Loading...

Kulit Buah dan Biji Markisa (Paciflora edulis) sebagai Pakan Kambing

Kulit Buah dan Biji Markisa (Paciflora edulis)  sebagai Pakan Kambing
Lahan yang sangat terbatas untuk pengembangan tanaman pakan ternak mengharuskan adanya upaya eksploratif daneksploitatif terhadap sumber bahan pakan alternatif yang potensial. Potensi bahan pakan harus menggambarkan karakter kuantitatif maupun kualitatif. Dalam konteks sistem usaha tani hortikultura, maka bahan pakan alternatif dapat berasal dari hasil sisa tanaman atau hasil samping pengolahan produk hortikultura.Semua potensi biomasa hasil sisa atau samping tanaman hortikultura membutuhkan proses penanganan sebelum digunakan pakan. Hal ini disebabkan baik oleh pola ketersediaan yang tidak merata sepanjang tahun (musiman) atau oleh karakteristik fisik maupun kimiawi bahan. Proses pengolahan dapat dilakukan secara fisik, kimiawi maupun biologis, tergantung spesifikasi bahan dan tujuan pengolahan. Pengolahan pakan dengan tujuan preservatif dapat dilakukan terhadap bahan baku yang cepat rusak atau bahan pakan yang produksinya musiman. Pengolahan fisik dapat dilakukan terhadap bahan pakan yang memiliki struktur dan tekstur yang sulit dikonsumsi. Pengolahan kimiawi bermanfaat untuk meningkatkan ketersediaan nutrisi dari bahan pakan yang mengandung unsur ligno-selulosa yang tinggi. Berbagai produk biomasa tersebut dapat digunakan sebagai pakan dasar ataupun sebagai pakan suplemen tergantung kualitas nutrisi (protein, energi, konsumsi dan kecernaan).Salah satu bahan pakan yang berasal dari limbah hortikultura adalah Kulit buah dan biji markisa yang merupakan produk samping dari industri pengolahan buah markisa segar untuk menghasilkan sari atau konsentrat markisa. Dari satu ton buah markisa segar dapat dihasilkan sebanyak 445 kg kulit buah segar dan 148 kg biji markisa (Ginting et al. 2004a). Kadar air kulit buah markisa relatif tinggi yaitu sekitar 33%, sedangkan kadar bahan organik relatif rendah yaitu sekitar 67%.Kadar serat juga tergolong tinggi, namun demikian, kulit buah markisa berpotensi sebagai sumber energi yang baik, karena mengandung lemak kasar yang relatif tinggi. Hal ini terlihat dari kandungan energi kasar yang tergolong tinggi. Kandungan protein kasar kulit buah markisa tergolong sedang yaitu sekitar 14%.Secara numerik kandungan nutrisi biji markisa terlihat lebih baik dibandingkan dengan kulit buah markisa. Sebagai sumber energi potensi biji markisa didukung oleh kandungan air yang lebih rendah, kandungan bahan organik dan lemak yang lebih tinggi serta kandungan serat yang lebih rendah. Potensi sebagai sumber protein juga lebih tinggi yaitu mencapai sekitar 24%. Selain mengandung lemak tinggi, komposisi asam lemak pada biji markisa didominasi oleh asam lemak esensial terutama linoleat yaitu 78% dari total asam lemak (Ginting et al. 2004a). Sebagai bahan baku pakan alternatif untuk mendukung produksi kambing, kulit buah markisa dapat dimanfaatkan baik sebagai komponen pakan penyusun konsentrat, sebagai komponen pakan dalam pakan komplit, ataupun sebagai pakan dasar (substitusi) dalam pakan komplit.Proses pengolahan kulit buah markisa menjadi pakan kambing pada dasarnya hanya membutuhkan prosedur dan teknologi yang relatif sederhana yaitu proses pengeringan, penggilingan dan pencampuran (blending). Dari rangkaian proses tersebut pengeringan merupakan proses yang paling kritis, karena kandungan air yang relatif tinggi. Pengeringan harus segera dilakukan untuk menghindari kerusakan bahan (pelapukan) yang akan menurunkan palatabilitas dankonsumsi. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa pengeringan menggunakan energi matahari membutuhkan waktu sekitar 2-4 hari untuk mendapatkan bahan dengan kadar air sekitar 10-12%.Proses penggilingan biji markisa dapat dipercepat dengan mencampur dengan bahan lain yang berfungsi sebagai bahan pengisi (filler). Minyak (lemak) yang keluar dari endosperm biji saat digiling membuat proses penggilingan lebih sulit namu dengan penggunaan filler, maka minyak akan langsung diserap, sehingga proses penggilingan menjadi lebih efisien. Rasio campuran biji : filler yang optimal berkisar antara 1 : 5-7.Preservasi atau pengawetan kulit buah markisa dapat juga dilakukan secara biologis dengan fermentasi anaerobik (ensilase) untuk menghasilkan produk berupa silase kulit buah markisa yang dapat disimpan didalam silo selama kurang lebih tiga bulan.Penggunaan silase kulit buah markisa sebagai komponen dalam pakan komplit juga menghasilkan pertambahan bobot badan harian (PBBH) yang relatif tinggi pada kambing (63-93g) (Krisnan dan Ginting 2005). Penggunaan tepung kulit buah markisa dalam pakan komplit menghasilkan PBBH yang lebih tinggi yaitu antara 80-105 g (Simanihuruk 2009). Taraf optimal penggunaan kulit buah markisa dalam pakan komplit adalah 45% (bahan kering) dan kulit buah markisa dapat digunakan sebagai pakan dasar untuk mensubstitusi rumput atau sumber serat lain (Simanihuruk et al. 2006). Kulit buah markisa sebagai pakan dasar dikonsumsi dengan baik oleh kambing dengan taraf kecernaan dan retensi N yang baik. Potensi kulit buah markisa dalam mensubstitusi sebagian atau seluruh hijauan dalam pakan merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan sistem produksi ternak dengan memanfaatkan kulit buah markisa sebagai salah satu komponen bahan baku pakan. (Suwarna – Penyuluh BPPSDMP) Sumber : Puslitbangnak 2014, "Nustrisi dan Pakan Kambing"