Tanaman buah naga (Hylocerous undatus sp) berumur panjang dan masa produktifnya bisa mencapai 15-20 tahun. Tanaman ini mulai berbuah pertama kali pada bulan ke 10 hingga 12 setelah tanam. Namun apabila ukuran bibit tanamannya lebih kecil, panen pertamanya bisa mencapai 1,5-2 tahun setelah tanam. Produksi pada panen pertama biasanya tidak langsung optimal, satu tanaman biasanya menghasilkan 1 kg buah. Dalam satu hektar terdapat 1.600 tiang penompang dan satu tiang penompang terdapat 4 tanaman, sehingga akan menghasilkan 6-7 ton buah naga sekali musim panen. Usaha budidaya buah naga yang sukses bisa menghasilkan lebih dari 50 ton buah per hektar per tahun. Oleh karena itu, petani perlu memahami jenis alat dan kegiatan-kegitan panen untuk mempermudah dan menjaga keamanan buah naga dari kebun ke tempat penampungan. Kegiatan-kegitan panen buah naga meliputi pemetikan buah, penyortiran dan klasifikasi buah, dan pengemasan buah. Jenis Alat PanenAlat yang digunakan untuk panen buah naga terdiri dari gunting pangkas ranting, keranjang panen, dan gerobag sorong. Gunting pangkas ranting harus tajam yang akan digunakan untuk memotong buah naga dari batang/cabang. Keranjang panen untuk menempatkan buah naga yang telah dipotong dari batang/cabang. Sedangkan gerobag sorong digunakan untuk mengangkut buah naga dari kebun ke tempat penampungan. Pemetikan BuahPanen merupakan rangkaian kegiatan memetik buah naga, meliputi pemilihan buah siap dipetik dan cara memetik buah. Ciri-ciri buah naga siap dipanen: 1) Kulit buah sudah berubah warna menjadi merah tua atau merah mengkilap; 2) Mahkota buah sudah mengecil; 3) Jumbai buah sudah berubah menjadi warna kemerahan; 4) Pangkal buah menguncup atau keriput; dan 5) Bentuk buah bulat besar dengan berat masing-masing buah sekitar 400-600 gram.. Adapun cara pemetikan buah naga sebagai berikut: buah naga yang siap dipetik, dipotong pada tangkainya dengan menggunakan gunting p angkas yang tajam, dilakukan hati-hati jangan sampai merusak cabang tempat atau letak buah tersebut. Ada dua letak buah naga, yaitu buah menempel pada cabang dan buah bertangkai panjang. Cara pemotongan buah yang menempel pada cabang: buah yang akan dipetik dipegang, lalu digerakan ke samping kanan-kiri atau ke atas-bawah sebelum dipotong. Penggerakan buah bertujuan untuk memperhatikan bagian buah yang mudah dipotong. Bila buah menempel rapat pada cabang atau batang maka pemotongannya dilakukan pada bagian tepi cabang di sekitar buah. Cara pemotongan buah yang bertangkai panjang lebih mudah, buah dipotong dengan menggunakan gunting yang diselipkan di antara buah dan cabang, lalu tangkai buah dipotong. Gunting yang digunakan adalah gunting pangkas ranting yang salah satu sisinya tajam. Pada saat panen, disediakan keranjang panen untuk tempat buah naga yang ditaruh di tempat teduh. Jika pemetikan sudah selesai keranjang yang berisi buah naga diangkat ke tempat penyimpanan dan segera dilakukan penyortiran. Penyortiran dan Klasifikasi Buah Penyortiran buah naga merupakan kegiatan memisahkan buah naga yang bagus (utuh dan sehat) dari buah naga yang rusak, busuk atau cacat. Lalu buah naga yang bagus diklasifikasi berdasarkan berat setiap buah, yaitu: 1) Golongan A dengan berat 400 gram keatas; 2) Golongan B dengan berat lebih 300 sampai kurang dari 400 gram; 3) Golongan C dengan berat kurang dari 300 gram. Lalu dilakukan pengemasan. Pengemasan BuahPengemasan buah merupakan kegiatan penyusunan buah dalam suatu wadah dengan tujuan untuk melindungi buah dari kerusakan fisik selama proses penyimpanan dan pengangkutan, agar kulit buah tetap utuh dan segar. Alat yang digunakan kotak karton/kardus bersekat/streroform buah. Cara pengemasannya, buah naga yang mememiliki berat buah yang sama dikemas dalam karton/kardus yang sama. Selanjutnya kemasan siap untuk disimpan atau dikirim/dipasarkan. Semoga bermanfaat. (Penulis: Susilo Astuti Handayani – Penyuluh Pertanian Pusluhtan) Sumber Informasi:1. Daniel Kristanto. 2008. Buah Naga, Pembudidayaan di Pot dan di Kebun. Penebar Swadaya. 2. Anonim, 2003. Menanam Dragon Fruit/Buah Naga. MIM Mojokerto. 3. Hasil Kajian dan Pengalaman di Lapangan oleh Pemuda Tani Sukoharjo dan Petani Mitra