Jeruk bali merupakan jenis buah dengan nama latin Citrus maxima atau Citrus grandis. Jeruk berkulit tebal ini bernama "Pomelo" di pasar Internasional. Di Indonesia, buah ini banyak ditemui saat musim panen di bulan Juni hingga Agustus. Sampai saat ini asal mula jeruk bali masih menjadi teka-teki. Namun yang pasti saat ini salah satu lokasi budidaya jeruk bali yang terkenal bukan di Bali, melainkan Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Di Pati, warga menyebutnya jeruk bali madu. Karena rasanya yang manis, jeruk bali madu banyak dikonsumsi secara langsung. Beberapa dari kita mungkin sudah sangat familier dengan yang namanya buah jeruk bali ini. Jeruk yang tergolong "bongsor" dari segi ukurannya ini memiliki banyak penggemar di seluruh Nusantara. Tak hanya di Indonesia, buah ini pun banyak digemari di berbagai negara Asia seperti Thailand, Bangladesh, China dan Filipina.Seperti apa yang disampaikan di atas, Di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, jeruk ini sudah jarang ditemui. Secara khusus di Kecamatan Marga, tidak ada masyarakat/petani yang membudidayakan jeruk ini, tetapi ada beberapa petani yang menanam 1-2 pohon di pekarangan rumahnya. Pada kesempatan ini, demi menjaga nama "Jeruk Bali" kami ingin mengajak masyarakat/petani khususnya di Kecamatan Marga dan umumnya masyarakat/petani di Bali, untuk mau lagi menanam jeruk ini, sehingga keberadaan jeruk ini menjadi melimpah. Jika memang bisa mewujudkan keberadaan jeruk ini menjadi gampang didapat/melimpah, sehingga kesan nama "Jeruk Bali" menjadi nyata. Bahwa Jeruk Bali, banyak ada di Bali. Pada Kesempatan ini kami akan memberikan informasi tentang teknis Budidaya Jeruk Bali, yaitu: SYARAT TUMBUH BUAH JERUK BALI Karakteristik teknik budidaya jeruk bali sama dengan jenis jeruk lainnya, seperti jeruk lemon maupun jeruk nipis. Berikut ini beberapa syarat tumbuh jeruk bali yang perlu Kita sediakan :1). Pastikan lahan Kita tidak sempit karena satu pohon buah jeruk bali membutuhkan area sekitar 10-12 x 10-12 meter agar tumbuh optimal dan berbuah banyak. 2). Pastikan buah jeruk bali ditanam di area bersuhu maksimal 30 derajat celcius. 3). Buah jeruk bali paling baik jika ditanam di daerah dataran tinggi. Namun demikian, di dataran rendah pun buah ini dapat tumbuh asalkan cukup air, banyak sinar matahari dan bebas hama. 4). Jeruk bali membutuhkan banyak sinar matahari sepanjang hidupnya. 5). Tanaman jeruk bali menyukai tanah lempung berpasir. 6). Tanaman ini tidak terlalu menyukai angin karena dapat merontokkan buah.dan bunga. 7). Tanaman jeruk bali membutuhkan keasaman tanah sekitar 5,5 hingga 6,5. dan 8). Tanaman ini tidak menyukai air yang menggenang sehingga diperlukan drainase yang baik di tempat tumbuhnya. BUDIDAYA JERUK BALI Seperti halnya membudidayakan jenis tanaman lain, budidaya jeruk bali juga dapat dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahapan tersebut ialah penyiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan serta pemanenan. PENYIAPAN LAHAN Seperti halnya tanaman lainnya, penanaman jeruk bali juga membutuhkan lahan yang subur dan gembur. Untuk itu, sebelum kita mulai menanam bibit jeruk bali, penggemburan dapat kita lakukan dengan cara mencangkuli lahan dan mencampurnya dengan pupuk. Untuk pemetakan lahan yang akan ditanami masing-masing bibit, idealnya kita menyediakan petakan tanah sebesar 10-12 x 10-12 meter untuk tiap bibitnya. Hal ini bukan tanpa alasan karena saat bibit jeruk bali ini membesar, ketinggiannya bisa mencapai 5 meter. Tentunya dengan ketinggian sebesar ini maka rantingnya pun akan rimbun dan menutupi cahaya sinar matahari yang dibutuhkan oleh pohon jeruk bali ini. Untuk itu, diperlukan petakan tanah yang besar dan arah mata angin yang tepat untuk menumbuhkan pohon jeruk bali. Arah timur ke barat merupakan arah mata angin yang tepat bahi pohon jeruk bali agar senantiasa tercukupi sinar matahari. PEMBIBITAN JERUK BALI Setelah kita menyiapkan lahan beberapa minggu sebelum penanaman, kini giliran kita menyediakan bibit jeruk bali yang baik. Pembibitan ini memegang kunci penting dari hasil panen maksimal yang akan kita raih. Mengapa demikian? Karena cara pembibitan jeruk bali ini sebagian besar dilakukan bukan dengan metode biji atau stek, malainkan dengan cangkok.Tips : Cara tanam metode cangkok dipilih bukan tanpa alasan karena para petani jeruk bali memiliki pengalaman cara menanam yang baik dengan metode cangkok ini yakni masa buahnya yang tidak terlalu lama dan daya tahan pohon yang kuat. Ciri bibit buah jeruk bali yang baik ini adalah batangnya yang lurus dari atas ke bawah serta diameter batang sekitar 2-3 cm. PENANAMAN JERUK BALI Setelah kita mendapatkan bibit jeruk bali yang tepat, kini tibalah saatnya bercocok tanam bibit tersebut dengan teknik menanam yang tepat. Tanamlah masing-masing bibit di petakan tanah dengan jarak tanam 10-12 x 10-12 m. Adapun waktu kapan kita menanam bisa kita lakukan kapan saja karena buah jeruk bali bisa tumbuh di musim kering maupun musim hujan asalkan syarat tumbuhnya terpenuhi. Untuk mendapatkan pertumbuhan bibit yang baik, sebaiknya 1-2 minggu sebelum tanam dibuatkan lobang tanam dengan ukuran 40 cm x 60 cm, dengan kedalaman 50 cm. Perlu diperhatikan, hasil galian tanah bagian tanah atas (Top soil) dipisahkan dengan bagian tanah bawah. Sehingga saat penanaman bibit, tanah atas dimasukan terlebih dahulu lalu menyusul tanah bagian bawah, dengan tujuan agar perkembangan akarnya lebih bagus, umumnya tanah dibagian atas lebih subur dibandingankan tanah bagiah bawah. PEMELIHARAAN Pemupukan dapat dilakukan maksimal 3 x dalam setahun disesuaikan dengan kondisi tanah, tetapi umumnya dilakukan dua kali. Pemupukan yang pertama dapat kita lakukan dengan menggunakan pupuk kompos (antara bulan Juli-Agustus). Sedangkan pemupukan kedua dapat kita lakukan dengan pupuk NPK (antara bulan Oktober-November). Untuk mendapatkan pertumbuhan jeruk bali yang lebih baik, bisa pula menggunakan pemberian jenis pupuk dan dosis (gram/tanaman) setelah penanaman adalah sebagai berikut: 1 bulan (Urea = 100; ZA = 200; TSP = 25; ZK = 100; Dolomit = 20; Pupuk kandang = 20kg), 2 bulan ( Urea = 200; ZA = 400; TSP = 50; ZK = 200; Dolomit = 40; Pupuk kandang = 40kg), 3 bulan (Urea = 300; ZA = 600; TSP = 75; ZK = 300; Dolomit = 60; Pupuk kandang = 60kg), 4 bulan (Urea = 400; ZA = 800; TS P= 100; ZK = 400; Dolomit = 80; Pupuk kandang = 80kg), 5 bulan (Urea = 500; ZA = 1.000; TSP = 125; ZK = 500; Dolomit = 100; Pupuk kandang = 100 kg), 6 bulan( Urea = 600; ZA = 1.200; TSP = 150; ZK = 600; Dolomit = 120; Pupuk kandang = 120 kg), 7 bulan ( Urea = 700; ZA = 1400; TSP = 175; ZK = 700; Dolomi t= 140; Pupuk kandang = 140 kg), >8 bulan: Urea >1.000; ZA = 2.000; TSP = 200; ZK = 800; Dolomit = 200; Pupuk kandang = 200 kg) selanjutnya pemberian pupuk disesuaikan dengan kondisi tanaman dan kesuburan tanahnya (Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan.( 2000). BAPPENAS .Jakarta). Penyiraman perlu dilakukan disaat musim kering agar pohon jeruk bali tidak kekurangan air. Perawatan lainnya adalah penyiangan (pencabutan rumput liar), pengusiran hama dan ulat serta pembatasan jumlah ranting dan buah pada musim panen pertama. PEMANENAN Panen besar mulai dapat kita nikmati setelah tahun ke-tiga. Sebelum tahun ini memang jeruk bali telah tumbuh namun kita belum bisa memanennya karena kita harus memperhatikan aspek yang lebih utama di masa yang akan datang, yakni pembatasan buah dan ranting agar tumbuh maksimal di tahun berikutnya. Semakin tua umur pohon jeruk bali, semakin banyak buah yang dihasilkan. (I Nyoman Kuspianto, SP. BP3K. Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali).