Loading...

Kelayakan Usaha Tani Ubi Kayu Sistem Mukibat

Kelayakan Usaha Tani Ubi Kayu Sistem Mukibat
Budidaya ubi kayu yang biasa dilakukan adalah dengan sistem setek yaitu perbanyakan bibit dengan setek batang dari batang panenan sebelumnya. Budidaya ubi kayu dengan sistem sambung (mukibat) yaitu menyambung batang bawah ubi kayu dengan batang atas ketela karet (Manihot glasiovil).. Hasil penelitian menujukan bahwa: 1) dengan pemeliharaan intensif dan di penen pada umur 1,5 tahun hasil ubi kayu sistem mukibat dapat mencapai lebih dari 100 kg/pohon; 2) budidaya ubi kayu sistem mukibat dapat meningkatkan produktivitas menjadi lebih dari 100%. Untuk mengetahui kelayakan usaha tani ubi kayu dengan sistem mukibat tersebut, telah dilakukan survei di Kabupaten Banyuwangi-Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Gunung Kidul- Provinsi DI Yogyakarta dan Kabupaten Lampung Tengah-Provinsi lampung Dari kegiatan survei diperoleh informasi sbb. Kabupaten Banyuwangi-Provinsi Jawa Timur Ubi kayu yang ditanam ada dua jenis, yaitu kuning krantil dan kuning biasa. Varietas kuning biasa mempunyai ciri-ciri: 1) sangat cocok untuk lahan yang tidak berpenyakit; 2) daging umbi berwarna kuning, sesuai untuk bahan baku keripik dan tape; 3) rasa tidak pahit; 4) produkvitas tinggi. Sedangkan varietas kuning krantil memiliki kelebihan: 1) tahan terhadap penyakit; 2) produktivitas lebih tinggi dibandingkan varietas kuning biasa. Petani umumnya menggunakan varietas kuning biasa sebagai batang bawah karena lahan cukup subur. Jarak tanam 150 cm x 150 cm dengan populasi rata-rata 4.475 pohon/ha. Untuk mempercepat pertumbuhan, petani melakukan pemupukan sebayak dua kali, yaitu pada umur 2,5 bulan dan 7 bulan, masing-masing dengan urea 3,25 ku/ha dan 3,5 ku/ha. Panen dilakukan pada umur ubi kayu 12 bulan. Total biaya produksi Rp 8.116.000/ha, 72,3 % digunakan untuk biaya tenaga kerja. Harga ubi kayu sistm mukibat rata-rata sebesar Rp 550 - 600 per kg, bahkan harga ubi kayu sistem sambung super (ubi kayu terpilih, bentuk umbi lurus dan besar) dapat mencapai Rp 800/kg, lebih tinggi dari harga ubi kayu biasa (sistem tanam dengan stek) yang berkisar Rp 300 - Rp 350 per kg. Hasil panen ubi kayu dengan sistem mukibat yang diperoleh petani sebesar 50 - 60 ton/ha.. Dengan harga Rp 550/kg, maka penerimaan petani mencapai Rp 32.450.000 dengan keuntungan Rp 24.334.000/ha Kabupaten Wonogiri - Provinsi DI Yogyakarta Ubi kayu dengan sistem mukibat ditanam dengan jarak tanam 150 cm x 100 cm, sehingga populasinya sekitar 4.500 pohon/ha. Sebagai batang bawah digunakan ubi kayu varietas UJ5. Pemberian pupuk kandang 2 kg/pohon, urea, NPK dan KCL masing-masing 8 gram/pohon. Biaya pembelian bibit, pupuk, dan upah tenaga kerja mulai dari olah tanah hingga panen ditanggung perusahaan. Di tingkat petani, ubi kayu di tanam dengan sistem biasa dengan varietas UJ5 yang ditumpang sarikan dengan kacang tanah varietas lokal, digunakan sebagai pembanding. Ubi kayu dengan sistem biasa ditanam dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm, dengan kebutuhan bibit 20.000 stek/ha. Kebutuhan bibit kacang tanah 40 kg/ha, ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 10 cm. Pemberian pupuk kandang 1.500 kg/ha, urea 50 kg/ha, dan 50 kg/ha NPK, dilakukan pada umur 7 hari dengan cara ditabur. Penyiangan dua kali pada umur 14 dan 120 hari setelah tanam. Biaya input yang dibutuhkan dalam usaha tani ubi kayu sistem mukibat (dengan bantuan perusahaan) adalah Rp 3.673.000/ha, dan biaya tenaga kerja Rp 2.700.000/ha. Ubi kayu sistem mukibat ini dapat hasilkan umbi rata-rata 15-17 kg/pohon. Penerimaan petani Rp 4.800.000/ha, karena hanya 1/3 bagian (24 ton/ha dengan harga Rp 200/kg) yang diterima petani. Dibandingkan dengan pola tanam petani, maka usaha tani ubi kayu sistem mukibat masih lebih menguntungkan. Biaya input dalam usaha tani ubi kayu sistem biasa yang ditumpangsarikan dengan kacang tanah adalah Rp 1.200.000/ha dan biaya tenaga kerja Rp 3.510.000/ha. Total biaya dengan pola tanam petani lebih rendah 26% disbanding usaha tani ubi kayu sistem mukibat. Salah sebabnya adalah karena tidak adanya biaya untuk panen ubi kayu maupun kacang tanah. Panen dilakukan dengan cara "sayan" atau gotong royong dengan pemilik ternak tanpa memberi upah. Hasil kacang tanah yang diperoleh petani 960 kg/ha dan ubi kayu 22.500 kg/ha, sehingga total penerimaan petani Rp. 5.460.000/ha. Kabupaten Lampung Tengah - Provinsi Lampung Varietas yang digunakan sebagai batang bawah adalah UJ-5, jarak tanam 1,5 m x 1,25 m, dengan populasi 4.500 pohon/ha. Pupuk diberikan pada saat tanaman berupa 300 kg/h NPK, dan pada umur 4 bulan setelah tanam diberikan 50 kg urea, 50 kg TSP dan 50 kg KCl/ha. Agar tanaman tidak roboh maka dilakukan pemangkasan pada umur tiga bulan. Kegiatan ini dimaksudkan agar kanopii daun cepat melebar dan saling mengait, sehingga penyangggan batang haya dilakukan rata-rata -rata 30 % per ha. Panen dilakukan bila tanaman telah berumiur 12 bulan. Hasil ubi kayu sistem mukibat rata-rata 14kg /batang, sehingga total hasil mencapai 59.850 kg/ha Pembibitan dilakukan sendiri (tidak beli), hanya membayar biaya penyambungan RP 300/bibit, bila membeli harga Rp 700/bibit. Pembelian bibit Rp 1.350.000/ha, 221% lebih tinggi dari pada pembelian bibit ubi kayu biasa. Total biaya yang diperlukan untuk usaha tani sistem mukibat adalah Rp 10.602.250 per ha yang terdiri dari 38% sarana produksi dan 62% biaya tenaga kerja, sebanyak 48% dari total biaya produksi digunakan untuk biaya panen (ongkos cabut dan transportasi) Hasil ubi kayu sistem mukibat 59.850 kg/ha, 81,9% lebih tinggi dari sistem biasa (32.900 kg/ha). Dengan harga umbi Rp 550/kg, petani memperoleh penerimaan Rp 32.917.500 dan keuntungan Rp 22.315.250/ha atau 54,9% lebih tinggi dibanding keuntungan yang diterima patani ubi kayu sistem biasa. Kesimpulan ? Kelayakan usaha tani ubi kayu sistem mukibat beragam, ditentukan oleh tingkat pengelolaan tanaman, biaya produksi, dan hasil umbi yang diperoleh. ? Budidaya ubi kayu sistem mukibat layak dikembangkan di lokasi penelitian/survei karena proroduktivitasnya mencapai 59 - 72 ton/ha ? Bantuan permodalan, kerjasama kemitraan plasma inti, dan fasilitasi dari pemerintah sangat diharapkan petani agar dapat melakukan usahatani ubi kayu dengan baik yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan petani Sumber : Inovasi Teknologi Berbasis Ketahanan Pangan Berkelanjutan, Prosiding Seminar Nasional Tanaman Pangan, Buku 3, Pusat Penelitian Pengembangan Tanaman Pangan, Balitbangtan 2012 . Penulis : Marwati (Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan PPSDMP, Kementan