Bengkoang atau bengkuang (Pachyrhizus erosus L) merupakan tumbuhan yang menjalar. Tanaman ini bisa bisa memiliki panjang hingga 5-6 meter dengan kebiasaan menjalar dan membelit. Bengkuang diambil umbinya dan dimanfaatkan sebagai bahan makanan, dibuat tepung, bahan baku obat dan pangan olahan lainnya. Terdapat dua varietas bengkoang yang dibudidayakan di Indonesia, yaitu verietas genjah dan badur. Varietas genjah mempunyai umur panen yang lebih cepat yaitu 4-5 bulan sedangkan varietas badur umur panennya antara 7 sampai 11 bulan Sumber : Google.com Bengkoang memiliki kulit berwarna coklat muda dan daging buah yang warnanya mendekati putih dengan kecerahan (L) 83,95. Bengkoang dibudidayakan untuk diambil umbinya. Umbi tersebut secara umum memiliki kadar air yang tinggi. Umbi juga mengandung karbohidrat, protein, vitamin dan mineral). Bengkuang merupakan tanaman ternak merambat yang dibudidayakan untuk diambil umbinya. Daun tanaman ini berbentuk majemuk dan beranak daun tiga. Bunganya tersusun dalam tandan yang panjangnya mencapai 15 hingga 25 cm. Buahnya berbulu halus, berbentuk polong dan berisi empat sampai sembilan biji. Umbi akarnya berwarna putih, berbentuk gasing, dan kulitnya mudah dikupas. Bengkoang tumbuh baik di daerah tropis, dan juga akan tumbuh di daerah tanah yang tidak berawa. Tanaman yang merambat itu dapat merambat di atas tanah atau dapat merambat ke atas teralis. Tingginya mencapai 2 sampai 6 meter dan diameter akar tunggang sekitar 5-30 cm, serta memiliki batang berbulu. Bengkoang berdaun majemuk, dengan 3 anak daun dan bertulang daun menyirip. Tanaman ini juga menghasilkan bunga dengan kelopak berwarna biru atau putih serta buah legum yang berbulu ketika muda. KARAKTERISTIK BENGKOANG Bengkoang memiliki komposisi yang bervariasi sesuai dengan jenis kultivar dan kematangan bagian tanaman. Pada bentuk umbi siap panen, bengkoang mengandung 80 – 90% air, 10 – 17% karbohidrat, 1 – 2,5% protein, 0,5 – 1% serat, 0,1 – 0,2% lemak dan vitamin C. Pada buah muda bengkoang mengandung 86% air, 10% karbohidrat, 2,6% protein, 0,9% serat, 0,3% lemak dan vitamin C. Pada bentuk benih yang sudah matang, mengandung 30% minyak/lemak, pachyrrizon, asam pachyrrizon, 0,5 – 1% rotenon dan 0,5 – 1% rotenoid. Pada bagian daun bengkuang mengandung kurang dari 0,01% rotenon dan rotenoid, tetapi pada bagian umbi tidak memiliki senyawa ini (Chooi, 2008). Selain itu Bengkoang juga mengandung banyak enzim yang menyebabkan degradasi komponen gizi dan kerusakan tekstur yang relatif cepat. Hal ini menyebabkan Bengkoang tidak bisa disimpan dalam bentuk segar pada waktu yang relatif lama. Bengkoang pada umumnya dikonsumsi dalam bentuk mentah. Dalam keadaan tersebut Bengkoang bisa berperan sebagai sumber serat dan mineral yang baik untuk tubuh. Namun demikian, masih dibutuhkan penambahan rasa manis untuk meningkatkan penerimaan konsumen. Hal tersebut bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi karbohidrat di dalamnya untuk menjadi gula sederhana Bengkuang memiliki sifat kimiawi dan fermakologis yang manis, dingin, sejuk, sehingga memiliki khasiat mendinginkan kulit. Kandungan antiseptik dalam bengkuang mampu mengatasi gatal-gatal di kulit, selain itu masker bengkuang juga mengencangkan kulit sehingga kekenyalannya dapat terjaga. Kandungan kimia dalam bengkuang adalah pachyrhizon, rotenon, vitamin B1 dan C. Tanaman bengkoang mulai bisa dipanen pada umur 4 bulan. Pemanenan dilakukan dengan cara dicabut atau digali. Budidaya bengkoang yang baik akan bisa menghasilkan 7-8 ton per hektar. Sumber : Hariati, Isni., B. T, Chairun. N dan Barus,Asil. 2012. Tanggap pertumbuhan dan produksi bengkuang terhadap beberapa dosis pupuk kalium dan jarak tanam. Jurnal Online Agroekoteknologi, 1(1), 99 – 108. https://alamtani.com/budidaya-bengkoang-organik/. https://pbftp13.wordpress.com/2014/04/06/bengkoang-pachyrhizus-erosus/ Penulis : Iman Priyadi, (Penyuluh Pertanian Balai Besar pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian) email : imanpriyadi@yahoo.co.id