Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT, Ir. Yohanes Tay Ruba, MM. di damping Kordinator FAO Indonesia, Stephen Rudgard, Komisi IV DPRRI, Perwakilan kementerian pertanian Timor Leste, Perwakian dari 5 provinsi ( Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah NTB dan NTT), serta perwakilan beberapa kabupaten di NTT serta tenaga ahli dari FAO Regional Asia dan Pasifik di Bangkok, membuka kegiatan lokakarya pengembangan Pertanian Konservasi ( PK ), Kamis 7 Februari 2019. Di hotel Swiss berlin Kristal Jl, Timor Raya No, 59, Kupang. Dalam sambutannya, Yohanes Tay Ruba mengatakan para peserta lokakarya Pertanian Konservasi ( PK ) untuk serius mengikuti kegiatan ini agar setelah pulang dari kegiatan ini dapat dikembangkan di daerahnya masing-masing. Anis, Mengatakan, Sistim pertanian konservasi tentu ada harapan kedepan yang pertama, Untuk kebutuhan kita sendiri, Stok pangan harus tersedia agar kedaulatan pangan di seluruh Indonesia dapat terwujud. Yang ditanam di Camplong II ini, akan di kirim ke Kota Kupang, ke Jawa atau kalau berkelebihan kita kirim ke luar negeri. . Kordinator FAO Indonesia, Stephen Rudgard dalam sambutan mengatakan FAO bekerja sama dengan Kementerian Pertanian RI mendapat dukungan dari OFDA-USAID telah bekerja sama di Provinsi NTT dalam upaya pengurangan resiko bencana bidang usahatani akibat perubahan iklim, Apa yang kita capai dalam pengembangan Pertanian Konservasi di NTT baru menjadi awal perjuangan kita.* Prinsip-prinsip Pertanian Konservasi (PK), Pengolahan tanah secara minimal, Penutupan permukaan tanah permanen baik dengan sisa-sisa tanaman maupun tanaman penutup tanah dan rotasi tanaman dengan kacang-kacangan. Teknologi ini kemudian menarik perhatian bahkan menjadi rujukan untuk dibahas serta diterapkan pada Pertanian Lahan Kering khusus untuk peningkatan produksi jagung. Dari hasil uji coba Pertanian Konservasi di Kelompok Tani Tunas Muda Camplong II Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, menghasilkan produksi jagung 5,6 ton/ha, jika dibandingkan sistim konvensional yang selama ini diterapkan oleh petani hanya 2,7 ton /ha. Terkait keinginan mengembangkan teknologi Pertanian Konservasi. Pada Rabu 6 Februari 2019 FAO melakukan Temu Lapang Berbagai Pengalaman dan Pembelajaran Pertanian Konservasi di Kelompok Tani Tunas Muda Camplong II Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang, dan dilanjutkan Lokakarya Pengembangan Pertanian Konservasi (PK) Kamis 7 Februari 2019. Di hotel Swiss berlin Kristal Jl, Timor Raya No, 59, Kupang Kegiatan ini melibatkan lintasan Kementerian , Perwkilan kementerian pertanian Timor Leste, Perwakian dri 5 provinsi ( Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah NTB dan NTT), serta perwakilan beberapa kabupaten di NTT serta tenaga ahli dari FAO Regional Asia dan Pasifik di Bangkok. bekerjasama dengan Dinas Pertanian Provinsi NTT. Oleh: Bonefasius Rangga, S.ST. Penyuluh Pertanian Provinsi NTT