Loading...

MAHKOTA DEWA (Pengendalian Musuh Alami dan Pemanenan)

MAHKOTA DEWA    (Pengendalian Musuh Alami dan Pemanenan)
1. Pengendalian OPT Mahkota dewa mempunyai musuh alami atau Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berupa hama penggangu. Hama yang biasanya muncul adalah belalang, kutu putih, dan ulat buah. Pengendalian hama ini jangan menggunakanpestisida sebab racun atau residu pestisida dapat menempel dan tertinggal di bagian-bagian tanaman. Dikhawatirkan residu ini terbawa atau tidak hilang ketika mahkota dewa diracik menjadi obat-obatan. Akibatnya, alih-alih menyembuhkan, bahkan penyakit tambahan yang diperoleh. Pengendalian musuh alami ini, sebaiknya menggunakan pestisida buatan sendiri yang terbuat dari campuran tembakau, mimba, lengkuas, serai, sabun colet, daun sambiloto, brotowali, bawang putih, dan biji srikaya yang dihancurkan. Jika tidak semuanya tersedia, beberapa bahan bisa diabaikan, bahkan jika susah mendapatkan semua bahan di atas, biji mahkota dewa itu sendiri bisa dipergunakan untuk membasminya. Contoh formula untuk membuat pestisida: - Daun mimba 8 kg; - Lengkuas 6 kg; - Serai 6 kg; - Sabun colek 20 gr; - Air 20 lt. Cara membuatnya sebagai berikut: Tumbuk haluslah daun mimba, lengkuas, dan serai. Campurkan. Masukkan campuran tersebut ke dalam ember besar. Tambahkan 20 liter air. Aduk sebentar, lalu diamkan selama 24 jam. Keesokan harinya, saringlah dengan kain halus. Masukkan sabun colet yang telah dilarutkan dengan sedikit air ke dalam campuran. Setelah itu, tambahkan lagi 60 liter air. Sebaiknya air yang digunakan adalah air panas atau air hangat. Penggunaan air panas atau air hangat ini, akan memperbesar kelarutan bahan aktif dalam air sehingga pestisida akan bekerja lebih cepat. Cara mengaplikasikan pestodida buatan ini adalah dengan langsung menyemprotkannya pada hama penggangu, baik yang sendiri maupun yang berkelompok. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mencegah penguraian bahan aktif akibat teriknya matahari. Frekuensi penyemprotan umumnya dilaksanakan 2-3 kali dengan selang waktu 3 hari. 2. Pemanenan Dalam memanen mahkota dewa, perhatikan dulu bagian apa yang akan dipanen, karena cara memanen setiap bagian tanaman mahkota dewa berbeda-beda. Contohnya, cara memanen daun tidak sama cara memanen buah. Untuk lebih jelasnya, perhatikan petunjuk umum berikut: a. Daun yang dipanen adalah daun yang masih segar dan tidak terkena penyakit. Daun yang dipanen sebaiknya yang sudah cukup tua. Cirinya, bentuknya paling besar dibandingkan dengan daun lain. Warnanya pun lebih gelap. b. Buah yang dipanen adalah buah yang sudah benar-benar matang dan sehat atau tidak terkena penyakit. Cirinya, tampak segar, tidak memiliki cacat sekecil apapun, dan berwarna merah marun. c. Biji yang diambil untuk obat adalah biji dari buah yang sudah benar-benar matang. d. Khusus untuk tujuan pengobatan kanker dan lever, petiklah buah yang masih berwarna hijau namun cukup tua, tandanya warna buah hijau tua. e. Batang yang diambil adalah batang yang sudah cukup umur. Cirinya, warna cokelatnya lebih banyak daripada warna hijaunya. f. Setelah pemanenan buah, lakukan pemangkasan terhadap cabang-cabang tanaman. Maksudnya agar pembuahan susulan dapat berlangsung lebih cepat. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian