Upaya dalam memacu peningkatan produksi dan produktivitas di berbagai sektor pertanian, khususnya tanaman pangan Kementerian Pertanian melalui BPTP Aceh telah menyusun strategi yaitu dengan melaksanakan program upaya khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedele (Pajale) yang dikoordinasikan ke tingkat kabupaten. Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan UPSUS diperlukan media diseminasi salah satunya petunjuk teknis kegiatan Demontrasi Farm (Demfarm) sistem tanam Jarwo Super, dengan komponen teknologi yang mencakup penggunan VUB, penggunaan bahan organik pengurai biomassa, pengelolaan hama dan penyakit secara terpadu, penggunaan alat dan mesin pertanian dan penyediaan saprodi serta bahan pendukung lainnya sesuai dengan spesifik lokasi. Pada kegiatan diseminasi teknologi ini, Penyuluh Pertanian di BPP Kuala Pesisir melaksanakan Temu Lapang dengan petani, yang di hadiri oleh Kabid Penyuluhan dan Pengembangan Kelembagaan Kabupaten Nagan Raya Bapak Ir. Tabrani dan Koordinator KJF Kabupaten Nagan Raya Bapak Marjuna Usman, SP sebagai narasumber. Pada kesempatan ini petani sebagai pengguna teknologi dan narasumber dapat bertemu langsung sehingga permasalahan dilapangan dapat diselesaikan secara bersama. Kegiatan Temu lapang diikuti oleh petani sebanyak 20 orang yang terdiri dari ketua dan anggota kelompoktani perwakilan dari 5 (lima) kelompoktani padi sawah yang ada di desa Padang Rubek Kecamatan Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya. Kegiatan Demfarm Jarwo Super padi sawah bersumber dari anggaran APBA tahun 2019 yang akan dilaksanakan di Desa Padang Rubek Kecamatan Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya pada musim tanam gadu tahun 2019. Luas demfarm 1 ha, paket teknologi yang akan di aplikasikan adalah Sistem Pertanaman Jarwo Super (2:1) mengacu kepada komponen utama diantaranya : 1). Varietas unggul baru (VUB) yang digunakan adalah Inpari 42, 2). Aplikasi biodekomposer diberikan pada saat pengolahan tanah, tujuan aplikasi biodekomposer ini dapat mempercepat perombakan jerami menjadi bahan organik tanah, meningkatkan ketersediaan hara NPK, sehingga pemupukan lebih efisien dan menekan perkembangan penyakit, 3). Aplikasi pupuk hayati sebagai seed treatment dan pemupukan berimbang berdasarkan perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), 4). Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), 5). Penggunaan pestisida nabati, dan apabila menggunakan pestisida anorganik harus berdasarkan ambang kendali. Penulis : Hardik Nasutomo, S.TP (Koordinator PPL BPP Kuala Pesisir)