Loading...

LIMBAH TEMBAKAU PADA PUNTUNG ROKOK SEBAGAI BIO-PESTISIDA PADA TOMAT

LIMBAH TEMBAKAU PADA PUNTUNG ROKOK SEBAGAI BIO-PESTISIDA PADA TOMAT
Tembakau banyak sekali manfaatnya apalagi daun tembakau memiliki kegunaan yang hampir tak terbatas. Tembakau ditumbuk halus, sebagai obat untuk pilek, sakit kepala, dan masalah mata. Tembakau kemudian dijual dalam bentuk daun atau olesan yang ada di pipi. Di negara-negara Asia, tembakau dikunyah dicampur dengan buah pinang dan kapur. Mengunyah tembakau sendiri direkomendasikan untuk sakit gigi, penyakit gusi, sakit di tenggorokan, dan depresi mental. Tembakau direbus dan digunakan untuk mengobati gangguan pencernaan, sakit perut dan obstruksi kemih. Abu dibakar dan dicampur dengan tembakau dengan minyak oles dapat diterapkan sebagai salep untuk ulserasi kulit, kutil, dan kanker kulit. Oleh karena itu, daun tembakau memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Limbah dari puntung rokok juga banyak kegunaannya sebagai bio-pestisida. Penggunaan pestisida kimia sintetik yang tidak rasional dapat menyebabkan pencemaran air, tanah, udara, produk pertanian, keracunan manusia/pekerja, resistensi/resurgensi hama, terbunuhnya hewan bermanfaat, perubahan status hama, dan ledakan hama. Untuk itu dirasa perlu mencari pestisida alternatif untuk mendukung pertanian yang berkelanjutan Keberadaan limbah puntung rokok belum dimanfaatkan dengan baik dan hingga saat ini hanya di buang sebagai sampah. Padahal tembakau dari limbah puntung rokok ini mempunyai potensi untuk dijadikan bio-pestisida untuk kegiatan pertanian yang ramah lingkungan. Sampah puntung rokok dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku bio­pestisida. Banyak kalangan sadar bahaya rokok bagi kesehatan, namun masih sedikit yang menyadari resiko pencemaran lingkungan akibat limbah puntung rokok. Sebagai negara agraris, Indonesia perlu meningkatkan dan mempertahankan produktivitas tanaman. Residu pestisida sering ditemukan pada lahan pertanian, sehingga dibutuhkan alternatif pembasmi hama yang dapat mengurangi risiko pencemaran lingkungan. Untuk menganalisis kualitas dan efisiensi tembakau dari puntung rokok sebagai bio-pestisidaperlu dilakukan untuk mengetahui residu pada tomat diukur instrumen Kromatografi Spektrometer-Massa (GC-MS) dan mengetahui intensitas serangan hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa Alkaloid dan Terpenoid sebagai bentuk senyawa kimia yang terkandung pada bio-pestisida. Residu bio-pestisida yang terdeteksi adalah asam heksadekanoat dan asam dodecanoik, kedua senyawa ini termasuk dalam asam lemak jenuh. Intensitas serangan hama pada tanaman tomat dengan penggunaan biopestisida pada tanaman yang terserang ulat adalah sebesar 21% termasuk dalam kategori sedang. Sedangkan untuk intensitas serangan hama pada tanaman tanpa penggunaan biopestisida adalah sebesar 69% sehingga termasuk dalam kategori serangan hama puso (paling berat). Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP) Alamat Email : harnati_r@yahoo.com Sumber Bacaan : Ditjenbun. 2015. Pedoman Teknis Pengembangan Tanaman Kementan. Jakarta http://bpatp.litbang.pertanian.go.id/balaipatp/berita/726 Sumber gambar berasal dari google.com