Tanaman yang harus Disembah Mahkota dewa adalah tanaman asli Indonesia. Habitat asalnya di tanah Papua. Namun, entah bagaimana caranya, tanaman ini masuk ke Keraton Mangkunegara di Solo dan Keraton Jogyakarta. Di kedua tempat itu mahkota dewa dikenal sebagai tanaman obat. Dulu memang hanya kedua keraton itu yang mengenal khasiat mahkota dewa untuk keperluan pengobatan. Lambat laun, dari mulut ke mulut, berita mengenai khasiat tanaman ini menyebar ke luar keraton. Tanaman ini sebetulnya pantas dianggap memiliki " kesaktian", karena berbagai jenis penyakit, dari yang ringan sampai yang berat, bisa disenbuhkan dengan tanaman ini. Bahkan, dalam ceritera wayang purwa, tanaman ini konon begitu dikeramatkan. Tanaman ini sangat dihormati. Siapa saja yang berkeinginan untuk memetik buahnya harus menyembahnya terlebih dulu. Para prajurit yang hendak pergi ke medan laga pun harus memakan buahnya agar sehat, kuat, dan selamat. Sebagian orang meyakini bahwa tanaman mahkota dewa memancarkan "aura" yang sangat bagusuntuk kesehatan. Ada juga yang pecaya bahwa siapapun yang menanam tanaman ini sampai berbuah, akan dilimpahi rezeki yang berlimpah. Celakanya, banyak juga orang yang tidak tahu kegunaan tanaman ini. Jangankan orang awam, ahli pengobatan tradisional pun masih ada yang meragukannya. Alasannya, antara lain, penelitian ilmiah secara klinis mengenai kegunaan tanaman ini belum menghasilkan sebuah kesimpulan yang memuaskan. Akibatnya, tidak mengherankan jika di beberapa daerah buahnya pun dibuang begitu saja karena rasanya tidak enak. Hal-hal seperti ini membuat ketersediaan mahkota dewa yang memang suli diperoleh, semakin sulit dipenuhi. Padahal dari waktu ke waktu, kebutuhan pengobatan alternatf terhadap tanaman ini semakin banyak. Pusaka Para Dewa Sebagian ahli botani menamai mahkota dewa berdasarkan tempat asalnya, yaitu Phaleria papuana Warb. var. Wichannii (Val.) Back. Namun, sebagian yang lain menamainya berdasarkan ukuran buahnya yang besar (makro), yaitu Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl. Sebutan lain untuk mahkota dewa cukup banyak, ada yang menyebutnya pusaka dewa, derajat, mahkota ratu, mahkota raja, trimahkota. Di Jawa Tengah, orang menyebutnya dengan nama makuto mewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menyebutnya raja obat. Nama ini diberikan karena tanaman ini mampu mengobati aneka penyakit. Sementara itu, orang cina lebih suka menyebutnya pau yang berarti obat pusaka. Tidaklah mengherankan jika beberapa orang pun memberikan nama menjadi the crown of god. Nama-nama lain yang sangat bagus itu, umumnya dimunculkan berdasarkan khasiat yang dikandung tanaman ini. Nama-nama lain itu juga mengandung daya tarik itu sampai-sampai negara lain pun sudah meliriknya. Ini terbukti dengan adanya pesanan ekspor tanaman mahkota dewa ke Singapura. Pesanan ini memang tidak dipeuhi karena sayang sekali kalau sampai negara lain yang mengembangkannya, bahkan lalu mematenkannya. Meskipun banyak yang memberikan nama berkonotasi nama berkonotasi bagus kepada tanaman ini, ada juga orang yang memberikan nama berkonotasi sebaliknya. Contohnya, di Depok, Jawa Barat, nama lain mahkota dewa adalah buah simalakam. Walaupun cukup mengagetkan, sebutan ini sebetulnya cukup beralasan. Soalnya, bagi penderita suatu penyakit, jika dimakan melebihi takaran, buah mahkota dewa akan menyebabkan efek negatif yang tidak diharapkan, dari sariawan hingga pusing-pusing dan mual. Namun, jika tidak dimakan, penyakitnya malah mungkin tidak bisa disenbuhkan. Memang, dalam mengonsumsi buah ini, dosis yang benar-benar tepat harus diperhatikan. Sampai saat ini, banyak penyakit yang berhasil disembuhkan dengan mahkota dewa. Beberapa penyakit berat (seperti sakit lever, kanker, sakit jantung, kencing manis, asam urat, reumatik, sakit ginjal, tekanan darah tinggi, lemah syahwat dan ketagihan narkoba) dan penyakit ringan (seperrti eksim, jerawat, dan luka gigitan serangga) bisa disembuhkan dengan tanaman ini. Mahkota dewa bisa digunakan sebagai obat dalam, dengan cara dioleskan atau dilulurkan. Melihat begitu, banyak penyakit yang bisa disembuhkanya, sebutan pusaka para dewa memang layak disematkan untuk tanaman ini. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian