Loading...

Lima Faktor Keberhasilan Pengembangan Hibrida Padi

Lima Faktor Keberhasilan Pengembangan Hibrida Padi
Upaya Pemerintah untuk berswasembada beras berkelanjutan tidaklah mudah karena dihadapkan dengan berbagai masalah dan kendala. Upaya peningkatan produksi padi melalui penggunaan varietas unggul baru (VUB) merupakan salah satu langkah yang diambil oleh Pemerintah melalui Kementerian Pertanian. Dengan menggunakan VUB yaitu varietas yang memiliki daya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, toleran kekeringan, rendaman, salinitas dan suhu rendah diharapkan dapat menjadi pengungkit untuk peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas hasil persatuan luas. Perakitan varietas unggul padi terus diupayakan oleh para pemulia dalam rangka memperbaiki potensi hasil dan beberapa karakter yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan tumbuh. Strategi perakitan varietas padi telah diarahkan untuk berbagai tujuan, dan telah didukung oleh ketersediaan pilihan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang tepat, serta rekomendasi spesifik lokasi seperti yang tertuang dalam Kalender Tanam Terpadu (KATAM). Beberapa varietas padi hibrida (HIPA) dengan karakteristiknya dapat disampaikan sebagai berikut :1) Padi hibrida varietas Hipa 3, Hipa 4, dan Hipa 5 Ceva merupakan hasil rakitan Badan Litbang Pertanian yang memiliki sifat agak tahan terhadap hama Wereng Batang Coklat (WBC) biotipe 2.2) Varietas Hipa 7 agak tahan terhadap penyakit tungro, sementara varietas Hipa 8 hingga Hipa 11 agak tahan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) patotipe III-VIII.3) Varietas Hipa 12 SBU, agak tahan WBC 2 dan 3 serta agak tahan HDB III.4) Hipa 13 dan Hipa 14 SBU agak tahan WBC 2 dan agak tahan HDB III.5) Hipa Jatim 1 dan Hipa Jatim 3, merupakan varietas rentan WBC 3 dan agak rentan HDB III. Rata-rata hasil varietas Hipa Jatim 1 sebanyak 8.2 t/ha GKG sedangkan Varietas Jatim 3 sebanyak 8.5 t/ha GKG. Varietas Jatim 1 memiliki potensi hasil pada Musim Kemarau sebanyak 10.0 t/ha GKG dan pada Musim Hujan sebanyak 9.7 t/ha GKG. Sementara varietas Hipa Jatim 3 memiliki potensi hasil pada Musim Kemarau sebanyak 10.7 t/ha GKG dan pada Musim Hujan sebanyak 10.0 t/ha GKG. Dari sisi umur panen varietas Hipa Jatim 1 berumur 119 hari setelah semai (HSS), sedang Varietas Jatim 3 berumur 117 HSS.6) Varietas Hipa Jatim 2, agak rentan WBC 3 dan agak tahan HDB III. Potensi hasil varietas Hipa Jatim 2 pada Musim Kemarau sebanyak 10.9 t/ha GKG dan pada Musim Hujan sebanyak 10.7 t/ha GKG. Rata-rata hasil varietas ini sebanyak 9.3 t/ha GKG dengan umur panen 119 HSS.7) Varietas Hipa 18, merupakan varietas yang di lepas pada tahun 2013 dengan potensi hasil 10.3 t/ha GKG dan rata-rata hasil sebanyak 7.8 t/ha GKG. Varietas ini memiliki sifat agak tahan WBC1, agak tahan HDB IV, VIII, tahan blas 073, 173 dan agak tahan blas 133.8) Varietas Hipa 19, juga merupakan varietas yang di lepas pada tahun 2013 dengan potensi hasil 10.1 t/ha GKG dan rata-rata hasil sebanyak 7.8 t/ha GKG. Varietas ini memiliki sifat agak tahan WBC1, 2,3, tahan blas 033 dan agak tahan blas 073, 133,173. Varietas-varietas tersebut merupakan varietas padi hibrida yang diharapkan dapat memberikan konstribusi terhadap peningkatan produksi nasional karena dapat memberikan hasil sekitar 15-20 % lebih tinggi dibandingkan dengan varietas inbrida. Padi hibrida memang memiliki kelebihan berpotensi produksi sangat tinggi dan mempunyai kualitas beras yang pulen dan wangi, namun beberapa kelemahan yang terjadi diantaranya adalah 1) Harga benih yang mahal; 2) Petani harus membeli benih baru setiap tanam, karena benih hasil panen sebelumnya tidak dapat dipakai untuk pertanaman berikutnya; 3) Tidak setiap galur atau varietas yang dapat dijadikan sebagai tetua padi hibrida. Untuk tetua jantannya hanya terbatas pada galur atau varietas yang mempunyai gen Rf atau yang termasuk restorer saja; 4) Produksi benih rumit; dan 5) Memerlukan areal penanaman dengan syarat tumbuh tertentu.Dari kelemahan-kelemahan padi hibrida tersebut, ada lima faktor secara teknis yang perlu diperhatikan untuk keberhasilan pengembangan padi hibrida yaitu (1) penggunaan varietas yang sesuai dalam hal adaptabilitasnya termasuk ketahanan hama dan penyakit, (2) penggunaan benih bermutu, (3) teknik budidaya yang tepat, (4) penanaman pada wilayah yang sesuai, dan (5) kemampuan petani dalam menerapkan teknologi anjuran. Disamping itu, keberhasilan pengembangan padi hibrida dipengaruhi oleh dua syarat utama, yaitu kualitas varietas hibrida yang bersangkutan dan kemampuan memproduksi benih dalam skala komersial secara ekonomis. Dari uraian tersebut di atas, maka dalam mengembangkan padi hibrida harus betul-betul mempertimbangkan kelima faktor teknis dan dalam implementasinya, pengembangan padi hibrida harus diikuti oleh teknik budidaya yang tepat agar mampu memberi hasil maksimal.Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Padi Untuk Rakyat Indonesia (PURI), Teknologi Bioindustri Padi Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan, 2013, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.2) Sumber Gambar : https://www.google.com