Loading...

MAHKOTA DEWA (Perlakuan Pascapanen)

MAHKOTA DEWA  (Perlakuan Pascapanen)
Setelah dipanen, setiap bagian tanaman mahkota dewa, terutama yang berkhasiat obat, mendapat perlakuan tertentu. Perlakuan yang diberikan meliputi penyortiran, pencucian, pemotongan, pengeringan, penyangraian dan perebusan. Perlakuan-perlakuan ini sebaiknya segera diberikan setelah mahkota dewa dipanen. Jangan ada penundaan waktu. Soalnya, penundaan dapat mempengaruhi keoptimalan khasiat mahkota dewa. Penyortiran berarti pemilahan bagian-bagian tanaman berkhasiat obat berdasarkan kualitasnya. Hal-hal yang dapat mempengaruhi kualitas, misalnya adalah ulat atau hama lainnya. Bagian tanaman yang dirusak ulat atau hama lainnya. Bagian tanaman yang dirusak ulat atau hama lain, sebaiknya disingkirkan saja. Hanya bagian tanaman yang bersih dan tidak dirusak yang dipilih. Setelah disortir, bagian-bagian tanaman yang terpilih dibersihkan dengan menggunakan air mengalir. Air yang digunakan tentu saja harus bersih. Sekotor apapun bagian yang dicuci, jangan gunakan deterjen atau sabun, karena keduanya mengandung bahan kimia yang dapat mempengaruhi kualitas bagian tanaman. Buah mahkota dewa ini sesudah bersih bisa langsung diangin-anginkan selama satu hari. Kemudian dijemur langsung di bawah terik sinar matahari dan sering dibolak-balik. Pengeringan buah mahkota dewa secara utuh memang agak sulit, tetapi mempermudah pengukuran mengonsumsinya, misalnya agak sulit tetapi mempermudah pengukuran mengonsumsinya, misalnya mau merebus satu atau tiga buah. Konsumen asing sering memesan buah mahkota dewa yang kering dan utuh, antara lain untuk memudahkan mengenali penampilan buahnya. Jika ingin cepat kering, bisa dilakukan pemotongan terhadap bagian tanaman yang sudah bersih. Pemotongan harus dilakukan dengan menggunakan pisau anti karat atau stainless steel agar tidak terjadi reaksi kimia yang merugikan. Kulit dan daging buah dipotong kotak-kotak berukuran sekitar 0,5 cm x 0,5 cm x 0,5 cm. Cangkang juga dipotong dengan ukuran sekitar 0,5 cm x 0,5 cm. Selanjutnya segera dikeringkan bagian-bagian tanaman yang sudah dipotong-potong. Pengeringan bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur racun yang terdapat di bagian-bagian tanaman mahkota dewa. Pengeringan sebaiknya dilakukan secara bertahap, jangan langsung menggunakan sinar matahari. Kalupun terpaksa langsung menggunakan sinar matahari, usahakan sinarnya tidak terlalu terik. Dalam pengeringan daun, sebelum dijemur dengan sinar matahari, daun perlu diangin-anginkan dulu kurang lebih 1-2 hari agar mulut daun tertutup. Dalam pengeringan buah, proses mengangin-anginkannya memakan waktu sekitar 2-3 hari. Proses mengangin-anginkan ini bisa pula menggunakan kipas angin. Dengan alat ini, prosesnya bisa lebih cepat. Setelah itu, baik untuk daun maupun untuk buah, pengeringan dengan sinar matahari memakan waktu sekitar 3-6 hari, tergantung pada cuaca. Pengeringan ini harus membuat bagian tanaman yang dijemur benar-benar kering. Tanda bahwa bahan yang dijemur sudah kering adalah mudah dipatahkan. Tanda kering, juga bisa diketahui dengan menimbangnya. Apabila jumlah bahan mentah 1 kg, saat sudah kering hanya tinggal 1 ons atau hampir sepersepuluhnya. Dalam pengeringan, cuaca amat berpengaruh. Cuaca buruk bisa mempengaruhi kualitas buah yang dijemur sehingga jemuran buah berjamur. Jemuran buah yang berkondisi seperti ini tidak boleh dipakai sebab sangat berbahaya. Pada musim penghujan, pengeringan bisa dilakukan dengan menggunakan rak setinggi 2 meter yang diletakkan di atas perapian. Pembalikan dilakukan sesering mungkin untuk menghindari jamur. Setelah kering, bagian tanaman yang dijemur disangrai selama kurang lebih 5 menit di atas api kecil, yang berguna untuk mematikan bakteri-bakteri yang menempel selama penjemuran. Mahkota dewa yang berkondisi seperti ini disebut sebagai teh racik. Bagian tanaman berkhasiat obat, baru bisa digunakan jika sudah kering dan sudah disangrai. Cara penggunaan yang umum dipakai adalah dengan merebusnya terlebih dahulu. Perebusan sebaiknya menggunakan kuali tanah, panci keramik, panci gelas, panci email, atau panci stainless. Lama perebusan kurang bisa ditentukan berdasarkan menit atau jamnya. Patokannya adalah seberapa banyak pengurangan jumlah air yang terjadi (biasanya sekitar separuhnya). Agar pengurangan air bisa berkurang sebanyak itu, maka setelah mendidih rebusan tetap ditaruh dia atas api, tetapi nyala api kecil saja. Air rebusan ini rasanya pahit. Yang paling pahit adalah rebusan cangkang buah. Namun ada cara pengolahan untuk menghilangkan atau meminimalkan rasa pahit itu, yaitu dengan membuatnya menjadi mahkota dewa instan. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian