Loading...

KETAHANAN PANGAN MELALUI PEMBERDAYAAN PEKARANGAN

KETAHANAN PANGAN  MELALUI PEMBERDAYAAN PEKARANGAN
Covid-19 telah merusak tatanan kehidupan sosial bermasyarakat, di antaranya hilangnya kepercayaan terhadap orang di sekitar kita, rasa saling curiga menyebabkan penerapan social distancing secara naluri, hilangnya tata krama saling jabat tangan yang telah dibangun selama ini karena virus ini bisa berpindah melalui sentuhan. Bahkan saat pemerintah telah menerepkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PPBB) dengan tujuan agar rantai kehidupan virus corona dapat terputus. Penerapan PPBB melalui pembatasan kerumunan orang, pemberlakuan social distancing atau jaga jarak sosial ditempat umum termasuk di pasar akan mengakibatkan berkurangnya pengunjung pasar, penjualan tidak sesuai harapan, akibatnya para pedagang banyak yang gulung tikar termasuk pedagang bahan pangan. Inilah yang ditakutkan para ibu rumah tangga, jika tidak ada bahan pangan bagaimana cara memenuhi kebutuhan makanan sehat bagi keluarga. Tambah lagi saat ini berbagai negara telah melakukan penutupan/Lockdown untuk mencegah penyebaran covid 19. Hal ini mengakibatkan komoditas impor kedepan akan sulit didapat, karena setiap negara akan berkonsentrasi mengamankan kecukupan pangan negaranya. Tidak ada yang bisa menebak sampai kapan pandemic covid 19 akan berlangsung. Sebagian besar negara pengekspor pangan, telah menutup ekspor keluar negeri seperti gandum, gula putih, daging dan bawang putih, untuk memenuhi kebutuhan negaranya sendiri di tengah covid 19. Untuk itu perlunya gerakan meningkatkan ketahanan pangan melalui pemberdayaan pekarangan ditengah dampak pandemi virus covid-19 Pemberdayaan pekarangan dilakukan dengan memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah melalui kreasi tanaman. Banyak teknologi tepat guna pertanian yang dapat diterapkan, mulai dari teknik tabulampot, aerophonik, dan juga teknologi hidroponik. Hal ini dapat membatu menciptakan ketahanan pangan di keluarga, terutama disaat pandemic covid-19, tentunya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan masyarakat. Menananam sayur di di pekarangan dapat dilakukan untuk menyiasati kebutuhan sayuran bagi keluarga tanpa harus membeli, dapat memetik dari halaman rumah sendiri, dapat dimulai dengan memenuhi kebutuhan sayuran sehari-hari dengan cara produksi sendiri. Selain dengan cara konvensional, penanaman sayur dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi hidroponik. Teknologi ini dapat menjadi pilihan untuk menyangga ketahanan pangan keluarga akibat semakin menyempitnya lahan pertanian, Hidroponik bisa dikembangkan menjadi Kebun Sayur Keluarga, bahkan tidak mustahil menjadi pemberdayaan ekonomi keluarga. Ditengah pandemic Covid 19, Amerika Serikat mulai menutup kran ekspor gandumnya ke luar negeri. Saatnya kita menggerakkan pangan lokal sebagai sumber karbohidrat untuk menggantikan/ mensubtitusi tepung terigu melalui ubi kayu, ubi jalar unggu, umbi garut, ganyong dan sukun yang dapat ditanam di lahan pekarangan Ubi jalar ungu mempunyai keunggulan dibandingkan gandum karena mengandung antosianin sebagai antioksidan dalam meningkatkan daya tahan tubuh seperti ubi jalar varietas Antin 1, Antin 2 dan Antin 3. Begitu juga dengan umbi garut memiliki kandungan nutrisi diantaranya vitamin B kompleks, seperti niacin, thiamin, pirindoksin, asam pantotenat dan riblovin. Selain berfungsi sebagai penahan lapar, umbi garut juga bermanfaat bagi kesehatan karena dapat berfungsi sebagai pengental dan pengenyal makanan serta mempunyai indeks glikemiks yang rendah (14) dibanding umbi-umbi lain yang sejenis seperti gembili (90) dan kimpul (95). Pangan lokal lain yang dapat ditanam dilahan pekarangan serta menjadi andalan di tengah pandemik Covid 19 adalah empon-empon. Sebagai salah satu warisan nenek moyang, empon–empon seperti jahe, kunyit temu lawak, serai, jahe, secang, asam jawa juga efektif mencegah covid 19. Jahe mengandung senyawa zingirona, gingerol, dan zingiberol bermanfaat untuk mengatasi batuk, membangkitkan nafsu makan, mengatasi mulas dan sebagai obat gatal. Temu lawak merupakan tanaman endemik asli Indonesia yang mengandung senyawa kimia yang dibutuhkan tubuh diantaranya turmerol , fellandrean dan kurkuminoid yang berfungsi sebagai anti radang, menetralkan racun serta menurunkan kolesterol. Kunyit mempunyai khasiat sebagai ramuan anti peradangan tubuh mengobati asam lambung, mengurangi produksi gas pada pencernakan serta meredakan diare sehingga dapat digunakan sebagai penangkal covid 19. Konsumsi pangan melalui pemberdayaan pekarangan memiliki keuntungan diantaranya produk lebih segar; lebih aman dari kontaminasi zat berbahaya; tingkat risiko kerusakannya yang kecil; serta dapat mendukung berkembangnya ekonomi keluarga. Penulis: Sri Mulyani, Pusat Penyuluhan BPPSDMP Sumber: Satria,A. 2020. Momentum Kemandirian Pangan, Opini KOMPAS 9 Mei 2020. http://cybex.pertanian.go.id/artikel/92541/mentan-sapa-petani-penyuluh--pangan-lokal-lawan-covid-19-/