Loading...

MAHKOTA DEWA: KAYA KANDUNGAN KIMIA

MAHKOTA DEWA: KAYA KANDUNGAN KIMIA
Mahkota dewa bisa ditemukan ditanam di pekarangan sebagai tanaman hias atau di kebun-kebun sebagai tanaman peneduh. Mahkota dewa tumbuh subur di tanah gembur dan subur, merupakan tanaman perdu menahun yang tumbuh tegak dengan tinggi 1-2,5 meter. Tumbuhan ini kaya dengan kandungan kimia yang sudah diketahui, seperti pada daun dan kulit buah. Efek farmakologi dari tanaman ini diperoleh dari penggunaan bagian tanaman berupa daun dan kulit buah, baik dalam keadaan segar amaupun setelah dikeringkan. Dilaporkan bahwa terdapat berbagai cara penggunaan untuk pengobatan berbagai penyakit, tetapi belum ada pengumpulan informasi yang benar dan pencatatan. Masalah yang mengganjal terhadap pemakaian mahkota dewa sebagai tanaman obat adalah terbatasnya pembuktian-pembuktian ilmiah akan kegunaan tanaman ini. Sealama ini, pembuktian yang ada sebagian terbesar masih berupa pembuktian empiris, pembuktian yang hanya berdasarkan pada pengalaman pengguan. Literatur-literatur yang membahasnya pun sangat terbatas. Dalam literatur kuno pun, keterangan tentang mahkota dewa sangat terbatas. Hanya kegunaan biji buah yang bermanfaat sebagai bahan baku obat luar, misalnya untuk obat kudis, yang dibahas. Dari penelitian ilmiah yang sangat terbatas ini, diketahui bahwa mahkota dewa memiliki kandungan kimia yang kaya. Itupun belum semuanya terungkap. Dalam daun dan kulit buahnya terkandungalkaloid, saponin, dan flavonoid. Selain itu, didalam daunnya juga terkandung polifenol. Seorang ahli farmakolologi dari Fakultas Kedokteran UGM, berhasil membuktikan bahwa mahkota dewa mengandung zat antihistamin. Zat ini merupakan penangkal alergi. Dengan begitu, dari sudut pandang ilmiah, mahkota dewa bisa menyembuhkan aneka penyakit alergi yang disebabkan histamin, seperti biduren, gatal-gatal, selesma, dan sesak napas. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosis atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga persalinan berlangsung lebih lancar. Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah daun, daging, dan kulit buahnya. Daun dan kulit buah bisa digunakan segar atau yang telah dikeringkan, sedangkan daging buah digunakan setelah dikeringkan. Kulit buah dan daging buah digunakan untuk disentri, psoriasis, dan jerawat. Daun dan biji digunakan untuk pengobatan, penyakit kulit, seperti eksim dan gatal-gatal. Daun mahkota dewa mengandung antihistamin, alkaloid, saponin, dan polifenol. Kulit buah mengandung alkaloid saponin, dan flavonoid. Belum diketahui dosis efektif yang aman dan bermanfaat. Untuk obat yang diminum, gunakan beberapa irisan buah kering. Selama beberapa hari baru dosis ditingkatkan sedikit demi sedikit, sampai dirasakan manfaatnya. Perhatikan efek samping yang timbul. Pemakaian untuk penyakit Disentri: Rebus kulit buah mahkota dewa yang sudah dikeringkan (15 g) dengan dua gelas air sampai mendidih selama 15 menit. Setelah dingin, saring dan minum airnya sekaligus. Lakukan 2-3 kali dalam sehari. Pemakaian untuk penyakit Psoriasis Belah buah mahkota dewa segar ( 3 buah), bijinya dibuang, lalu iris tipis-tipis dan jemur sampai kering. Rebus simplisia ini dengan satu liter air dengan api besar. Setelah mendidih, kecilkan api dan rebus sampai airnya tersisa seperampatnya. Setelah dingin, saring dan minum airnya Pemakaian untuk penyakit Hepatitis Sebanyak 5 gr daging buah mahkota dewa kering, 5 gr pegagan, 10 gr sambiloto kering, dan 15 gr daun dewa. Cuci bersih semua bahan, kemudian rebus semuanya dalam 5 gelas air hingga tersisa sebanyak 3 gelas air. Dinginkan dan saring air rebusan. Minumlah 3 kali sehari, masing-masing 1 gelas. Penggunaan tanaman obat harus berdasarkan asas manfaat dan keamanan. Jika bermanfaat dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit, tetapi jika tidak aman karena beracun, harus dipikirkan kemungkinan timbulnya keracunan akut dan kronis. Bagian buah, terutama bijinya beracun. Jika buah segar dimakan langsung, bisa menyebabkan bengkak di mulut, sariawan, mabuk, kejang, sampai pingsan. Menggunakan dengan dosis berlebihan dalam waktu lama, bisa menimbulkan efek samping seperti sakit kepala kronis. Ibu hamil dilarang minum tanaman obat ini.   Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian