Loading...

Sarana Produksi Penyulingan Nilam (Pogostemon cablin Benth)

Sarana Produksi Penyulingan Nilam (Pogostemon cablin Benth)
Dengan kemajuan teknologi, minyak atsiri yang dihasilkan oleh Nilam (Pogostemon cablin Benth) telah banyak dipergunakan dalam industri kosmetik, wewangian, aromaterapi dan sabun karena sifatnya yang fixatif (mengikat minyak atsiri lainnya) dan sampai sekarang belum ada formula penggantinya, Minyak atsiri yang dihasilkan nilam berasal dari terna (daun dan ranting) yang diproses melalui penyulingan. Nilam dapat dipanen pertama kali pada saat berumur 6 bulan. Panen berikutnya dilakukan dalam selang waktu 4 bulan pada saat nilam berumur 10 bulan, selanjutnya panen ke dilakukan pada saat nilam berumur 14 bulan. Panen berikutnya dilakukan dalam selang waktu 2-6 bulan sekali sampai tanaman berumur tiga tahun. Bila dikelola dengan baik, keuntungan berusahatani nilam bisa mencapai sekitar Rp. 5.000.000,-/ha. Bagi petani yang sekaligus menjadi pengrajin minyak atsiri dan mempunyai alat suling sendiri dan menjual dalam bentuk minyak, hasil penjualan dapat mencapai Rp. 40.000.000,-/ha/tahun (dengan harga minyak Rp. 200.000,-/kg dan produksi minyak 200 kg/ha. Agar menghasilkan minyak yang jernih dan berkualitas, minyak nilam hendaknya diproses dengan alat penyulingan yang terbuat dari besi tahan karat (stainless steel). Kualitas dari hasil penyulingan nilam dipengaruhi beberapa faktor penentu diantaranya adalah kualitas daun dan sarana/alat penyulingan. Kualitas daun dipengaruhi oleh jenis varietas nilam. Varietas unggul nilam yang adalah yang menghasilkan kandungan patchouli alkohol (PA) tinggi. Ada tiga jenis varietas nilam yang mempunyai kandungan PA tinggi uaitu Sindikalang (32,95), Tapak Tuan (33,31) dan Lhoksumawe (32,63). Nilam dalam satu tahun dapat dipanen sebanyak tiga kali. Pada jenis nilam yang unggul standar produksi terna (daun ranting) nilam basah sebagai berikut: panen pertama (umur 6 bulan) dengan produksi terna basah per hektar sebesar 10.000 kg/ha; panen kedua (umur 10 bulan) produksi terna mencapai 15.000 kg/ha dan pada umur 14 bulan produksi terna basah sebesar 17.500 kg/ha . Standar usaha penyulingan nilam (kapasitas ketel 1000 liter) Untuk mendukung kebutuhan bahan baku terna pada unit pengolah hasil (UPH) kapasitas 1.000 liter, agar dapat operasional setiap hari, diperlukan areal tanam nilam seluas 15 - 20 ha dengan ketentuan sehari 12 jam kerja dibagi 2 shift dengan jumlah hari kerja dalam setahun 300 hari. Untuk mengetahui berapa biaya yang diperlukan untuk mendirikan sebuah unit pengolah hasil nilam adalah sebagai berikut: 1. Modal investasi - Lahan usaha 1.000 M2 - Lantai jemur 250 M2 - Bangunan kering angin 100 M2 - Bangunan unit penyulingan 100 M2 - Bagunan kantor 50 M2 - Unit penyulingan 1000 liter 1 paket - Perlengkapan kantor 1 paket 2. Modal kerja per tahun a. Biaya tetap - Gaji manajer 12 bulan - Gaji karyawan 60 OB - Penyusutan lantai jemur 20% - Penyusutan bangunan kering angin 20% - Penyusutan bangunan penyulingan 20% - Penyusutan bangunan kantor 20% b. Biaya variabel - Pembelian terna basah 450 ton - Biaya pengeringan 450 ton - Bahan bakar 1.200 liter - Drum plastik 200 liter 15 buah - Penerangan/ listrik 12 buah - Biaya lain-lain Jumlah biaya yang diperlukan untuk sarana produksi penyulingan nilam disesuaikan dengan harga berlaku di wilayah setempat. Oleh : Sri Puji Rahayu, Penyuluh Pertanian, email : yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Pedoman Budidaya Tanaman Nilam, Direktorat Budidaya Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian, 2006. Teknologi Budidaya Nilam, balai Besar Pengkajian Teknologi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 2008.