Loading...

KOMPOS JERAMI

KOMPOS JERAMI
Saat ini banyak wilayah di Indonesia, termasuk Lampung Selatan sedang melaksanakan panen padi. Dari kegiatan panen tersebut, selain menghasilkan buliran gabah, tentu juga menghasilkan jerami. Selama ini jerami tidak dimanfaatkan oleh sebagian besar petani. Kebanyakan mereka membuangnya dengan cara membakar. Padahal jerami adalah salah satu bahan yang bermanfaat, antara lain dapat dibuat menjadi pupuk organik.Hasil survey dari pusat Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan, Bogor menyatakan sebagian besar tanah sawah di Indonesia memiliki kandungan C organik yang sangat rendah, yaitu kurang dari 2%. Sedangkan tanah yang subur kandungan C organik tanahnya adalah 5%. Dengan kandungan C organik yang rendah itu respon tanah terhadap pupuk kimia semakin menurun. Kesuburan (fisik dan biologi) tanah pun anjlok.Bahan organik adalah sesuatu yang utuh atau sebagian dari mahluk hidup, baik berupa kotoran maupun mahluk hidup itu sendiri yang sudah mati. Perombakan bahan organik oleh biota perombak akan menghasilkan humus yang kaya akan bahan makanan bagi makanan. Disamping itu bahan organik tanah juga dapat meningkatkan Kapasitas Tukar kation (KTK) dan mengikat beberapa unsur hara sehingga menjadi tersedia bagi tanaman. Pupuk organik juga dapat memperbaiki struktur tanah dan daya pegang air tanah. Hal ini akan memberikan respon positif terhadap kemampuan tanah menyediakan hara untuk tanaman.Demikian pentingnya pupuk organik sehingga petani sangat perlu untuk menambahkan pupuk organik ke dalam sawah mereka. Bahan organik yang melimpah di sawah adalah jerami. Selama ini petani sering membakar jerami dengan alasan kebersihan sawahnya. Padahal pupuk organik dapat dibuat dari jerami dengan biaya yang murah , tenaga yang sedikit (jerami tidak perlu dicacah dan dibalik) dan waktu yang singkat (kira-kira 4 minggu).Untuk membuat pupuk kompos jerami bahan yang dibutuhkan adalah jerami dan pelapuk (promi). Sedangkan peralatan yang dibutuhkan adalah ember, tali, cetakan dari bambu, dan plastik penutup. Cara membuatnya: Masukan air ke dalam ember. Volume air yang diperlukan kurang lebih 100 liter untuk 0.5 ton jerami. Kemudian masukan pelapuk 0,5 kg kedalam ember dan aduk sehingga tercampur merata. Siapakan cetakan bambu dan masukan jerami lapis demi lapis secara merata. Padatkan setiap lapisan dengan cara diinjak-injak. Pada tiap lapisan siramkan lerutan pelapuk secara merata. Setelah penuh buka cetakan bambu dan tutup tumpukan jerami dengan plastik. Ikat plastik dengan tali. Beri pemberat pada bagian atas plastik. Tumpukan jerami dibiarkan selama 4 minggu.Dalam masa inkubasi, selama 2 minggu, buka plastik penutup dan amati tumpukan jerami. Pengomposan berjalan baik apabila : terjadi penurunan tinggi tumpukan, jika dipegang terasa panas, tidak berbau menyegat, tidak kering dan jerami mulai melunak. Apabila tumpukan tidak panas dan jerami kering, maka tambahkan air secukupnya. Apabila berbau menyengat dan tumpukan terlalu basah, maka tancapkan bambu yang telah dilubangi untuk menambah areasi (jalannya udara), jika perlu lakukan pembalikan.Setelah 4 minggu, kompos jerami dapat dipanen, karena sudah matang. Ciri-ciri kompos yang telah matang adalah : berwarna coklat kehitam-hitaman, lunak dan mudah dihancurkan, suhu tumpukan sudah mendekati awal pengomposan, tidak berbau menyengat dan volume menyusut hingga kurang lebih setengahnya.Kompos jerami ini bisa diaplikasikan dengan cara ditebar saat pengolahan tanah atau ditebar pada jaluran penanaman. Penulis: Toto Haryanto, SP (Penyuluh Pertanian BP3K Kalianda Lam Sel) Sumber Pustaka: Balai penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor.