Loading...

Kunjungan dan Pelatihan Biosaka oleh Petani, Penyuluh dan POPT Kab. Bojonegoro ke Desa Bendosewu, Kec. Talun, Kab. Blitar

Kunjungan dan Pelatihan Biosaka oleh Petani, Penyuluh dan POPT Kab. Bojonegoro ke Desa Bendosewu, Kec. Talun, Kab. Blitar
Elisitor adalah molekul signal yang memacu terbentuknya metabolit sekunder di dalam kultur sel. Elisitor yang berasal dari bahan hayati disebut elisitor biotik yang meliputi polisakarida, protein, glikoprotein atau fragmen-fragmen dinding sel yang berasal dari fungi, bakteri, dan tanaman. Sedangkan elisitor abiotik adalah zat yang dihasilkan dari bahan non hayati berupa logam berat, garam anorganik, pH, cahaya, dan sebagainya. Tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Elisitor dapat menginduksi resistensi tumbuhan. Istilah elisitor diperkenalkan oleh Prof. Robert Manurung ahli ITB setelah mendapatkan informasi terkait penggunaan bahan Biosaka hasil temuan M. Anshar dari Blitar. Seperti diketahui Biosaka sebelumnya dikira semacam hormon atau katalisator yang mampu mengurangi penggunaan pupuk dan mampu melindungi tanaman dari serangan hama penyakit. Pada saat ini jajaran Kementan sedang melakukan pengkajian penggunaannya, baik mengkaji kandungan biologi bahan, maupun dilakukan pengujian lapang multi lokasi di beberapa tempat di Indonesia. Elisitor Biosaka pertama dicoba sejak tahun 2006 oleh petani dari Blitar, bernama Muhamad Anshar. Biosaka adalah bahan dari larutan tumbuhan atau rerumputan yang diketahui mampu melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit dan mampu menekan penggunaan pupuk 50-90 persen. Biosaka terdiri dari suku kata Bio dan Saka, Bio singkatan dari Biologi, dan Saka singkatan dari Soko Alam Kembali ke Alam atau dari Alam Kembali ke Alam adalah inovasi yang telah dikembangkan oleh petani dari bahan baru-terbarukan yang tersedia melimpah di alam. Elisitor Biosaka tidak menggunakan mikroba maupun proses fermentasi dalam pembuatannya dan bukan teknologi yang rumit, tapi hanya sesuatu yang sederhana sekali karena dalam membuatnya tidak menggunakan mesin, hanya dengan tangan. Dengan kesederhanaan bahan dan cara pembuatannya, namun memberikan manfaat yang besar, maka Biosaka mampu menarik minat insan pertanian dimanapun untuk menerapkan Biosaka di tempat masing-masing, termasuk menarik minat para petani, penyuluh pertanian dan POPT di Kabupaten Bojonegoro. Menindaklanjuti hal tersebut, maka pada tanggal 17 Nopember 2022 Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro melalui Bidang Sarana, Prasarana dan Perlindungan Tanaman melaksanakan kegiatan Kunjungan dan Pelatihan Biosaka ke Desa Bendosewu, Kec. Talun, Kab. Blitar. Desa Bendosewu, Kec. Talun, Kab. Blitar bukan merupakan daerah asal M. Anshar (penggagas Biosaka) tapi desa ini merupakan salah satu desa di Kab. Blitar yang telah berhasil menerapkan Biosaka dalam proses budidaya tanaman. Pada tanggal 6 September 2022, Bupati Blitar bersama dengan perwakilan dari Direktorat Serealia Dirjen Tanaman Pangan Kementan RI, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar, Forkopimcam Kecamatan Talun dan anggota kelompok tani melakukan panen raya padi hasil aplikasi Biosaka. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan pengaplikasian Biosaka diperoleh hasil panen yang lebih melimpah, tanaman padi tumbuh subur, lebat dan juga sehat. Selain itu padi yang dipanen juga lebih sehat karena Biosaka yang digunakan tidak menggunakan unsur bahan kimia. Pelatihan diikuti oleh 40 orang peserta yang terdiri dari perwakilan petani dari Kec. Dander dan Kec. Kalitidu, perwakilan penyuluh pertanian Kec. Dander dan Kec. Kalitidu, perwakilan POPT Kab. Bojonegoro dan perwakilan petugas dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Bojonegoro. Agenda pelatihan diawali dengan sambutan dari Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Talun, Ibu Pujiati dan ketua Gapoktan Karya Tani, Bapak Syaifudin – selaku tuan rumah dari pelaksanaan kegiatan pelatihan. Acara selanjutnya sambutan dari Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Bojonegoro, Bapak Zaenal Fanani. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan terima kasih karena sudah diterima dengan baik oleh tuan rumah dan berharap bahwa hasil pelatihan Biosaka bisa diterapkan oleh petani di Kabupaten Bojonegoro sehingga bisa mendongkrak produksi dan produktivitas hasil pertanian di Kabupaten Bojonegoro. Selanjutnya seluruh peserta mendapatkan penjelasan terkait pembuatan Biosaka dari Bapak Syaifudin. Setelah mendengarkan penjelasan dari beliau, seluruh peserta diajak untuk mempratekkan secara langsung pembuatan Biosaka dengan diawali mencari hijauan sebagai bahan utama pembuatan Biosaka. Hijauan bisa berasal dari bahan rerumputan dan daun tanaman berpohon yang sedang dalam pertumbuhan optimal dengan ciri-ciri yaitu daun dalam keadaan sehat, tidak terserang hama, jamur, virus dengan warna hijau segar, tidak terlalu tua atau muda. Hijauan tidak boleh dari daun berlendir dengan jumlah antara 5-20 jenis dedaunan dan mengambilnya harus dengan tangan langsung, tidak boleh menggunakan alat potong (sabit, gunting, pisau, dsb). Setelah mengumpulkan berbagai hijaun, seluruh peserta pelatihan melakukan sortasi hijauan yang telah diperoleh. Hijauan yang sudah disortasi kemudian dimasukkan dalam bak berisi air untuk selanjutnya dilakukan peremasan hijauan dalam air selama ± 20 – 30 menit atau sampai air tidak berubah warna lagi. Selama proses peremasan diupayakan mood peremas dalam kondisi yang positif (merasa senang, bahagia, ceria, dan perasaan positif lainnya). Peremasan dilakukan sampai ramuan homogen (sebenarnya hingga koheren/harmoni), disebut homogen karena menyatu antara air dengan saripati hijaun. Ciri-ciri visual bahwa biosaka disebut homogen: tidak mengendap, tidak timbul gas, tidak ada butiran, bibir permukaan membentuk pola cincin, ramuan biosaka terlihat pekat dan mengkilap, bisa berwarna hijau/biru/merah sesuai dengan warna rumput/daun yang digunakan. Bagi biosaka homogen yang sempurna bisa disimpan hingga 5 tahun. Kepekatan ramuan biosaka dapat diukur dengan menggunakan alat Total Disolved Solid (TDS), harga murah dapat dibeli di toko maupun online. Mengukur dengan TDS, pada saat sebelum dan setelah diremas, peningkatannya minimal 200 ppm dan untuk menjadi homogen sempurna di atas 500 ppm. Ukuran ini bukan satu-satunya cara untuk mengukur biosaka homogen, tetapi hanya alat bantu saja. Masih banyak alat ukur yang lain, seperti metode kinesologi. Selanjutnya ramuan biosaka disaring menggunakan alat saringan dan dimasukan ke dalam botol/jerigen menggunakan corong. Ramuan biosaka bisa langsung diaplikasikan dan sisanya dapat disimpan. Dalam pengaplikasiannya, air dicampur biosaka dimasukkan handsprayer dan penyemprotannya kabut/tidak boleh basah. Biosaka bisa diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman pangan dan hortikultura. Pada akhir kegiatan, pihak tuan rumah menyampaikan bahwa besar harapannya agar suatu saat nanti ada banyak petani di Kabupaten Bojonegoro yang memanfaatkan biosaka dalam proses budidaya tanaman pangan dan hortikultura. Oleh : Dwi Ratnaningdiyah, SP- Penyuluh Pertanian Kabupaten Bojonegoro