Loading...

MEMBANGUN CITRA BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) DI KECAMATAN ( BAGIAN I)

MEMBANGUN CITRA BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) DI KECAMATAN ( BAGIAN I)
Menurut Sun Tzu, ahli strategi perang dari zaman Tiongkok kuno, yang teorinya banyak diaplikasikan dalam manajemen terutama bisnis "mangatakan" mereka yang mayoritas tidaklah selalu berjaya dalam setiap pertempuran. Sebaliknya yang minoritaspun tidak selalu kalah dalam pertempuran melawan yang mayoritas. Tanpa kohesi menurut Sun Tzu, segala pasukan, segala persenjataan dan perisai, segala kekayaan dan logistik, tidak akan ada gunanya. Itulah yang terjadi pada Amerika Serikat di Vietnam. Segala dukungan yang luar biasa, hanya menjadi sia-sia, kalah oleh kohesi yang ditampilkan rakyat Vietnam. Kohesi adalah kondisi dimana terjadi persatuan niat antara orang-orang yang menguasai organisasi, dengan orang-orang yang dikuasai oleh mereka. Jika kohesi ini bisa terbentuk, maka organisasi bisa bergerak dengan pasti dan efisien karena adanya kesatuan yang mereka miliki itu. Sikap kohesif ini justru paling penting oleh semua komponen dan jajaran organisasi, guna membangun kekuatan dari lapisan bawah sampai atas, dalam upaya meraih citra organisasi yang berwawasan global, inovatif, kreatif dan berdaya saing. Balai Penyuluhgan Pertanian Pertanian ( BPP) di Kecamatan dalam usianya dan perjalananya yang sudah dikenal luas oleh petani dan masyarakat pertanian lainnya seharusnya sudah memiliki nilai lebih dan kekuatan kohesif yang lebih mapan, karena lembaga penyuluhan tersebut tumbuh dari bawah bersama-sama dengan petani dan kelembagaanya selama bertahun-tahun dengan membangun budaya kerja yang bertahun-tahun pula. Namun sangat disayangkan budaya kerja yang sudah terbangun ini kurang disemangati dengan gendang perubahan dan perkembangan kekinian sehingga masih sering mendendangkan nyanyian yang pernah hit di era tahun 80an yaitu "Masih Seperti Yang Dulu" dan menyandang predikat "Masih Seperti Itu". Berbekal dengan nyanyian dan predikat inilah, penulis mencoba menelisik dan memahami kondisi internal dan eksternal yang terjadi, guna merumuskan dan menyusun strategi pencitraan yang berorientasi pada kebijakan peningkatan efisiensi dan efektifitas pemanfaatan sumber daya (alam, manusia dan buatan) yang tersedia di BPP untuk membangun dan meraih "CITRA" kelembagaan penyuluhan yang professional secara bertahap dan pasti. Ada tiga strategi yang menjadi perhatian manajemen BPP apabila ingin membangun pencitraan kedepan , yakni (1) Survivel Strategy, (2) Image Strategy dan (3) Development Strategy. Survival Strategy dilakukan dengan cara mempertahankan kondisi yang ada sambil menelisik dan mengidentifikasi seluruh permasalahan kinerja BPP, untuk selanjutnya dilakukan penataan dan pembenahan secara bertahap mulai dari aspek kelembagaan. ketenagaan, penyelenggaraan dan pembiayaan penyuluhan sesuai dengan tugas BPP yang diamanatkan pasal 15, Undang- Undang No 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyulyhan Pertanian ,Perikanan dan Kehutanan. Sementara itu Image Strategy, dibangun dengan menumbuh-kembangkan kepercayaan diri pengelola BPP dan penyuluh pertanian diwilayah kerja BPP tersebut. Tidak hanya itu, image (citra) ini dibangun dengan memulai menata lingkungan termasuk pengelolaan lahan dan fasilitas penyuluhan lainnya di BPP sebagai show window, serta peningkatan kinerja dan disiplin pengelola BPP, pembinaan sikap mental penyuluh pertanian, pembinaan kerjasama dengan petani dan masayrakat dilingkungan BPP. Strategy lain membangun citra BPP adalah Development Strategy. Strategy ini arahnya lebih ditekankan pada peningkatan kualitas penyelenggaran penyuluhan (identifikasi, perencanaan, programa penyuluhan , pelaksanaan penyuluhan ,penguatan kelembagaan petani,peningkatan kapasitas penyuluh, pelaksanaan uji dan kaji teknologi, monitoring evaluasi dan tindak lanjut) serta pengembangan profesionalisme penyuluh pertanian , mengembangkan inkubator agribisnis dan sebagainya. Penulis : Muhammad Ridha Ismail Penyuluh Pertanian Madya