Loading...

Komponen Teknologi Pilihan PTT Kedelai

Komponen Teknologi Pilihan PTT Kedelai
Penerapan komponen teknologi pilihan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) kedelai disesuaikan dengan kondisi, kemauan, dan kemampuan petani setempat. Komponen teknologi pilihan meliputi:1. Penyiapan lahana. Pengolahan tanah tidak diperlukan jika kedelai ditanam di lahan sawah bekas tanaman padi, jerami dapat digunakan sebagai mulsa;b. Mulsa berguna untuk menjaga kelembaban tanah, mengurangi serangan lalat kacang dan menekan pertumbuhan gulma;c. Pengolahan tanah di lahan kering perlu optimal, dengan dua kali bijak dan satu kali garu (diratakan); dand. Gulma atau sisa tanaman dibersihkan pada saat pengolahan tanah.2. Pemupukan sesuai kebutuhana. Takaran pupuk berbeda untuk setiap jenis tanah, berikan berdasarkan hasil analisis tanah dan sesuai kebutuhan tanaman;b. Pupuk diberikan secara ditugal di sebelah lubang tanam atau disebar merata pada saat tanah masih lembab;c. Kedelai yang ditanam setelah padi sawah umumnya tidak memerlukan banyak pupuk;d. Penggunaan pupuk hayati seperti bakteri penambat N 2 (Rhizobium) disesuaikan dengan kebutuhan, perhatikan waktu kadaluwarsa pupuk hayati.e. Tanaman kedelai memerlukan hara yang cukup untuk dapat berproduksi tinggi, baik yang telah tersedia di tanah atau melalui pemupukan.3. Pemberian bahan organika. Bahan organik berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dn kompos (humus) merupakan unsur utama pupuk organik yang dpat berbentuk padat atau cair;b. Bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah;c. Pemberian pupuk organik dan pupuk kimia dalam bentuk dan jumlah yang tepat berperan penting untuk keberlanjutan sistem produksi kedelai.4. Amelioran pada lahan kering masama. Penggunaan amelioran ditetapkan berdasarkan tingkat kejenuhan aluminium (Al) tanah dan kandungan bahan organik tanah;b. Kejenuhan Al memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat kemasaman (pH) tanah;c. Lahan kering masam perlu diberi kapur pertanian (dolomit atau kalsit) dengan takaran: 1). Jika pH tanah 4,5 – 5,3 diberi 2,0 kapur/ha; 2). Jika pH tanah 5,3 – 5,5 diberi 1,0 kapur/ha; dan 3). Jika pH tanah 5,5 – 6,0 diberi 0,5 kapur/ha.5. Pengairan pada periode kritisa. Periode kritis tanaman kedelai terhdap kekeringan mulai pada saat pembentukan bunga hingga pengisian biji (fase reproduktif);b. Pada lahan sawah, pengairan diberikan secukupnya menjelang tanaman berbunga dan fase pengisian polong.c. Tanaman kedelai memerlukan air yang cukup selama pertumbuhannya. Pada kondisi kelebihan air dan kekeringan, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik.6. Panen dan Pascapanena. Panen yang tepat menentukan mutu biji dan benih kedelai. Panen tepat waktu dan penggunaan alat mesin untuk merontok biji akan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi;b. Panen dilakukan jika tanaman sudah masuk, atau 95% polong telah berwarna coklat dan daun berwarna kuning;c. Brangkasan kedelai segera dihamparkan dan dijemur dengan ketebalan sekitar 25 cm;d. Biji dirontok setelah brangkasan kering, secara manual atau menggunakan thresher (perhatikan kecepatan silinder perontok dan kadar air biji). Daftar Pustaka:Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Kedelai, tahun 2010 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan