Pendahuluan Komunikasi merupakan aspek penting dalam proses penyebaran inovasi teknologi pertanian. Teknologi disebarkan kepada pemangku kepentingan (stakeholders) dan pengguna teknologi pertanian lainnya (beneficiaries). Perlu diakui, saat ini masih banyak petani yang belum memanfaatkan teknologi secara optimum untuk perbaikan usaha taninya. Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi, keterampilan yang belum memadai, dan skala penerapan teknologi yang tidak ekonomis. Oleh karena itu, dipandang penting agar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tegal terus berupaya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi para Penyuluh Pertanian. Peningkatan kemampuan komunikasi penyuluh pertanian di Kabupaten Tegal diharapkan dapat menderas informasi ketersediaan dan kebutuhan inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan usahatani. Dalam hal ini, diperlukan koordinasi dengan pemangku kebijakan pertanian di daerah dalam rangka sinkronisasi dan harmonisasi kebijakan pembangunan pertanian di Kabupaten Tegal. Bertalian dengan teknologi, Adnyana dan Kariyasa (2003) mengemukakan bahwa teknologi yang dihasilkan dikatakan berhasil apabila antara pengguna dan sumber informasi memiliki persepsi yang sama terhadap teknologi tersebut. Meskipun telah banyak dilakukan kegiatan penelitian dan pengkajian di bidang pertanian yang dihasilkan, namun masih sedikit sekali yang diadopsi para pengguna. Penyebab utama dari kondisi ini adalah akibat dari minimnya upaya untuk mengkomunikasikan hasil penelitian dan pengkajian kepada pengguna. Selain itu, kebijakan kelembagaan penyuluhan yang sering berubah sehingga jaringan informasi teknologi dari sumber teknologi pada pengguna di daerah terputus dan kurangnya pemahaman pemerintah daerah akan pentingnya informasi teknologi pertanian sebagai bahan acuan penyusunan program pembangunan pertanian di daerah. Sementara itu, Suryana (2005), menyatakan bahwa langkah mengatasi masalah kebuntuan atau kelambanan dalam penerapan inovasi teknologi yang dihasilkan secara luas oleh masyarakat pertanian sekaligus memperpendek waktu (lagperiod) yang dibutuhkan mulai dari penciptaan inovasi teknologi sampai penerapan oleh pengguna dilakukan melalui komunikasi teknologi pertanian akan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan petani, peternak yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani/nelayan beserta keluarganya. Lambatnya komunikasi inovasi teknologi pertanian antara lain disebabkan oleh belum terbangunnya sistem komunikasi yang efektif antara peneliti, penyuluh dan jarak psikologis antara petani, penyuluh dan peneliti masih cukup lebar. Kesenjangan ini dapat diatasi melalui kegiatan diseminasi seperti temu lapang, pengkajian di lahan petani dan penyediaan publikasi atau media komunikasi (cetak/elektronik). Kegiatan diseminasi hasil penelitian/pengkajian (litkaji) dapat dimaknai juga sebagai upaya scaling up hasil litkaji. Untuk itu, perlu strategi atau mekanisme yang efesien dan efektif dalam diseminasi, agar inovasi hasil penelitian/pengkajian sampai pada pengguna secara cepat dan meluas (Budianto, 2000). Kaji Terap Kaji terap tentu tidak asing lagi bagi kita, namun kaji terap ini sedikit berbeda. Lebih intensif dan cakupan tujuan lebih luas. Diharapkan lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan penyuluh dan petani serta mendiseminasikan inovasi teknologi. Kaji terap adalah salah satu metode penyuluhan pertanian yang direkomendasikan untuk dapat menciptakan iklim, peningkatan kesadaran, dan penumbuhan motivasi agar pelaku utama mau dan mampu mengaplikasikan teknologi yang dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Kaji terap memiliki pengertian yaitu uji coba teknologi yang dilakukan oleh pelaku utama untuk meyakinkan keunggulan teknologi anjuran dibandingkan teknologi yang pernah atau sebelum diterapkan atau dianjurkan kepada pelaku utama lainnya (Anonimous, 2009). Kaji terap merupakan kegiatan uji komponen teknologi pertanian sebagai wahana untuk membuktikan dan menyakinkan paket/teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan spesifik lokasi, sekaligus sebagai wahana pembelajaran bersama bagi peneliti, penyuluh, dan petani pelaku utama/usaha. Kaji terap merupakan tindak lanjut dari suatu pengkajian atau pengujian teknologi anjuran, sehingga dihasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan atau lokasi pelaku utama dan pelaku usaha pertanian. Kaji terap modifikasi ini menerapkan konsep seperti inti dan plasma, di mana terdapat satu Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) pelaksanaan kaji terap sebagai tempat pembelajaran bersama dari beberapa Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) berdekatan. Setelah pembelajaran bersama, masing-masing BPP menyebarluaskan inovasi yang diintroduksikan di wilayah BPP-nya masing-masing melalui demplot. Demplot dapat dilaksanakan dengan dua pendekatan sesuai dengan kondisi lapang: (1) dilaksanakan pada musim berikutnya setelah selesai pelaksanaan unit pembelajaran, dan (2) dilaksanakan pada musim yang sama setelah penerapan masing-masing komponen teknologi di unit pembelajaran. Tujuan dan Materi kaji Terap Kaji terap bertujuan untuk: (1) Meyakinkan inovasi teknologi pertanian adaptif sehingga sesuai dengan kebutuhan, lokasi dan kondisi sosial ekonomi pelaku utama dan pelaku usaha pertanian; (2) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penyuluh pertanian, pelaku utama dan pelaku usaha pertanian; dan (3) Mempercepat adopsi inovasi teknologi pertanian oleh pelaku utama dan pelaku usaha pertanian. (4) Selain itu, kaji terap modifikasi ini juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan penyuluh dalam merancang pengkajian/pengujian, mengambil data, mengolah data dan menyajikan hasil kaji terap dalam bentuk karya tulis ilmiah (KTI). Sehingga melalui kaji terap, para penyuluh lapang dapat membuat KTI sebagai bahan angka kredit untuk kenaikan jabatan fungsional. Materi kaji terap adalah komponen atau paket teknologi yang dibutuhkan oleh petani pelaku utama dan pelaku usaha untuk meningkatkan kinerja usahatani agar memberikan dampak yang luas dalam mendukung program strategis Kementrian Pertanian dan program pembangunan pertanian di Kabupaten Tegal. Kegiatan kaji terap ini juga mendemonstrasikan keunggulan inovasi teknologi pertanian yang diintroduksikan. Tahapan dan Cara Pelaksanaan Kaji Terap Persiapan kaji terap dilakukan dengan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait (pejabat dinas teknis, koordinator BPP, Penyuluh Pertanian Swadaya, dan petani pelaku utama/pelaku usaha pertanian) untuk menggali permasalahan lapang dan teknologi yang dibutuhkan. Selanjutnya, dilakukan identifikasi lokasi, survei lokasi dan penentuan lokasi. Selanjutnya menentukan mekanisme pelaksanaan, waktu pelaksanaan, dan unsur yang terlibat dalam kegiatan kaji terap. Sosialisasi kaji terap yang dihadiri oleh peneliti dan penyuluh BPTP, penyuluh dari beberapa BPP terdekat, anggota kelompok tani pelaksana kaji terap, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian dan stakeholder terkait lainnya. Pengumpulan data awal kondisi eksisting dan kebutuhan inovasi teknologi dengan mewawancarai penyuluh dan anggota kelompok tani secara perorangan sebanyak 20-30 orang. Pertemuan penyusunan rancangan kaji terap yang diikuti oleh penyuluh dan pengurus kelompok tani. Saat pertemuan ditentukan judul kaji terap, perlakuan, pelaksana, pengamatan, dan analisi data. Implementasi inovasi teknologi sesuai dengan rangcangan yang telah disusun bersama. Minimal 1 (satu) unit kaji terap pada satu lokasi sebagai tempat pembelajaran bersama bagi penyuluh dari beberapa BPP terdekat dan anggota kelompoktani pelaksana kaji terap. Luas kaji terap tergantung komoditas dan dana yang tersedia. Selama implementasi kaji terap, dilakukan pertemuan pendampingan penerapan teknologi secara periodik sekaligus dalam rangka sosialisasi komponen teknologi yang diintroduksikan. Melaksanakan bimbingan teknis (bimtek) pengambilan data, pengolahan dan analisis data, penyajian data, penyusunan karya tulis ilmiah untuk penyuluh lapang peserta kaji terap yang terdiri dari beberapa BPP. Melaksanakan temu lapang dan pengambilan ubinan pada saat panen yang dihadiri oleh peneliti/penyuluh BPTP, Penyuluh Lapang dari beberapa BPP, Penyuluh Swadaya, anggota kelompok tani, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian dan stakeholder terkait lainnya. Melaksanakan penyebarluasan inovasi teknologi ke wilayah kerja masing-masing BPP yang terlibat dalam kaji terap dalam bentuk demplot pada lahan BPP atau lahan petani dengan luas sesuai dengan komoditas dan dana yang tersedia. Penanggung jawab demplot adalah koordinator BPP. Sasaran pembelajaran pada demplot adalah pelaku utama dan pelaku usaha di wilayah binaan BPP yang bersangkutan. Pelaksanaannya didampingi oleh peneliti/penyuluh BPTP. Melakukan evaluasi akhir untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan serta persepsi penyuluh maupun petani yang terlibat terhadap inovasi teknologi serta pelaksanaan kaji terap. Kemudian melakukan analisis keragaan agronomi/produktivitas dan analisis usahatani untuk meyakinkan keunggulan teknologi/komponen teknologi sebagai materi kaji terap. Kaji Terap, Metode Adaptasi Inovasi Teknologi Pertanian Tujuan pembangunan pertanian dalam meningkatkan produktivitas, kualitas dan kontinuitas hasil pertanian, khususnya tanaman pangan, diwujudkan melalui program Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani). Sementara itu, untuk mewujudkan Kostratani sebagai pusat pembangunan pertanian tingkat kecamatan, dilakukan melalui optimalisasi tugas, fungsi dan peran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dengan memanfaatkan IT untuk mencapai kedaulatan pangan nasional. Salah satu peran BPP sebagai Kostratani adalah menjadi pusat pembelajaran, di mana Penyuluh Pertanian sebagai ‘pasukan’ khususnya di BPP harus mempunyai kemampuan yang memadai dalam identifikasi dan implementasi inovasi teknologi yang sesuai diterapkan di wilayahnya. Agar dapat memilih inovasi teknologi yang efektif dan efisien diterapkan di wilayah kerjanya, semestinya perlu lebih dulu dilakukan kaji terap oleh penyuluh. Kaji terap merupakan salah satu bentuk metodologi penyuluhan. Salah satu tujuan dilaksanakannya kaji terap adalah meyakinkan inovasi teknologi pertanian adaptif sehingga sesuai kebutuhan, lokasi dan kondisi sosial ekonomi pelaku utama dan pelaku usaha pertanian. Kaji terap merupakan salah satu bentuk metode penyuluhan yang efektif dalam menyampaikan penyuluhan kepada petani. Petani dapat langsung terlibat dan membuktikan hasil penerapan sebuah inovasi teknologi. Dengan melihat langsung hasilnya, diharapkan petani akan lebih mudah dan cepat mengadopsi sebuah inovasi teknologi. Namun faktanya selama ini kegiatan kaji terap termasuk yang paling jarang dilaksanakan oleh penyuluh pertanian. Sebagian besar penyuluh beralasan belum mampu melakukannya. Pada hal selain sebagai sarana penyuluhan, hasil dari kaji terap dapat disajikan dalam bentuk karya tulis ilmiah (KTI), sehingga dapat menjadi bahan angka kredit untuk kenaikan jabatan fungsional. Namun, tidaklah mudah dapat dilakukan, butuh strategi jitu agar berhasil dengan baik. Strategi yang dapat diterapkan untuk mengefektifkan komunikasi dalam penyuluhan pertanian dapat dilakukan dengan menghindari penyebab kegagalan komunikasi, yaitu (1) komunikasi yang tidak efisien karena ketidakjelasan tujuan komunikasi, dan kebiasaan melakukan gerakan dan ucapan secara berulang-ulang yang dilakukan oleh komunikator, dan (2) salah pengertian yang disebabkan oleh perbedaan tujuan antara penyuluh dan sasarannya dan perbedaan latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial budaya penyuluh dan sasarannya (Mardikanto, 2007). Lebih lanjut dijelaskan bahwa metode kaji terap berdasarkan penilaian peternak dapat meminimumkan penyebab kegagalan komunikasi tersebut dikarenakan sifat dan karakteristik kaji terap dan pada penerapannya dilakukan oleh petani dan penyuluh. Sifat dan karakteristik kaji terap tersebut sejalan dengan Cooley dalam Mardikanto (2007), yang memberikan acuan bahwa untuk mengefektifkan komunikasi dalam penyuluhan harus memperhatikan (1) adanya kepentingan bersama, (2) pesan yang disampaikan harus merupakan pemecahan masalah sasaran, (3) komunikator meyakini keunggulan pesan yang disampaikan, dan (4) pesan yang disampaikan dapat memperbaiki mutu hidup kedua belah pihak. Bertalian dengan metode penyuluhan pertanian, metode kaji terap dapat dimasukan ke dalam salah satu metode penyuluhan partisipatif karena dalam pelaksanaan kegiatannya melibatkan petani, penyuluh dan steakholder. Menurut penilaian petani bahwa metode kaji terap sebagai metode penyuluhan partisipatif dapat diterima dan sangat sesuai bila diterapkan dalam kegiatan program penyuluhan pertanian. Kesimpulan Keberhasilan program penyuluhan dapat menggunakan metode kaji terap karena dengan kaji terap penerapan teknologi dilaksanakan bersama-sama petani, penyuluh dan steakholder sehingga benar-benar sesuai dengan kebutuhan, tidak mahal, mudah diterapkan dan dapat menggunakan bahan spesifik lokasi sehingga memberikan faktor pendorong tumbuhnya kemauan dan kemampuan petani secara parsisipatif. Referensi: Adnyana MO, dan K. Kariyasa 2003.Dampak dan Persepsi Petaniterhadap Penerapan Sistem PengelolaanTanaman Terpadu Padi Sawah. Jurnal Penelitian PertanianTanaman Pangan (25) 1:21-29. Budianto, J. 2000. Akseptabilitas teknologi pertanian bagi konsumen. Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV, Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor. Mardikanto, T. 2007. Redifinisi dan Revitalisasi Penyuluhan Pertanian. Edisi 2. Pusat Pengembangan Agronbisnis dan Perhutanan Sosial. Sukoharjo. Solo. Roswita, I. 2020. Modifikasi Metode Kaji Terap. (on line) http://sumbar.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-tek/1742-modifikasi-metode-kaji-terap diakses tanggal 16 September 2022. Rustandi, Y., & Takajaji, U. J. (2017). Evaluasi Penerapan Kaji Terap pada Penyuluhan Pembuatan Kandang Ternak Babi di Desa Dewa Jara Kecamatan Katikutana Kabupaten Sumba Tengah. Jurnal Triton, 8(2), 1-12. Suryana A. 2005, Rancangan Dasar Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (PrimaTani). Prosiding Lokakarya Nasional Prima Tani Mendukung Pengembangan KUAT di Kalimantan Barat; Kalimantan Barat. Agustus 2005. Jakarta: Badan Litbang Pertanian. hlm 1-25. Rokhlani Penyuluh Pertanian Madya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Tegal