Luas lahan pertanian (lahan kering dan basah) di Indonesia tercatat 59,7 juta ha, sedangkan luas lahan keringnya tercatat 51,7 juta ha, ini berarti di Indonesia ada tercatat 86,24 % lahan pertanian berupa lahan kering (Mulyani A, Syarwani M. 2013). Potensi lahan kering ini, dengan sentuhan inovasi teknologi yang spesifik akan memberikan harapan untuk peningkatan produksi padi guna mencapai swasembada padi yang berkelanjutan tahun 2017. Penggunaan benih unggul padi yang sesuai dengan agroekologi merupakan salah satu faktor pengungkit produksi padi. Padi lahan kering atau padi gogo adalah padi yang diusahakan pada lahan kering yang tidak tergenang sepanjang tahun. Lahan kering umumnya memiliki topografi bergelombang hingga berbukit sehingga cocok ditanami pagi gogo. Tanaman padi gogo membutuhkan curah hujan lebih 200 mm minimal 4 bulan secara berurutan. Beberapa hambatan dalam pengembangan padi gogo adalah tingkat kesuburan lahan kering yang umumnya rendah dan didominasi oleh tanah Podzolik yang bereaksi masam dan miskin hara. Selain itu, penyakit blas yang disebabkan oleh Pyricularia oryzae juga kendala pertanaman padi gogo. Hal ini menyebabkan produksi padi gogo lebih rendah dibandingkan padi sawah. Inovasi teknologi yang dapat dengan mudah diadopsi petani adalah varietas unggul. Badan Litbang Pertanian telah melepas 36 varietas unggul padi gogo. Beberapa varietas yang telah berkembang di petani di beberapa daerah antara lain Gajah Mungkur dan Kalimutu (berumur sangat genjah dan toleran kekeringan), Way Rarem (toleran keracunan alumunium dan besi), Jati luhur (toleran naungan), dan Situ Patenggang (aromatic dan tahan blas). Varietas unggul Inbrida Padi Gogo yang selanjutnya diberi nama Inpago yaitu penamaan khusus untuk varietas inbrida padi gogo mulai dilepas sejak tahun 2010. Pada periode 2010 sampai dengan 2012, telah dilepas varietas Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7, Inpago 8 dan Inpago 9. Varietas Inpago ini merupakan varietas generasi baru yang dirakit dengan keunggulan tahan terhadap penyakit blas, toleran kekeringan dan keracunan Alumunium (Al), tekstur nasi pulen, dan potensi hasil 6 t/ha Gabah Kering Giling (GKG) dengan rata-rata hasil 4 t/ha GKG. Dengan penamaan Inpago ini, maka untuk melepas jenis varitas yang baru hanyalah tinggal memberikan penomeran saja. Dalam Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi gogo, penggunaan varietas unggul dan pergiliran varietas merupakan komponen utama. Komponen ini menjadi penting mengingat petani masih menggunakan varietas lokal setempat. Petani memilih varietas lokal karena telah beradaptasi dengan baik di daerah setempat, kualitas beras disukai, relative tahan dan toleran terhadap cekaman biotik dan abiotik, namun produksinya relative rendah dan umurnya lebih panjang. Introduksi varietas unggul baru, berperan penting dalam peningkatan produksi padi gogo. Padi gogo dapat dikembangkan pada daerah datar atau bantaran sungai, kawasan perbukitan daerah aliran sungai (DAS), dan ditumpangsarikan dengan tanaman perkebunan atau hutan tanaman industri (HTI) yang masih muda. Hasil varietas unggul padi gogo yang ditumpangsarikan dengan tanaman jati muda di kabupaten Indramayu, Jawa Barat pada Musim Hujan 2011/2012 memiliki produktivitas diatas 4 ton/ha Gabah Kering Giling (GKG). Inpago 4 dengan produktivitas 5.06 ton/ha, Inpago 5 produktivitasnya 4.55 ton/ha, Inpago 6 dengan produktivitas 4.27 ton/ha dan Inpari 13 dengan produktivitas 4.56 ton/ha. Untuk varietas Situ bagendit memiliki produktivitas 4.18 ton/ha. Pengembangan padi gogo diharapkan dapat memberikan konstribusi yang cukup besar bagi ketahanan pangan pada agroekosistem lahan kering. Varietas unggul Situ Patenggang, Limboto, Situ Bagendit, Way Larem, Jatiluhur, dan Batutegi yang dikembangkan di Cianjur- Jawa Barat melalui program Sl-PTT mampu memberi hasil rata-rata 6.47 ton/ha GKG. Dari uraian tersebut di atas, maka pengembangan padi gogo diharapkan dapat memberikan konstribusi yang cukup besar bagi ketahanan pangan pada agroekosistem lahan kering dan swasembada berkelanjutan pada tahun 2017 dapat tercapai. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Padi Untuk Rakyat Indonesia (PURI), Teknologi Bioindustri Padi Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan, 2013, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.2) Mulyani A, Syarwani M. 2013. Karakteristik dan Potensi Lahan Sub Optimal untukPengembangan Pertanian di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Lahan Sub-optimal "Intensifikasi Pengelolaan Lahan Sub-optimal dalamRangka Mendukung Kemandirian Pangan Nasional" 3) Sumber Gambar : https://www.google.com