Loading...

LIMBAH TONGKOL JAGUNG SEBAGAI ALTERNATIF PAKAN TERNAK SAPI

LIMBAH TONGKOL JAGUNG SEBAGAI ALTERNATIF PAKAN TERNAK SAPI
Jagung termasuk tanaman yang dapat tumbuh baik di daerah tropis seperti Indonesia. Sampai saat ini, jagung lebih sering digunakan sebagai bahan pangan karena mengandung banyak karbohidrat. Bagian jagung yang paling sering dimanfaatkan adalah biji atau bulirnya, sementara tongkol jagung dibuang begitu saja dan menjadi limbah. Tongkol jagung merupakan sisa hasil pertanian yang masih memiliki kualitas yang rendah. Tongkol jagung digunakan sebagai bahan konsentrat pada pakan ternak ruminansia. Kandungan serat kasar tinggi, protein dan kecernaan rendah. Oleh karena itu, dalam pemanfaatannya sebagai bahan pakan, tongkol jagung perlu ditingkatkan kualitasnya antara lain dengan teknologi pengolahan amoniasi fermentasi (amofer) atau pembuatan silase. Upaya peningkatan kualitas tongkol jagung sebagai pakan ruminasia dapat dilakukan dengan perlakuan fisik, kimiawi, biologi atau gabungan perlakuan tersebut. Perlakuan fisik dengan pencacahan dapat digabungkan dengan perlakuan kimiawi berupa amoniasi dan perlakuan biologi yaitu fermentasi menggunakan starter mikrobia sellulolitik. Salah satu fungsi amoniasi adalah memutus ikatan lignoselulosa dan hemiselulosa serta menyediakan sumber N untuk mikrobia, sedangkan fungsi fermentasi adalah dapat menurunkan serat kasar dan sekaligus meningkatkan kecernaan bahan pakan berserat. Proses fermentasi bertujuan menurunkan kadar serat kasar, meningkatkan kecernaan dan sekaligus meningkatkan kadar protein kasar (Tampoebolon, 1997). Penggunaan teknologi amoniasi fermentasi, dapat meningkatkan kandungan protein kasar tongkol jagung dengan menurunkan kandungan serat kasar, serta meningkatkan kecernaan tongkol jagung, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif pakan yang baik untuk ternak ruminansia. Ada 3 proses Pengolahan tersebut adalah Ensilasi. Untuk proses ensilasi atau pengolahan silase tongkol jagung dilakukan dengan melembabkan tongkol jagung yang telah digiling dicampurkan dengan air sampai di dapat kadar air campuran 60 % dengan bahan kering sekitar 30 – 40 %.Lalu tongkol jagung dimasukkan dalam plastik dan dipadatkan pada kondisi kedap udara dan disimpan di temperatur ruang selama tiga minggu. Dalam proses ensilasi hanya mengubah bentuk karbohidrat yang ada di tongkol jagung menjadi asam laktat, sehingga hanya tingkat palatabilitasnya saja yang naik namun nutrisinya tidak naik. Kadar proteinnya pun hanya naik sedikit menjadi 4,4 %. Amoniasi. Lain halnya dengan proses amoniasi yang mampu meningkatkan kandungan nutrisi dari limbah tongkol jagung hingga 9 %. Proses amoniasi dilakukan dengan cara tongkol jagung digiling kemudian dilembapkan dengan air untuk mendapatkan kadar air 40 % atau 60 % bahan kering. Proses ini merupakan kebalikan dari proses ensilasi yang memanfaatkan 60 % air dan 40 % bahan kering.Air yang digunakan untuk melembabkan tongkol jagung tersebut sebelumnya telah ditambahkan urea 3 % dari bobot kering tongkol jagung. Campuran diaduk merata kemudian disimpan dalam plastik selama 3 minggu dalam keadaan kedap udara pada suhu ruangan. Setelah 3 minggu tongkol jagung dikeluarkan dari dalam plastik dan dibiarkan semalaman di udara terbuka untuk menguapkan sisa amonia yang tidak terikat dengan tongkol jagung. Sedangkan untuk proses fermentasi dilakukan dengan menggunakan kapang Aspergilus niger sebagai inokulan. Prosesnya tongkol jagung digiling dilembabkan dengan air untuk mendapatkan kadar air 50 %. Kemudian dikukus selama 30 menit pada kondisi air mendidih untuk proses sterilisasi dan didinginkan. Setelah dingin tongkol jagung dicampur dengan starter suspensi kapang sebanyak 0,5 g per 100 tongkol jagung. Masing-masing campuran diaduk sampai merata dan dimasukkan dalam loyang plastik (tray).Selanjutnya difermentasi pada suhu ruang secara aerob selama empat hari, kemudian dilakukan proses enzimatis selama dua hari dengan cara dipadatkan dalam kantong plastik dengan kondisi hampa udara. `Untuk proses fermentasi alurnya lebih panjang karena harus dikukus dulu dan memerlukan biaya yang lebih besar namun lebih ramah lingkungan ketimbang proses amoniasi,` Pengolahan limbah jagung untuk pakan ternak tersebut yaitu dengan cara mengolah tongkol jagung dengan cara di fermentasi. Tongkol jagung digiling atau cacah sehingga ukurannya menjadi lebih kecil sehingga mudah dicerna oleh ternak. Kemudian tongkol jagung giling atau cacah itu difermentasi secara aerob dengan menggunakan larutan stater (Tricoderma). Proses fermentasi berlangsung selama 3 hari dan selanjutnya tongkol jagung hasil fermentasi dapat diberikan kepada ternak. Kadar nutrisi tongkol jagung meliputi : kadar air 29,54% bahan kering 70,45% protein kasar 2,67% serat kasar 46,52% dalam 100% bahan kering (BK). Meski berpotensi pakan ternak ruminansia, hasil samping ini belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini mungkin karena kandungan proteinnya rendah (< 4,64%), sedangan lignin (15,8%) dan selulosenya tinggi.