Negara Indonesia sebagai negara agraris menyimpan potensi besar yang dapat dikembangkan melalui komoditas tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perkebunan. Sejak dahulu kala, berbagai tanaman perkebunan seperti cengkeh, pala, dan lada sudah diperdagangkan dalam perdagangan domestik maupun internasional. Perdagangan lada Indonesia dikenal dengan 2 jenis, yaitu: (1) lada putih atau muntok white pepper yang berasal dari propinsi Bangka Belitung dan lampung black pepper yang berasal dari propinsi Lampung. Adapun daerah lainnya yang menjadi lokasi produksi lada adalah propinsi Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan. Produksi lada negara Indonesia tahun 2016 mencapai 82,17 ribu ton. Volume impor lada mengalami penurunan dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Negara-negara penghasil lada di Asia Tenggara adalah: Indonesia, Vietnam dan Malaysia. Indonesia merupakan negara yang memiliki luas tanam terbesar dengan jumlah 74,61 persen. Namun untuk tingkat produktivitas negara Kamboja memilki tingkat produktivitas tertinggi dibandingkan negara lain yaitu sebesar 6,193 Kg/Ha. Selanjutnya disusul negara lainnya yaitu Thailand (3,271 Kg/Ha), Vietnam (3,182 Kg/Ha), Malaysia (2,221 Kg/Ha), Philipina (1,758 Kg/Ha), Indonesia (474 Kg/Ha). Untuk dapat mengembalikan kejayaan lada Indonesia membutuhkan petani-petani yang memiliki motivasi tinggi dalam berusahatani. Petani dapat meningkatkan kemampuannya bila menggunakan inovasi teknologi. Penyuluhan kepada petani dan kelompok tani untuk menggunakan inovasi teknologi harus menempatkan petani sebagai subjek. Untuk itu keterlibatan aktif petani memberikan tempat dan kedudukan petani bukan sebagai penerima hasil yang pasif. Untuk itu, petani lada harus ditingkatkan motivasi dalam berusahatani. Untuk dapat meningkatkan motivasi petani lada dalam berusaha tani perlu dilakukan identifikasi oleh para penyuluh terkait motif petani dalam melakukan budidaya. Identifikasi petani dapat dilakukan dengan menilai indikator-indikator yang terdapat dalam diri petani. Adapun indikator yang dinilai sebagai berikut; Pertama, keinginan petani meningkatkan pendapatan dari usahatani yang dilaksanakannya. Hal ini penting sebab ada petani yang melakukan budidaya lada tidak intensif disebabkan tanaman lada bukan satu-satunya tanaman yang diusahakan. Hal lainnya disebabkan petani memiliki kepemilikan lahan yang cukup luas sehingga kurang perhatian terhadap kondisi pertanaman. Lahan yang luas dan keterbatasan tenaga petani dapat membuat motivasi petani dalam melaksanakan budidaya kurang. Kedua, kesediaan petani dalam merubah perilakunya dalam menerapkan inovasi teknologi baru. Beberapa petani yang tergolong dalam kelompok laggard atau late majority akan sulit menerima informasi atau pengetahun yang baru terhadap budidaya yang telah dilalukan secara bertahun-tahun. Penyuluh penting untuk mengetahui petani-petani yang dibina berada dalam kelompok yang mana sehingga penyuluhan inovasi teknologi tepat sasaran penggunanya. Ketiga, kesediaan petani meningkatkan keterampilan teknis dalam melaksanakan budidaya tanaman. Penyuluh perlu memiliki kemampuan menseleksi petani yang motivasi untuk meningkatkan keterampilannya rendah. Biasanya petani yang tergabung dalam kelompok ini dating mengikuti penyuluhan akan penggunaan inovasi teknologi disebabkan faktor lain seperti ikut-ikutan teman ataupun insentif yang terdapat ketika mengikuti penyuluhan. Keempat, kesediaan petani untuk bekerjasama dengan sesama petani maupun pihak luar petani. Petani yang ingin bekerjasama dengan petani lainnya dapat terlihat dengan ingin bergabung dalam kelompok tani. Petani terlibat aktif dalam setiap aktivitas dalam kelompom tani. Petani yang bersedia bekerjasama meyakini masalah pertaniannya dapat dipecahkan bersama-sama petani lainnya dengan cara saling bertukar pengetahuan tentang budidaya dan pascapanen komoditas yang diusahakannya. Kelima, kesediaan membantu petani lainnya yang mengalami kegagalan dalam berusahatani lada yang disebabkan faktor teknis maupun non teknis. Petani yang tergolong dalam kelompok ini memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan petani lainnya. Penyuluh dapat menggunakan petani yang tergolong dalam kelompok ini untuk membantu dalam melaksanakan penyuluhan budidaya dan pascapanen lada kepada petani lainnya sehingga dapat terpecahkan masalah yang dihadapinya. Setelah melakukan identifikasi kelima faktor yang berhubungan dengan motivasi petani lada dalam berusahatani lada maka penyuluh dapat menggolongkan petani-petani yang dibina dalam kelompok mana? Setelah itu penyuluh dapat melaksanakan penyuluhan kepada para petani tersebut sesuai dengan kelompoknya sehingga penyuluhan dapat berhasil dan inovasi teknologi dapat digunakan oleh petani. Penulis: Miskat Ramdhani/Penyuluh BBP2TP