1. Penanaman Media penanaman di pekarangan atau kebun sama dengan media untuk tanaman buah pada umumnya. Media penanaman di dalam pot adalah tanah, kompos atau pupuk kandang, pasir atau sekam dengan perbandingan 1: 1: 1. Pot yang digunakan sebaiknya berukuran diameter 30 cm dan tinggi 40 cm. Bahannya bisa dari tanah, plastik, kayu, atau kaleng. Selain memiliki kelemahan, penanaman dalam pot memiliki banyak keunggulan. Yang paling menonjol adalah penempatannya yang bisa dilakukan di mana pun. Bisa di dalam kamar, di atas kamar, di atas pagar, di atas got, atau bisa pula di atas genting. Penanaman dapat juga dilakukan secara vertikultur, yang dapat menghemat tempat. Penanaman secara vertikultur ini, di banyak negara seperti Jepang dan Cina, menyumbangkan hasil pertanian yang cukup dominan. Dalam umur 10-14 hari sejak buji disemai, daun-daun mulai tumbuh. Bunga mulai kelihatan ketika tanaman sudah berusia 8-12 bulan. Buah ini akan sangat bagus pertumbuhannya jika penyiraman dilakukan dengan rutin dan teratur, karena buah mahkota dewa memerlukan banyak air. Buah bisa dipetik saat sudah berusia 2 bulan. Saat itu, byah sudah matang. Cirinya antara lain kulit buah sudah berwarna merah marun dan berbau manis seperti aroma gula pasir. Jika sudah matang, sebaiknya buah langsung dipetik. Pemetikan jangan ditunda sebab buah bisa membusuk. Buah yang busuk kualitasnya sudah menurun. Begitu juga dengan khasiatnya. Menurut hasil penelitian, buah yang matang ataupaun mentah kandungannya sama. Hanya saja, jika akan dibuat menjadi minuman instan hendaknya gunakan buah yang benar-benar matang. Sebaliknya, untuk pengobatan sakit kanker, justru lebih baik memanfaatkan buah yang masih mentah dan hijau. 2. Pemupukan Untuk mendapatkan mahkota dewa yang berkualitas, sebaiknya hindari pemupukan dengan menggunakan pupuk anorganik, cukup gunakan pupuk organik saja. Pemakaian pupuk anorganik akan mempengaruhi kandungan kimiawi daun dan buah mahkota dewa. Pupuk organik bisa dibuat sendiri dengan cara-cara yang sederhana, seperti dengan cara berikut: 1. Membusukkan sampah rumah tangga dengan membuatkan lubang di tanah. Setelah penuh, uruk dengan tanah. Untuk mempercepat pembusukan bisa menggunakan sirup manis sebanyak tiga sendok makan. Bisa juga menggunakan sirup manis tiga sendok makan. Bisa juga menggunakan bakteri M-Bio. Berikan tanda di tempat tersebut. Dua bulan kemudian sampah tersebut bisa dijadikan pupuk. 2. Jika tanaman sudah berumur sepuluh bulan, perlu diberikan pupuk buah yang alami buatan sendiri, yakni dengan membakar sampah organik yang kering, sekam padi, atau lebih bagus lagi sampah-sampah dari daun dan ranting mahkota dewa. Pembakarannya jangan sampai semuanya menjadi abu. Jika sampah atau sekam sudah tampak membara, segera siram dengan air. Biarkan hingga dingin. Sebulan sekali, tanah disekitar tanaman didangir atau digemburkan. Taburkan sampah organik di sekitar tanaman. 3. Bisa juga memanfaatkan kepala udang atau sampah ikan dan daging yang ditanam di sekitar tanaman. Untuk menghindari semut bisa memanfaatkan biji mahkota dewa, cengkeh, dan tembakau yang dibuat tepung. 4. Keringkan tahi kambing, kotoran sapi, ayam, dan kotoran lainnya. Jika sudah tidak berbau, kotoran tersebut bagus untuk pupuk. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian