-15%. Jika tidak maka jagung akan berjamur dan terkena aflatoxin. Kandungan aflatoxin yang tinggi bisa menyebabkan keracunan pada unggas yang memakannya. Demikian informasi yang dapat disampaikan semoga bermanfaat. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com Sumber : 1) Pedoman Teknis GP-PTT Jagung 2015, Direktorat Serealia. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian.2) Katalog Gelar Teknologi Penas Petani dan Nelayan XV, Banda Aceh, 6-11 Mei 2017. Balitbangtan-Kementan3) Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan 2015.4) https://www.google.com