Jahe merupakan salah satu rempah-rempah yang paling popular dan luas pemanfaatannya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri dari Asia hingga Eropa. Banyak dimanfaatkan dari bumbu masakan, bahan baku minuman hingga bahan pembuatan herbal tradisional dan obat-obatan modern. Tanaman jahe merupakan terna (tanaman yang batangnya lunak karena tidak membentuk kayu), Tanaman Jahe termasuk tanaman terna tahunan. Akar tanaman jahe berbentuk serabut dengan warna putih kotor. Rimpang jahe tumbuh bercabang-cabang dengan bentuk tebal dan agak melebar serta memiliki daging yang berserat agak kasar, berwarna kuning hingga kemerahan dengan aroma khas dan rasa pedas. Rimpang merupakan bagian utama yang dimnfaatkan dari tanaman jahe. Batang tanaman jahe merupakan batang semu, bentuknya bulat pipih dan tidak bercabang. Daun tanaman jahe terdiri atas pelepah dan helaian, bentuknya menyirip dan bagian atasnya berbulu putih serta tangkai daun berbulu halus. Jahe memiliki beberapa jenis, seperti jahe gajah, jahe merah dan jahe emprit. Jahe gajah merupakan jenis tanaman jahe yang ukuran rimpangnya lebih besar dan lebih gemuk dibandingkan dengan jenis jahe lainnya. Jahe merah merupakan jenis jahe dengan cita rasa paling pedas dibandingkan jenis jahe lainnya. Jahe emprit dikenal juga sebagai jahe putih atau kuning kecil, jahe emprit ukurannya lebih kecil dan ruas jahenya tidak menggembung. Beratnya kisaran 0,5 – 0,7 kg/rumpun, umumnya dipanen pada umur tua. Cita rasa jahe emprit lebih pedas dibandingkandengan jahe gajah karena kandungan gingerol, zingeron dan shogaol lebih tingga dibandingkan dengan yang dikandung jahe gajah. Rimpang jahe mengandung minyak asitri yang didalamnya terdapat beberapa senyawa, seperti zingeron, seskuiterpen, oleoresin, zingiberen, limonene, kamfena, sineol, zingiberal, strat, felandren dan borneol. Selain itu terdapat juga damar, pati, vitamin A,B,C, senyawa flavonoid dan polifenol, serta asam organic seperti, asam malat dan asam oksalat. Ada begitu banyak manfaat dari rimpang jahe, sudah terbukti secara ilmiah dan klinis ataupun secara turun temurun adalah menghangatkan tubuh, melancarkan peredaran darah, mengatasi perut kembung, demam dan batuk, menghilangkan sakit kepala, mengobati sakit gigi, mengatasi nyeri menstruasi, menurunkan kolesterol, hingga memerangi sel kanker. Selain dibudidayakan secara monokultur, tanaman rimpang juga dapat ditanam secara berdekatan atau tumpang sari dengan tanaman rimpang lainnya. Pada satu luasan lahan, misalnya satu hektar, bias ditanam berbagai jenis tanaman rimpang, seperti jahe, lengkuas, kunyit dan kencur sekaligus. Penanaman bias dilakukan secara bersamaan atau terjadwal dengan waktu penanaman yang sebaiknya dilakukan awal musim hujan. Selain itu, pembagian lahan untuk setiap jenis rimpang, sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan finasial pengadaan bibit dan peluang pasar aneka jenis rimpangnya. Sementara itu teknis budidaya masing-masing rimpang menggunakan system tumpang sari ini secara umum tidak jauh berbeda. Cara menanamnya bias dilakukan berselang seling. Ada beberapa manfaat atau fungsi tumpang sari pada budidaya tanaman rimpang. Manfaatnya adalah untuk meminimalisasi serangan hama, untuk menjaga kestabilan harga jual yang diperoleh petani jika harga jual salah satu jenis rimpang sedang rendah dan harga jual rimpang jenis lain sedang tinggi. Karena itu petani tidak terlalu merugi ketimbang hanya menanam satu jenis rimpang. Materi Cyber, 3 Desember 2019 Penulis M. Ali Nurdin