Loading...

MEMANFAATKAN LAHAN LEBAK UNTUK INTEGRASI ITIK DAN PADI

MEMANFAATKAN LAHAN LEBAK UNTUK INTEGRASI ITIK DAN PADI
Ternak itik merupakan jenis unggas yang memiliki keistimewaan. Sebab, disamping bisa terbang sebagaimana halnya burung, hewan ini juga bisa berenang seperti ikan. Sehingga, habitat dan pemeliharaannya membutuhkan dua bahkan tiga alam atau lahan melebihi hewan amfibi yaitu lahan darat, udara dan lahan air. Agar memberikan hasil optimal, lahan air seperti rawa atau lebak, selain bisa digunakan untuk pemeliharaan itik, dapat juga dimanfaatkan secara terintegrasi dengan komoditas lain. Misalnya, menanam lahan tersebut dengan berbagai jenis tanaman seperti padi, cabe, jagung atau palawija sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi petani. Lahan lebak merupakan lahan rawa yang memiliki potensi cukup besar untuk dapat dimanfaatkan sebagai areal pertanian sebagai salah satu alternatif untuk peningkatan ketahanan pangan. Petani lahan lebak biasanya menanam padi di areal tabukan atau lahan yang lebih rendah pada saat menjelang musim kemarau. Sebaliknya, untuk tanaman sayuran atau palawija di areal guludan atau lahan yang lebih tinggi. Sedangkan untuk memelihara ternak itik menggunakan lahan pekarangan. Sebelum dimanfaatkan, lahan lebak terlebih dahulu direklamasi dengan pembuatan tanggul, saluran drainase dan pintu air. Pembuatan tabukan dan guludan seperti yang sudah diusahakan petani, berkembang menjadi lahan lebak dangkal dan tengahan. Lahan lebak dangkal adalah lahan lebak yang memiliki kedalaman air 0 - 1 m, sedangkan lebak tengahan memiliki kedalaman air 1 - 2 m. Kendala fisik dalam pengelolaan lahan lebak adalah terjadi genangan air di musim hujan, namun cepat hilang di musim kemarau sehingga terjadi kekeringan. Akibatnya, terjadi penurunan pH tanah dan ketersediaan hara bagi tanaman. Untuk itu diperlukan upaya konservasi tanah di musim kemarau untuk memenuhi kebutuhan air dan pemilihan varietas yang sesuai dengan kondisi lahan lebak tersebut. Untuk meningkatkan optimalisasi pemanfaatan lahan lebak, perlu Inovasi Teknologi penerapan model introduksi teknologi sistem usahatani yang sesuai. Caranya dengan mengembangkan sistem usahatani yang sudah ada di tingkat petani sesuai kondisi bio-fisik lahan dan sosial ekonomi petani. Model sistem usahatani ini akan dapat meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani secara berkelanjutan. Model sistem usahatani yang diterapkan pada lahan lebak: (a) pada lahan usaha berupa tabukan ditanami padi unggul varietas Ciherang menjelang musim kemarau. Setelah panen, lahan di-bera-kan sedangkan di guludannya ditanami jagung varietas Srikandi Putih dan cabe varietas Hot Chili. (b) Untuk lahan pekarangan dipelihara ternak itik alabio dengan menggunakan pakan fermentasi. Langkah kegiatan sistem usahatani terintegrasi di lahan lebak: (a) Budidaya Padi. Padi ditanam pada musim kemarau yang dimulai dengan persiapan lahan pada bulan Nopember. Rumput yang ada ditebas pada saat air masih menggenangi sawah kemudian dibiarkan hingga air mulai mengering pada bulan Mei dan kemudian lahan tersebut dibersihkan kembali. Pembersihan lahan dapat dilakukan secara manual atau menggunakan herbisida. Benih padi varietas Ciherang disemai pada lahan kering dengan takaran benih 100 gr/m² sampai umur 10-15 hari. Selanjutnya, dipindahkan ke lahan basah dan setelah berumur 25 hari ditanam sebanyak 3 batang per lubang dengan jarak tanam 20 X 25 cm. Pupuk diberikan dengan takaran 90 kg N, 50 kg P2O5 dan 50 kg K2O/ha. Urea diberikan 2 kali pada saat tanam dan pada saat umur 30 HST. Lakukan penyiangan pada saat umur 14 HST dan umur 30 HST. Pengendalian hama dan penyakit yang biasa menyerang padi seperti walang sangit dan hama putih dapat dikendalikan dengan menggunakan Bassa, sedangkan penyakit blas dikendalikan dengan Topsin. Pengendalian hama tikus dengan pengumpanan beracun yaitu obat Racumin dicampur dengan gabah dengan perbandingan 1 : 19. (b) Budidaya Cabe. Benih cabe varietas Hot Chili disemai dengan cara memasukkan dalam polybag yang berisi media campuran tanah lebak dan pupuk kandang, setelah berumur 25 hari siap untuk ditanam di lahan guludan. Sebelum ditanami cabe, guludan dibersihkan dari rumput kemudian dibuat baluran atau digemburkan dengan cangkul, dan dibuat lubang dengan jarak tanam 50 X 70 cm. Masukkan pupuk kandang dosis 2,5 ton/ha dengan kapur 1 ton/ha yang diaduk sebelumnya. Tanaman cabe dipupuk dengan dosis 25 kg N, 50 kg P2O5 dan 25 kg K2O/ha bersamaan dengan penyiangan dan pembumbunan. Pemeliharaan tanaman dilakukan secara intensif seperti penyulaman, penyiangan, perompesan, pembumbunan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman. (c) Budi daya jagung. Penanaman jagung dilakukan setelah tanaman cabe berumur 15 hari. Lahan disiapkan terlebih dahulu dengan mencangkul untuk membuat jalur. Jarak tanam 75 X 40 cm dan setiap lubang diberi 2 biji benih jagung. Pemupukan tanaman dilakukan dengan dosis 70 kg N, 60 kg P2O5, dan 50 kg KCl per ha. Pupuk urea dua pertiga bagian bersama-sama pupuk P dan K diberikan pada saat tanam dan sepertiga bagian sisa pupuk urea diberikan pada umur 30 HST. Pembumbunan dilakukan bersamaan pada saat pemberian pupuk susulan. Penyiangan dilakukan pada umur 30 HST. Pengendalian hama penggerek batang diberikan Furadan 3G pada pucuk tanaman sebelum bunga jantan keluar. Pemanenan dapat dilakukan pada umur jagung 65 hari setelah tanam. Jagung yang dihasilkan dapat diberikan sebagian untuk campuran pakan ternak itik yang dipelihara petani sehingga tidak perlu membeli di lain tempat. (d) Beternak itik. Ternak yang dipelihara adalah ternak itik Alabio sebanyak 25 ekor per unit kandang ukuran 2 x 1 m. Ransum diberikan 3 kali sehari yaitu pukul 07.00, 12.00 dan 16.00. Itik diberi makanan yang terdiri dari bahan pakan yang tersedia di daerah lahan lebak seperti : ikan asin, siput air (kalumbai), dedak, gabah dan ditambah dengan dedak fermentasi sebanyak 20 % dalam formulasi ransum. Untuk susunan pakan itik dalam 1 kg terdiri dari 440 gram dedak biasa, 200 gram dedak fermentasi, 150 gram ikan asin, 100 gram siput air (kalumbai), 100 gram gabah dan 10 gram mineral itik. Susunan tersebut mengandung 21 % protein dan 2000 kkal.kg Metabolisme Energi.Komposisi mineral yang digunakan untuk fermentasi dalam 1 kg bahan kering terdiri dari urea 4% (40 gr), Ammonium Sulphat (ZA ) 7,2% (72 gr), Natrium dihidrogen (SP-36) 1,5 % (15 gr), Kalium klorida (KCl) 0,15 % (1,50 gr), Magnesium Sulphat (MgSO4) 0,5 % (5 gr), Fero Sulphat (FeSO4). Bahan pakan ternak itik berasal dari tanaman padi berupa gabah atau dedak halus maupun dedak kasar yang dicampur bahan pakan lainnya. Sedangkan Kotoran kandang itik dapat digunakan sebagai pupuk kandang pada tanaman cabe atau tanaman lainnya yang terlebih dahulu dilakukan pengomposan (Inang Sariati). Sumber: dari berbagai media dan informasi