Loading...

KASKADO, JENIS PENYAKIT PADA TERNAK

KASKADO, JENIS PENYAKIT PADA TERNAK
Berbagai jenis penyakit dapat menyerang hewan ternak. Penyebabnya pun bermacam-macam. Bisa dikarenakan serangan infeksius virus, bakteri, parasit, jamur, manajemen perkandangan yang kurang bagus, dan sebagainya. Bahkan, saat ini ditemukan lagi penyakit pada sapi yang disebabkan oleh prion, yaitu sejenis molekul protein yang telah berubah susunan konfigurasinya. Diantara beberapa jenis penyakit ternak ini diketahui juga dapat menular ke manusia. Bahkan sangat berbahaya sehingga bisa menimbulkan kematian. Oleh karena itu, perlu kewaspadaan terhadap jenis penyakit ini. Salah satu dari penyakit yang sering menyerang hewan ternak adalah kaskado. Kaskado atau Stephanofi lariasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing Filaria dari genus Stephanofi laria. Penyakit ini menyebabkan lesi pada kulit yang ditandai dengan alopecia dan dermatitis nodular ulseratif pada sapi, kerbau, kambing, dan hewan mamalia lainnya. Dalam banyak kasus, luka dapat muncul kembali karena obstruksi dari saluran getah bening. Penyakit ini bersifat zoonosis, akan tetapi kejadian pada manusia masih jarang ditemukan. Prelevansi Stephanofiliriasis umumnya meningkat pada saat musim hujan, yakni seiring dengan peningkatan populasi vektor. Bersamaan dengan musim hujan, aktivitas penggunaan sapi/kerbau untuk membajak sawah juga meningkat, sehingga diduga pada saat inilah kemungkinan terjadi perlakuan pada kulit akibat alat pembajak, sehingga memicu datangnya lalat vektor penyakit pada daerah kulit yang luka tersebut. Penyakit Kaskado ditularkan oleh vektor lalat, antara lain Musca sp, Stomoxys sp, Lyperosia sp, dan Haematobia sp. Di dalam tubuh vektor, mikrofilaria mengalami proses pendewasaan hingga mencapai satdium infektif (Larva stadium 3/L3 ) yang membutuhkan waktu sekitar 10-25 hari, tergantung suhu udara lingkungan. Selanjutnya, larva inaftif ini ditularkan kembali oleh vektor pada saat lalat mengisap cairan luka pada kulit hewan, selanjutnya larva tersbut berkembang menjadi cacing dewasa. Penyebaran cacing ini secara geografis di Indonesia belum diketahui secara pasti, namun yang sudah pernah ada laporan khususnya adalah di beberapa daerah Sulawesi, Kalimantan dan Jawa Tengah. Selain di Indonesia, Stephanofiliriasis yang disebabkan oleh berbagai spesies Stephanofiliria telah dilaporkan terjadi di manca Negara seperti : Amerika Serikat, Canada, India, Malaysia, Jepang, Kenya, Denmark, Jerman dan Australia. Gejala klinis Kaskado disebabkan oleh Stephanofiliria dedoesi diketahui dari luka pada kulit yang tertutup oleh keropeng dan kelihatan tebal. Pada tahap awal, kelainan kulit berupa lepuh kecil, kemudian menjadi luka yang besar. Proses ini meluas ke perifer, dan pada keadaan lanjut dapat menjadi luka dengan garis tengah mencapai 25 cm. Luka tersebut sering terdapat pada bagian atas leher, daerah punuk, gelambir, bahu, sekitar mata dan kaki. Stephanofiliria kaeli menyebabkan luka yang bersifat proliferasi di sekitar persendian tarsal dan karpal pada kaki, sendi kuku, puting susu dan kadang pada kulit telinga. Sedangkan Stephanofi lariasis pada sapi yang disebabkan oleh S. stilesi mengakibatkan lesi kulit pada bagian bawah tubuh (abdomen) dan kadang pada kulit telinga. Lesi dapat terjadi di berbagai bagian tubuh, khususnya skrotum, pelvis, leher, dan ambing. Penyakit ini diakui sebagai salah satu penyebab utama penyakit kulit ambing pada sapi. Akibat rasa sakit dan tidak nyaman oleh lesi mengakibatkan hewan stres, nafsu makan berkurang, dan berdampak pada penurunan produksi susu dan daging. Ukuran lesi umumnya proporsional sesuai dengan umur dan ukuran hewan. Hewan betina biasanya memiliki diameter lesi yang lebih besar daripada hewan jantan. Untuk pengobatan lesi kaskado agak sulit dan perlu waktu yang lama, sehingga nilai ekonomis hewan pun menurun. Senyawa organofosfat seperti trichlorphon untuk penggunaan topical cukup efektif karena cacing mengalami paralisis spastik dan mati. Obat antiparasit berspektrum luas seperti Invermectin dan Doramectin telah dilaporkan mampu mengobati Kaskado di lapangan. Pemberian Invermectin dengan dosis 200 ug/kg BB secara subkutan dan Doramectin 200 ug/kg BB dapat menyembuhkan penyakit Kaskado pada sapi perah, dengan jangka waktu penyembuhan sekitar 10 hari. Pencegahan Kaskado dilakukan pengobatan pada kulit yang luka agar tidak dihinggapi lalat. Selain itu dihindari bercampurnya sapi yang sehat dengan hewan penderita kaskado. Sedangkan pengendalian dan pemberantasan kaskado dilakukan terhadap vektornya atau tindak pengobatan pada hewan penderita untuk menghilangkan sumber penyakit. Pengendalian populasi lalat dapat dilakukan secara berkala dan teratur dengan penyemprotan insektisida antara lain dengan coumaphos 0,05-0,1 %, diazenon 0,5 % dan malathion 0,02 %. Penyemprotan atau pemberian obat dilakukan langsung pada kulit yang mengalami lesi atau luka untuk membunuh cacing. Hewan yang terkena penyakit kaskado masih boleh dipotong dan dikonsumsi dagingnya. Tentunya setelah terlebih dahulu bagian lukanya dibuang. Demikian pula dengan kulitnya. Setelah dibersihkan dari luka-luka yang ada, dapat diolah menjadi bahan makanan sesuai yang diinginkan. (Inang Sariati) Sumber : dari berbagai sumber