Loading...

Kelembagaan Ekonomi Koperasi bagi petani Tebu

Kelembagaan Ekonomi Koperasi bagi petani Tebu
Pembinaan dan pemberdayaan pelaku utama dan pelaku usaha dilakukan melalui pendekatan kelompok sebagai organisasi non formal yang merupakan kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi. Pemberdayaan dilakukan agar pelaku utama dan pelaku usaha yang umumnya memiliki skala usaha kecil dapat bekerjasama meningkatkan usahanya menjadi lebih besar dan menjadi efisien. Bentuk organisasi pelaku utama dan pelaku usaha didorong menjadi organisasi formal yang berbadan hukum. Bentuk organisasi dapat berupa kelembagaan usaha yang berbentuk korporasi antara lain koperasi pertanian (Koptan) dan perseroan terbatas (PT). Organisasi pelaku utama dan pelaku usaha yang berbadan hukum akan meningkatkan kepercayaan pihak lain selaku mitra usaha dan meningkatkan akses terhadap lembaga keuangan/perbankan, lembaga penyedia layanan agribisnis lainnya. Manfaat Koperasi bagi Petani Tebu Keberadaan koperasi sebenarnya sangat dibutuhkan oleh para petani, terutama yang berkaitan dengan penguatan modal usaha. Pengusahaan tebu membutuhkan dana/modal yang tidak sedikit untuk pengelolaannya. Dana tersebut darimana lagi kalau bukan berupa dana kredit atau dana bantuan dari pemerintah yang dikucurkan melalui koperasi. Begitu pula dengan penyediaan sarana produksi, beberapa koperasi menyediakan sarana produksi bagi anggotanya dimana biayanya dapat diselesaikan setelah selesai musim giling/panen. Koperasi juga dapat terlibat dalam pendistribusian gula impor. Hal ini dimaksudkan untuk membantu kelancaran ketersediaan gula, terutama di daerah yang kerap mengalami kekurangan pasokan bahan pemanis tersebut. Keterlibatan koperasi dalam pendistribusian gula impor juga diharapkan dapat memperlancar distribusi gula sampai ke konsumen, terutama di daerah-daerah tertentu yang selama ini sering kekurangan dan menyebabkan harga gula di daerah tersebut sering melambung tinggi. Hal-hal yang perlu diperhatikan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan koperasi agar lebih maju menghadapi tantangan ekonomi antara lain: Kelembagaan. Kelembagaan koperasi secara garis besar terdiri dari fungsi pengurus, fungsi pengawas, dan fungsi manajer serta karyawan koperasi. Namun dalam pelaksanaannya fungsi-fungsi tersebut sering tumpang tindih. Ada hal yang tidak jelas dan terkait satu sama lain dalam pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut. Akhirnya yang terjadi adalah penyalahgunaan wewenang. Sumber daya Manusia. Sebagai badan usaha yang berbasis masyarakat golongan ekonomi lemah, permasalahan umum yang terjadi pada koperasi adalah keterbatasan dan kelemahan sumberdaya manusianya. Tenaga pengelola biasanya hanya mengandalkan semangat pengabdian bukan profesionalisme. Oleh karena itu, untuk meningkatkan SDM perlu diadakan pelatihan intensif atau kursus singkat bagi peningkatan profesionalitas pengelola koperasi. Permodalan. Selama ini, koperasi menjadi anak tiri dalam perekonomian Indonesia. Perbankan lebih mengutamakan pengucuran kredit untuk para pengusaha. Kedepan diharapkan alokasi kredit bagi koperasi dapat diperbesar dan dipermudah memperoleh pinjaman modal dari perbankan. Peran Penyuluh Pertanian Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi penyuluh pertanian, maka pembinaan petani pekebun khususnya petani tebu sebaiknya tetap dilakukan dengan pendekatan kelompok baik dari segi teknis maupun non teknis. Secara teknis petani tebu yang tergabung dalam keanggotaan koperasi diharapkan melaksanakan teknis budidaya secara taat azas. Mereka diharapkan tidak mengalami kendala dalam memperoleh modal dan sarana produksi untuk pertanamannya. Segi non teknis yang dapat dilakukan dalam pendampingan bagi petani tebu yang menjadi pengurus koperasi, adalah menghimbau agar mempunyai komitmen dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Untuk meraih sukses dalam menyalurkan kredit dan sarana produksi, juga memerlukan kerja keras dan komitmen dari anggota koperasi untuk tetap berjalan pada relnya. Perjuangan dan keseriusan dari pihak pengurus koperasi dalam menemukan inovasi dan terobosan agar anggotanya mempunyai komitmen, kedisiplinan dalam mengembalikan dana yang dipinjam adalah salah satu kunci sukses yang bisa membangkitkan peran koperasi terhadap masyarakat, khususnya petani tebu. Sumber: (1) Muslimin Nasution, Koperasi Menjawab Kondisi Ekonomi Nasional, Pusat Informasi Perkoperasian, 2008; (2) Sugar Observer, Ketika Tebu Mulai Berbunga, 2005(Shalimar Andaya Nia)