Loading...

MAHKOTA DEWA (Pemanfaatan Obat Tradisionil)

MAHKOTA DEWA  	(Pemanfaatan Obat Tradisionil)
1. Obat Kita Mahkota dewa adalah tanaman obat asli Indonesia. Masuknya pengobatan modern telah menggeser penggunaan tanaman obat, sehingga hampir-hampir kita tidak mengenalnya lagi. Namun, bersamaan dengan kecenderungan dunia untuk back to nature, kitapun ikut ‘kembali ke alam' dalam bidang obat-obatan berarti kembali ketanaman obat, yang sudah secara tradisional dikenal sebagai obat asli Indonesia. Namun, seperti menjadi barang baru lagi karena pernah kita tinggalkan. Karena itu, perlu kita kita pelajari dan manfaatkan lagi. Asosiasi Pengembang Tanaman Obat Indonesia (APTOI) sangat mendukung pengembangan tanaman obat Indonesia yang memberi manfaat bagi masyarakat luas. Kita perlu mempelajari tanaman obat dengan sikap positif bahwa tanaman obat yang dimaksud, benar-benar obat yang sudah digunakan oleh nenek moyang kita secara turun-temurun. Jika digunakan secara benar, akan memberikan dampak yang baik bagi proses penyembuhan. Sebaliknya, sikap negatif yaitu sekadar memandang bahwa tanaman obat ini beracun dan belum ada uji klinisnya, akan berdampak meninggalkan tanaman obat ini sehingga kita tidak memperoleh manfaatnya. Kita sering menemui bahwa banyak makanan/minuman kita sehari-hari sering beracun, seperti kopi dan teh, yang dimakan bukan berdasarkan hasil penelitian, tetapi memperoleh manfaat yang baik tanpa akibat buruk, karena makanan kita sejak nenek moyang. Oleh karena itu, marilah kita mengenal, mempelajari, dan memanfaatkan bersama tanaman obat asli Indonesia ini. 2. Kiat Pemanfaatan Mahkota dewa bisa dimanfaatkan dalam 2 (dua) bentuk: a. Dalam bentuk tidak diolah atau dimakan langsung mentah. Pemanfaatan seperti ini sangat berbahaya. Efek sampingnya cukup serius, seperti luka-luka di bibir dan mulut, mati rasa di lidah, sampai mabuk dan keracunan. Oleh karena itu pemanfaatan dengan cara seperti ini sangat tidak dianjurkan. b. Dalam bentuk sudah diolah menjadi ramuan. Ramuan ini bisa dikombinasikan dengan ramuan dari tanaman obat lain atau dengan obat-obatan modern dari dokter, tapi bisa juga tidak dikombinasikan. Pengombinasian dengan ramuan atau obat lain ini, sangat bagus dalam upaya saling melengkapi. Dalam bentuk ramuan, mahkota dewa bisa dipergunakan untuk menyembuhkan aneka penyakit, dari penyakit ringan sampai penyakit berat. Pemakaian mahkota dewa harus dilakukan beberapa kali. Bahkan untuk penyakit berat yang sangat kronis, harus digunakan berturut-turut secara teratur. Namun, dosis yang tepat juga harus diperhatikan, karena jika over dosis maka efek yang tidak diharapkan pun bisa muncul. Dalam memakai ramuan mahkota dewa, agar penyakit bisa cepat sembuh, ada 4 hal yang mesti dilakukan: 1. Memakai ramuan mahkota dewa; 2. Meyakinkan diri sendiri, jika memakai ramuan ini, penyakit bisa sembuh; 3. Memohon kesembuhan dari Yang Maha Pengasih dengan cara berdoa; 4. Memeriksakan diri ke dokter atau para medis secara rutin. 3. Menyandingkan Terapi Pengobatan Modern dan Tradisionil Kini bukan suatu hal yang tabu jika seorang dokter ahli, selaim memberikan terapi secara modern juga merekomendasikan beberapa pasiennya untuk dikirim ke klinik pengonbatan tradisionil. Terapi pengobatan modern dan tradisionil memang bisa saling mendukung. Jika hal ini terus berlanjut, suatu saat nanti ramuan tradisionil Indonesia akan mendunia.Yang patut disyukuri, kini mulai banyak kalangan medis yang bersedia menggabungkan terapi medis modern dengan tradisionil. Kini, masyarakat sangat kritis melihat fakta yang sesungguhnya. Dari fakta yang ada, masyarakat sering kecewa setelah menjalani prosedur terapi medis. Namun pengobatan tradisionil untuk orang dewasa harus dibedakan dengan pengobatan untuk anak-anak. Menurut data dari Klinik Mahkota Dewa, memberikan terapi pengobatan tradisionil untuk anak-anak terutama bayi harus ekstra hati-hati. Secara logika dosis obat untuk anak-anak harus disesuaikan dengan umurnya, caranya adalah memberikan ramuan instan dengan madu mahkota dewa yang sudah diramu dengan aneka herbal. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian