Loading...

Manajemen Pengairan untuk Budidaya Padi

Manajemen Pengairan untuk Budidaya Padi
MANAJEMEN PENGAIRAN UNTUK BUDIDAYA PADI Untuk memenuhi target produksi padi nasional, peningkatan produksi padi direncanakan 1,50 % setiap tahunnya. Untuk itu diperlukan berbagai terobosan dalam rangka peningkatan produksi diantaranya melalui pengembangan inovasi teknologi melalui pengaturan pengelolaan air agar produksi dapat meningkat. Dalam rangka mensukseskan program swasembada padi pada tahun 2017, kiranya budidaya padi dengan inovasi teknologi hemat air menjadi sangat perlu. Pengelolaan air pada budidaya padi dengan metode Intermitten atau pemberian air dengan metode berselang sesuai dengan kebutuhan tanaman dapat menghemat penggunaan air irigasi sebesar 40-60 %. Tujuan Sistem Pengairan Intermitten Selain menghemat penggunaan air irigasi hingga 40-60 %, maka dengan mengkondisikan lahan dalam keadaan kering dan tergenang secara bergantian juga bertujuan untuk : Memberikan kesempatan pada akar tanaman untuk mendapatkan udara sehingga dapat berkembang lebih dalam, Mengurangi timbulnya keracunan besi, Mengurangi penimbunan asam organik dan gas H2S yaitu gas Hidrogen Sulfida yang menghambat perkembangan akar, Mengaktifkan jasad renik mikroba yang bermanfaat, Mengurangi kerebahan, Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif atau tidak menghasilkan malai dan gabah, Menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen, Memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah lapisan olah, Memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng cokelat dan penggerek batang dan mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus. Cara Pengelolaan Air dengan Sistem Pengairan Intermitten Lakukan teknik pergiliran pengairan dalam satu musim tanaman. Bibit ditanam dalam kondisi tanah jenuh air dan petakan sawah baru diairi lagi setelah 3-4 hari. Pengelolaan air selanjutnya diatur dengan cara : Lakukan pergiliran air selang 3 hari. Tinggi genangan pada hari pertama lahan diairi sekitar 3 cm dan selama 2 hari berikutnya tidak ada penambahan air. Lahan sawah diairi lagi pada hari ke 4. Cara pengairan ini berlangsung sampai fase anakan maksimal. Mulai dari fase pembentukan malai sampai pengisian biji, petakan sawah digenangi terus. Sekitar 10-15 hari sebelum tanaman dipanen, petakan sawah dikeringkan. Lakukan pengairan berdasarkan ketersediaan air. Perhatikan ketersediaan air selama musim tanam. Apabila sumber air tidak cukup menjamin selama satu musim maka lakukan pengairan bergilir dengan periode lebih lama sampai selang 5 hari. Lakukan pengairan dengan mempertimbangkan sifat fisik tanah. Pada tanah berpasir dan cepat menyerap air, waktu pergiliran pengairan harus diperpendek. Pengelolaan air dengan sistem pengairan intermitten dapat pula dilakukan pada saat umur padi vegetatif, air diberikan secara macak-macak (kapasitas lapang) kecuali pada saat penyiangan dilakukan penggenangan ( 2-3 ) cm. Pada umur ± 45 hari lahan diairi selama 10 hari untuk menghambat pertumbuhan anakan, kemudian air diberikan kembali sampai masa pertumbuhan malai, pengisian bulir padi hingga bernas, selanjutnya pada umur tanaman ± 100 hari sawah dikeringkan sampai panen. Melalui sistem pengairan atau pemberian air yang dilakukan secara intermitten atau terputus-putus, yaitu pada awal penanaman pemberian air dilakukan sampai kondisi minimal macak-macak atau maksimal sekitar 2 cm. Kemudian dibiarkan mengering sampai kondisi tanah mulai terbelah-belah dan mulai lagi dengan pemberian air maksimal, begitu seterusnya. Pemberian air dihentikan saat periode pemasakan bulir padi. Dengan cara ini, kebutuhan air dapat dihemat hingga 40-60 %. Dengan demikian maka produksi padi akan meningkat sejalan dengan bertambahnya areal pertanaman padi yang dapat diairi.