Ada yang mendefinisikan tanaman obat sebagai tanaman yang salah satu, sebagian, atau seluruh bagiannya mengandung zat atau bahan yang berkhasiat menyembuhkan penyakit. Bagian yang dimaksud bisa daun, batang, akar, umbi, buah, atau bunga. Dari definisi ini, yang termasuk tanaman obat yang tumbuh di Indonesia ternyata setidaknya terdiri dari 940 jenis tanaman. Mahkota dewa hanyalah salah satu jenisnya. Dalam penanamannya, tanaman-tanaman obat itu bisa dibentuk menjadi suatu tanaman obat. Istilah yang populer untuk menyebut tanaman ini adalah TOGA (Tanaman obat Keluarga). TOGA ini bisa dirancang di kebun kecil, pekarangan, atau di dalam rumah. Salah satu patokan yang harus dipegang dalam merancang TOGA, terutama yang dipekarangan atau dalam rumah, adalah faktor estetika atau keindahan taman dan rumah. Jangan sampai kehadirannya justru merusak pemandangan. Untuk itu, harus ada semacam ‘ penyesuaian' antara tanaman dan benda-benda lain, seperti kolam, lampu, jalan setapak, atau kandang-kandang ‘penyesuaian' ini bersifat sangat relatif, tergantung pada selera pemilik. TOGA sangat bermanfaat bagi keluarga. Selain sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan sendiri untuk menyembuhkan aneka penyakit, hasil TOGA juga bisa dijual. Namun, minat masyarakat Indonesia dalam membuat TOGA masih kurang, penyebabnya antara lain sebagai berikut: 1. Masyarakat Indonesia terbiasa dengan hal-hal yang praktis. Harus diakui bahwa meramu TOGA membutuhkan waktu dan sedikit pengetahuan, sedangkan obat-obatan modern bersifat sangat praktis. Kepraktisan ini juga digembar-gemborkan oleh aneka media massa melalui iklan. 2. Kurangnya lahan untuk merancang TOGA. Padahal, ini bukan alasan, karena TOGA bisa dirancang (sekalipun) di atas kamar. 3. Sulitnya mendapatkan bibit-bibit tanaman obat. Memang ada beberapa tanaman obat yang bibitnya sulit didapat. Namun, banyak juga yang bibitnya sangat gampang didapat. 4. Kurangnya pemahaman akan manfaat dan cara pengolahan TOGA. Kendala ini hanya bisa diatasi dengan kesadaran sendiri untuk mencari informasi tentang manfaat dan cara mengolah atau merancang TOGA. Dilihat dari polanya, penanaman tanaman obat di TOGA, ada dua cara, yaitu: 1. Penanaman secara monokultur, yaitu satu jenis tanaman obat ditanam secara berkelompok di satu arel tanam; 2. Penanaman secara tumpang sari, yaitu beberapa jenis obat ditanam secara berbarengan di satu areal tanam. Kedua pola ini memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Salah satu kelemahan monokultur adalah adanya kesan monoton. Mahkota dewa bisa ditanam secara monokultur ataupun secara tumpang sari. Untuk menghindari kesan monoton, sebaiknya mahkota dewa ditanam secara tumpang sari. Mahkota dewa bisa ditanam dengan daun dewa, sambiloto, atau kumis kucing. Dalam penanaman di dalam pot, mahkota dewa bisa disandingkan dengan handeuleum, cengkaruk, atau keji beling. Dalam menanam mahkota dewa, kehati-hatian mutlak diperlukan. Jangan sampai tanaman ini dapat ‘dipermainkan' oleh anak kecil, terlebih anak balita, karena bisa saja buahnya dipetik lalu coba-coba dimakan. Hal ini tentu sangat berbahaya. Bibit mahkota dewa bisa diperoleh di beberapa penjual khusus bibit tanaman obat-obatan. Bibit ini bisa juga diperoleh di beberapa penjual ramuan tradisional. Harganya bervariasi, tergantung pada umur tanaman dan buah yang muncul. Makin tua tanaman, makin mahal harganya. Tanaman yang sudah berbuah juga lebih mahal daripada tanaman yang belum berbuah sekitar Rp. 40.000. Untuk yang sudah berbuah, harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian