Jute juga merupakan serat alami (natural fibres) yang digunakan nomor dua terbanyak sesudah kapas (cotton) sebagai bahan keperluan hidup manusia. Serat dari tanaman jute ini diperoleh dari kulit batang pohon ( yang dinamakan bast fibre). Kain yang dianyam dari serat jute ini dinamakan hessian cloth, sedangkan karung yang dibuat dari hessian cloth ini dinamakan ‘karung goni' (gunny bags). Bahan dasar kain jute ini di Amerika dinamakan dengan burlap. Burlap sac ini membawa khayalan saya kepada para koboi Wild West yang menggantungkannya di atas pelana kudanya. Generasi yang dibesarkan pada tahun 1950 an tentu masih ingat ada orang di negeri kita ini yang sampai berpakaian goni saking miskinnya. Tentu saja mengenakan baju goni ini teramat menderita karena sangat kasar permukaannya dan menimbulkan rasa gatal. Di masa yang lebih lampau, dalam kepercayaan agama Kristen, baju dari goni ini (yang disebut dengan sackcloth) dikenakan oleh mereka sebagai ungkapan pertobatan akan dosa-dosa yang telah dilakukannya. Selain digunakan untuk pembuatan tali tambang dan karung goni, jute juga dipakai untuk bahan pembuat kertas, untuk karpet, korden, pelapis kursi mebel, bahkan pada masa Perang Dunia II dipakai untuk jaring-jaring pada topi baja (helm) prajurit dan juga untuk jaring kamuflase (camouflage netting). Jute dikenal sebagai bahan serat alami yang kuat, tahan air yang digunakan untuk pembuatan dari karung sampai bahan pakaian dan furniture. Tidak disadari bahwa ada tipe spesial jute yang dibudidayakan secara luas sebagai sayuran daun. Sayuran ini diberbagai negara dikenal dengan nama yang berbeda, misalnya Jew's mallow, bush okra, dan bayam Mesir. Jute merupakan makanan penting bagi keluarga di Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Daunnya kaya akan besi, protein, kalsium, thiamin, riboflavin, niacin, folat dan serat. Jute berasal dari Afrika, dan sekarang sudah menyebar dan beradaptasi dalam kondisi Tropis dan subTropis. Jute beradaptasi terhadap lingkungan yang hangat, cuaca yang lembab, kadang tumbuh baik di pinggiran sungai. Iklim yang dingin dan musing kering yang panjang dapat membunuh tanaman Jute mallow. Jute mallow dapat tumbuh di berbagai tipe tanah, dengan pH tanah 4.5 - 8.0, tapi tanah yang berpasir lebih disukai. Persiapan tanah yang baik akan menunjang pertumbuhan yang baik. Bedengan berukuran 150 cm dengan ukuran permukaan bedengan 90 cm, tinggi bedengan 30 cm pada musim hujan, 20 cm pada musim kemarau. Jute mallow ditanam baik secara langsung maupun disemai terlebih dahulu. Penanaman langsung dilakukan bila jumlah benih mencukupi, dan untuk tanaman yang hanya dipanen satu kali. Tanam dengan tidak langsung dapat dilakukan bila jumlah benih terbatas, penanaman dimusim penghujan dan bila tanaman akan dipanen beberapa kali. Benih jute mempunyai masa dormansi, sehingga memerlukan beberapa bulan untuk berkecambah. Untuk memecahkan dormansi dapat dilakukan dengan membungkus benih dalam kantung kain dan mencelupkannya kedalam air mendidih selama 10 detik, kemudian benih dikering anginkan semalam, dan langsung disemai. Benih dapat ditebar atau disemai dalam alur. Keperluan benih berkisar 0.5 - 2.5 g/m2 atau 5 - 10 kg/ha, tergantung daya tumbuh dan ukuran benih. Tiap gram benih mengandung sekitar 500 benih. Cara penanaman ini mengurangi masa tanaman di lapangan dan menjamin tanaman yang seragam. Ada dua tahapan untuk penanaman tidak langsung: pemeliharaan seedling di pesemaian, dan pemindahan tanaman ke lapangan. Benih disemai baik dalam bedengan maupun baki pesemaian. Sterilisasi medium pesemaian dapat dilakukan dengan pengukusan medium selama 2 jam, atau membakar jerami di atas permukaan bedengan. Sebarkan benih dan tutup dengan 0.5 cm kompos atau arang sekam. Gunakan 0.5-1.0 g benih/m2. Bila dilakukan pada baki, benih yang tumbuh dan berdaun dua, dipindahkan ke bumbunan. Sebelum dipindahkan ke lapangan, cahaya di pesemaian ditambah untuk menguatkan seedling. Jarak tanam tergantung dari varietas dan cara panen yang akan dilakukan. Alur dibuat dengan jarak 10 cm dan jarak tanaman dalam alur 5-10 cm, dalam penanaman 10 cm. Penyiraman dilakukan segera setelah penanaman. Penulis: Nanik Anggoro P, SP / Penyuluh BBP2TP