Besarnya menyerupai ukuran telapak tangan dewasa, 5,5-6,5 cm, jika ditimbang dalam satu kilo hanya dapat menampung 2 umbi. Bentuknya oval dengan warna kulit kuning dan daging yang putih. Itulah ciri fisik dari kentang Medians yang dihasilkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) dengan Inventor utama Kusmana,SP. Kentang Medians merupakan salah satu kentang industri hasil persilangan dengan salah satu tetua yakni varietas Atlantic. Kenggulan yang cukup menggiurkan bagi petani yakni potensi produksi mencapai 31,9 ton/Ha ditambah dengan daya simpan yang cukup lama, 50-70 hari setelah panen pada kondisi tidak terkena cahaya matahari langsung dan pada suhu kamar (200C -2700C). Varietas Medians dapat menjadi rival kentang industry lainnya seperti Atlantic karena kandungan pati/karbohidrat, gula reduksi, kadar air, serta spesific gravity yang lebih unggul dan paling sesuai sebagai bahan baku kripik kentang. Jika dibuat kripik maka produkyang dihasilkan memiliki rendemen hasil yang tinggi, hal ini dapat disebabkan kandungan airnya yang sedikit sehingga sangat efisien dalam penggunaan minyak goreng.Keunggulan kentang Medians inilah yang menjadi alasan Papandayan & Cikuray Farm Terus produksi benih dan produk kentang di tengah-tengah harga kentang yang turun drastis karena produksi melimpah. Hal yang menarik bahwa harga Medians tetap stabil. Sebelumnya petani kentang mulai meninggalkan produksi kentang industri karena sulitnya memasarkan tanpa kontrak penjualan dari industri olahan. Industri olahan cenderung akan lebih memilih membeli kentang yang lebih murah, namun dengan kejadian anjloknya harga kentang tersebut, pada akhirnya petani mulai melirik kembali keberadaan Medians sebagai kentang industri, ujar Khudori, Direktur Papandayan & Cikuray Farm saat ditemui dalam verifikasi mitra lisensi Balitbangtan, Kamis, 21 Februari 2019.Bersama Tim KSPHPP Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslitbanghorti), perwakilan Inventor dari Balai Peneltian tanaman Sayuran (Balitsa), dan dari Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian (BPATP), dilakukan verifikasi guna mengumpulkan kendala dan rencana pengembangan di tahun mendatang serta menghitung nilai royalti dari mitra.Hingga saat ini, Papandayan & Cikuray Farm terus produksi benih Medians dalam bentuk benih dasar dan setek. Sebagian besar penjualan memang untuk digunakan sendiri bersama petani binaanya, namun permintaan dari luar dan daerah lain pun terus berdatangan meski tidak banyak. Kejadian kondisi alam yang sebelumnya dialami diakhir tahun 2017, mengharuskan Chudori membenahi kembali sumberdaya yang dimiliki sepanjang tahun 2018 sembari terus produksi. Harapannya perusahaan dapat terus melanjutkan proses produksi yang lebih optimal di tahun 2019 ini. Apalagi Kementerian Pertanian telah menargetkan Swasembada Kentang tahun 2020, maka Chudori menaruh asa usaha petani lokal yang terus mengembangkan teknologi anak negeri dapat lebih berpeluang memperoleh perhatian lebih besar lagi dari pemerintah.(Mb)Penulis : Tedi Parmana, SP (PP. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Merangin)Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/info-teknologi/3503/