Loading...

MANFAAT AGEN HAYATI Beauveria Bassiana DALAM PENGENDALIAN WERENG COKLAT PADA TANAMAN PADI

MANFAAT AGEN HAYATI Beauveria Bassiana DALAM PENGENDALIAN WERENG COKLAT PADA TANAMAN PADI
Serangan hama merupakan salah satu faktor pembatas untuk meningkatkan produksi pertanian yang dalam kasus ini adalah pemeliharaan tanaman padi. Untuk mengendalikan hama seringkali digunakan pestisida kimia denga dosis ynag berlebih. Padahal akumulasi senyawa kimia berbahaya dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia.Untukmenjawab permasalahan tersebut, konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan pilihanyang tepat.Pengendalian hama terpadu adalah pengendalian hama yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan unsur-unsur alami yang mampu mengendalikan hama agar tetap berada pada jumlah dibawah ambang batas yang merugikan. PHT bertujuan membatasi penggunaan pestisida sesedikit mungkin tetapi sasaran kualitas dan kuantitas produksi pertanian masih dapat dicapai (Sastrosiswojo dan Oka,1997). Pengurangan masukan pestisida sekaligus juga akan menurunkan residu pestisida, sehingga produk yang dihasilkan dapat lebih bersaingdi pasaran umum.Didalam PHT, pemberdayaan musuh alamidan potensi hayatilainnya merupakan komponen utama, karena musuh alami mempunyai peranan penting dalam penekanan populasi hama dan menjaga keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu,musuh alami yang sudah ada perlu dijaga kelestariannya dan upaya untuk meningkatkan peranannya dalam pengendalian hama juga perlu dilakukan.Di tengah maraknya budidaya pertanian organik, maka upaya pengendalian hama yang aman bagi petani dan konsumen serta menguntungkan petani, menjadi prioritas utama. Salah satu alternatif pengendalian adalah pemanfaatan agen hayati, yaitu jamur patogen serangga B.bassiana. Agen hayati adalah setiap organisme yang meliputi spesies, sub spesies atau varietas dari semua jenis serangga nematode, protozoa, endawan, bakteri, virus, mikroplasma, serta organisme lain yang dalam setiap tahap perkembangannya dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama.Pengendalian dengan menggunakan cendawan Beauveria bassiana adalah untuk mendukung konsep PHT. Konsep PHT ini bertujuan untuk mempertahan diversitas pada agroekosistem. Cendawan Beauveria bassiana tidak akan memusnahkan semua serangga hama, tetapi cendawan ini akan menghambat populasi serangga hama tersebut. Selain itu, konsep PHT ini menganjurkan tidak menggunakan pestisida kimia agar keragamannya tetap terjaga dan kondisi ekosistem seimbang. Salah satu keuntungan penggunaan jamurB. Bassianauntuk pengendalian hayati adalah dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai tingkat perkembangan serangga hama mulai dari telur, larva, pupa dan imago. Saat ini produk bioinsektisida berbahan aktif B.Bassiana ini telah tersedia secara komersial di Indonesia. Meskipun demikian, tampaknya pemanfaatannya di lapangan khususnya tanaman pangan belum optimal.Padi merupakan tanaman yang paling penting di negeri kita Indonesia ini. Betapa tidak karena makanan pokok di Indonesia adalah nasi dari beras yang tentunya dihasilkan oleh tanaman padi. Hama yang banyak menyerang tanaman ini adalah tikus, orong–orong, kepinding tanah, wereng coklat dan walang sangit. Hama–hama itulah yang sering mengakibatkan gagal panen dan tentunya membuat petani merugi.Padi termasuk genus Oryza L yang meliputi lebih kurang 25 spesies, tersebar di daerah tropik. Tanaman padi dapat hidup baik didaerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Curah hujan rata–rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500–2000 mm. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah 23oC.Tinggi tempat yang cocok berkisar antara 0–1500 mdpl. Tanah yang baik untuk pertumbuhan padi adalah tanah sawah dengan kandungan pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jumlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atas antara 18–22 cm dengan pH antara 4–7. Wereng Coklat (Nilaparvata lugens) merupakan salah satu hama penting yang menyerang tanaman padi sawah. Serangga kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus menyebarkan beberapa virus yang menyebabkan penyakit tungro. Akibat serangan hama WBC sangat diraskan karena menimbulkan kerugian yang cukup besar dan juga sulit dikendalikan.WBC dianggap sebagai hama utama padi, karena merupakan hama yang mampu beradaptasi dengan cepat pada berbagai lingkungan. Hal ini terbukti WBC mampu membentuk biotipe atau populasi baru yang mampu mengatasi sifat ketahanan tanaman dan resisten terhadap insektisida dalam waktu yang cukup singkat. Sifat ini menyebabkan sering timbul ledakan populasi yang mengakibatkan menurunnya produksi padi nasional secara drastis.Wereng coklat menyukai pertanaman yang dipupuk nitrogen tinggi dengan jarak tanam rapat. Ambang ekonomi hama ini adalah 15 ekor per rumpun. Siklus hidupnya 21-33 hari. Cara pengendaliannya sbb:1. Persiapan benih bermutu, bersertifikat, varietas tahan WBC setempat.2. Eradikasi/sanitasi lingkungn dari sisa tanaman dan singgang terserang WBC, kerdil hampa, dan kerdil rumput.3. Amati adanya wereng imigran dengan lampu perangkap, bila ada populasi imigran, buat pesemaian 15 hari setelah terjadinya puncak imigran pertama atau 15 hari setelah uncak imigran yang kedua.4. Lakukan tanam serempak.5. Pengamatan WBC sejak awal di pesemaian.6. Memanfaatkan pestisida nabati/musuh alami/agen hayati dari awal. Jamur disebut juga dengan cendawan.Setiap jamur mempunyai ciri-ciri yang membedakan dengan organisme lainnya. Reproduksi dari jamur ada 2 yaitu reproduksi secara tidak kawin (aseksual) dan reproduksi secara kawin (seksual). Reproduksi tidak kawin berkembang biak dengan spora. Contoh spora yaitu Sporabgiosporadan Konidium. Jamur berkembang biak dengan spora dan memiliki hifa. Jamur ada yang merugikan bisa dicontohkan dengan jamur Fusarium oxysporum yang menyebabkan penyakit layu pada tomat (Sastrahidayat, 2011). Selain itu ada juga jamur yang menguntungkan seperti jamur tempe (Rhizopus oryzae), jamur merang (Volvariella volvacea), dan jamur entomofagus (Beauveria bassiana). Jamur tempe digunakan sebagai fermentasi kedelai sehingga membentu padatan berwarna putih. Jamur merang digunakan sebagai produk olahan makanan. Jamur entomofagus digunakan untuk mengendalikan populasi serangga hama pada tanaman.Cendawan Beauveria bassianaadalah salah satu pengendali populasi hama biologis karena jamur ini bisa menjadi parasit pada tubuh serangga hama.Serangga yang menjadi inang dari Beauveria bassiana adalah ordo Lepidoptera, Coleoptera, dan Homoptera (Herlindaet al, 2008). JamurB.bassianajuga dikenal sebagaipenyakit white muscardine karenamiseliumdankonidium(spora) yang dihasilkan berwarna putih, bentuknya oval dan tumbuh secarazig-zag pada konidiofornya(Soetopo dan Indrayani, 2007).Menurut Inglis et al. (2001) kemampuan patogen untuk bisa menimbulkan infeksi pada serangga ditentukan oleh tiga faktor yaitu patogen, inang dan lingkungan. Dari segi patogen, dosis dan cara aplikasi akan mempengaruhi mortalitas serangga, sedangkan dari segi inang, berbagai faktor fisiologi dan morfologi inang mempengaruhi kerentanan serangga terhadap jamur entomopatogen.Mekanismeinfeksisecara mekanikadalah infeksi melalui tekanan yangdisebabkan olehkonidiumB. Bassianayangtumbuh. Secara mekanikinfeksijamurB. Bassianaberawal daripenetrasi miselium pada kutikula lalu berkecambah dan membentukapresorium, kemudianmenyerang epidermis dan hipodermis. Hifa kemudianmenyerang jaringan dan hifa berkembang biak di dalamhaemolymph(Clarksondan Charnley, 1996). Padaperkembangannya di dalam tubuh seranggaB. Bassianaakanmengeluarkan racun yang disebutbeauvericinyangmenyebabkan terjadinyaparalisis pada anggota tubuh serangga. Paralisismenyebabkan kehilangankoordinasisistem gerak, sehingga gerakan serangga tidak teraturdan lama-kelamaan melemah, kemudian berhenti sama sekali. Setelah lebihkurang limahariterjadi kelumpuhan total dan kematian.Toksin juga menyebabkan kerusakanjaringan, terutama pada saluranpencernaan, otot,sistem syaraf, dan sistem pernafasan. Seranggakemudian mati dan jamurB. Bassianaakan terus melanjutkanpertumbuhansiklusnya dalam fasesaprofitik.Setelah serangga inang mati,B.bassianaakan mengeluarkanantibiotik,yaituOosporeinyangmenekan populasibakteri dalam perut serangga inang.Dengandemikian, pada akhirnya seluruhtubuhserangga inang akan penuh olehpropagulB. bassiana. Pada bagian lunakdaritubuh serangga inang, jamur ini akanmenembus keluar dan menampakkanpertumbuhanhifa di bagian luar tubuh serangga inang yangbiasa disebut “whitebloom”. Pertumbuhan hifa eksternal akan menghasilkankonidia yang bila telahmasak akandisebarkan ke lingkungan dan menginfeksiserangga sasaran baru(Mandarina, 2008).Penggunaan agens hayati menjadi salah satu metode yang ampuh untuk mengatasi serangan hama Wereng Coklat. Agen hayati B.bassianamembunuh hama melalui infeksi sebagai akibat dari serangga yang kontak dengan spora jamur. Serangga dapat kontak dengan spora jamur melalui beberapa cara, yaitu :a. Semprotan jamur menempel pada tubuh serangga,b. Serangga bergerak pada permukaan tanaman yang sudah terinfeksi jamur,c. Serangga memakan jaringan tanaman yang telah diperlakukan dengan jamur Namun beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :a. Waktu pengamatan sebelum penyemprotan.Sebelum penyemprotan, dilakukan pengamatan agar waktu penyemprotan sesuai dan efektif. Penyemprotan efektif hanya apabila serangga terlihat pada tanaman dan tidak berlaku sebagai semprotan pencegahan karena residu dapat hilang dalam beberapa hari.b. Sebuah aplikasi tunggal mungkin tidak cukup.Beberapa aplikasi berulang mungkin diperlukan untuk memberikan kontrol yang memadai, karena jamur cepat dipecah oleh sinar matahari dan tercuci oleh air hujan. c. Sebaiknya penggunaan terhadap fase awal serangga.B.Bassiana lebih efektif pada tahap muda serangga (larva muda) daripada tahap yang lebih tua.d. Mempertimbangkan kompatibilitas. Tidak dianjurkan menggunakan tangki semprot bekas fungisida dan tidak diperbolehkan menerapkan semprotan fungisida kimia dalam rentang waktu 4 hari setelah aplikasi B.Bassianakarena dapat mengurangi kemanjurannya.e. Kelembaban adalah faktor pendukungB.bassiana mungkin akan lebih efektif dalam kondisi kelembaban relatif tinggi Dari penulisan ulasan ilmiah dapat disimpulkan :1. Penggunaan pestisida kimiawi yang berlebihan dan tidak tepat sasaran memberikan efek OPT menjadi lebih kebal terhadap pestisida kimia sehingga sulit dikendalikan.2. Perlunya kembali menerapkan teknologi PHT yang mampu mengendalikan OPT dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan keamanan pangan.3. Perkembangan pemanfaatan cendawan entomopatogen B.bassiana cukup pesat, karena cendawan ini dapat mengendalikan berbagai spesies serangga hamapada tanaman maupun di dalam tanah.4. B. Bassiana aman bagi serangga bukan sasaran, terutama serangga berguna dan musuh alami. Dari kesimpulan tersebut, maka dapat diberikan rekomendasi yaitu :1. Hendaknya dilakukan penyuluhan tentang agen hayati Beauveria bassiana beserta manfaatnya kepada petani secara luas, terutama bagi petani yang masih banyak mengandalkan pestisida kimia.2. Adanya dukungan dari instansi terkait sarana, prasarana dan pelaksanaan pelatihan pembuatan dan perbanyakan Beauveria bassiana di tingkat petani.3. Perlu diberikannya pendampingan dan pemahaman kepada petani dalam penggunaan agen hayatiBeauveria bassiana. DAFTAR PUSTAKA Clarkson, J.M., and Charnley, A. K. 1996. New insights into the mechanisms of fungal pathogenesis in insects. Trends Microbiol 4, 197-203. Herlinda, S., Mulyanti, S.I.& Suwandi. 2008. Jamur Entomopatogen Berformulasi Cair Sebagai Bioinsektisida Untuk Pengendali Wereng Coklat. Jurnal Agritop27 (3): 119-126. Inglis G.D, Goettel M.S, Butt T.M, Strasser H. 2001. Use of hyphomycetous fungi for managing insect pests. in: Butt T.M,Jackson C.W dan Magan N. (Eds). Fungi as Biocontrol Agents, Progress, Problems and Potential.CABI Publishing,London. Mandarina, D. 2008. Uji Efektifitas Beberapa Entomopatogen Pada Larva dan Imago Brontispa longissima Gestro. (Coleoptera: Chrysomelidae) di Laboratorium.Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan. Sastrahidayat, R. I. 2011. Epidemiologi Teoritis Penyakit Tumbuhan. UB Press Universitas Brawijaya. Malang. Sastrosiswodjo S, Oka I.N. 1997. Implementasi pengelolaan serangga secara berkelanjutan. Makalah disajikan pada Kongres ke V dan Simposium Entomologi. PEI. 24-26 Juni 1997, Bandung. Soetopo, D. &Indrayani, I.2007. Status Teknoogi dan Prospek Beauveria bassiana Untuk Pengendalian Serangga Hama Tanaman Perkebunan Yang Ramah Lingkungan. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat. Malang. DANY SETYAWAN, SP