Kota Subulussalam adalah sebuah kota di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Kota ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2007, pada tanggal 2 Januari 2007. Kota ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Singkil. Subulussalam juga merupakan sebuah daerah otonom yang berstatus Pemerintahan Kota (Pemko). Letaknya tepat berada paling ujung di bagian pesisir barat selatan (Barsela) wilayah Provinsi Aceh yang langsung berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Subulussalam memiliki luas wilayah sekitar 1.391 km2 dengan bentangan hutan mencapai 34.630 hektar yang terdiri dari status kawasan Hutan Lindung, Hutan Suaka Margasatwa, Taman Hutan Raya (Tahura) dan Hutan Produksi. Sebagaimana data BPS pada tahun 2018 menyebutkan saat ini dari 139.100 hektar luas wilayah Kota Subulussalam, 17.311 hektare dari sebagian luas wilayah Kota Subulussalam diusahai oleh masyarakat dengan sektor perkebunan sawit. Perkebunan selama ini menjadi andalan terbesar Kota Subulussalam. Selain memiliki lahan yang luas, sebagian besar penduduk Subulussalam merupakan petani tradisonal. Salah satu komoditas perkebunan yang menjadi primadona bagi masyarakat di sana adalah kelapa sawit selain karet atau sedikit sektor pertanian. Kelapa sawit menjadi komoditas yang terus digeluti masyarakat. Pada dekade terakhir ini, kelapa sawit secara perlahan terus menjadi tanaman pavorit petani bahkan para pemodal di Kota Sada Kata itu. Tak ayal, di lapangan pengembangan perkebunan kelapa sawit ini dapat ditemui di hampir seluruh penjuru daerah hasil pemekaran dari Aceh Singkil tersebut. Kondisi ini memicu para petani setempat ikut beralih kepada usaha lain yang dianggap lebih menguntungkan yakni kelapa sawit karena tergiur dengan hasilnya Tinggi produksi ini juga dibarengi dengan meningkatnya limbah pabrik kelapa sawit. Salah satunya tandan kosong kelapa sawit (TKKS). TKKS merupakan salah satu limbah padat hasil samping dari proses produksi minyak kelapa sawit. Selama ini, limbah TKKS dikumpulkan di area sekitar pabrik, dibakar atau ditebarkan ke area perkebunan sebagai pupuk. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah pabrik sawit yang jumlahnya sangat berlimpah. Setiap pengolahan 1 ton TBS (tandan buah segar) akan menghasilkan 22–23% atau sekitar 220–230 kg TKKS, limbah cangkang 6,5% atau 65 kg dan sabut 13% atau 130 kg. Apabila dalam industri sawit dengan kapasitas pengolahan 100 ton/jam dan waktu operasi selama 1 jam, akan dihasilkan sebanyak 23 ton TKKS. TKKS mengandung jumlah kalor sebanyak 4,5 ribu kalori/gram, pati 11,6% bb, dan selullosa 41,4% bb. Kandungan kompos TKKS berpeluang untuk dimanfaatkan menjadi biokar yang berfungsi sebagai media tanam sekaligus pupuk organik. Selain itu, penerapan biokar pada tanah memiliki manfaat antara lain mengembalikan kesuburan tanah, meningkatkan kandungan oksigen pada tanah, meningkatkan hasil panen, memperpendek usia panen tanaman, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk anorganik/kimia, mengurangi serangan hama, dan meningkatkan kualitas produk pertanian menjadi produk organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi biokar di lahan sawit dengan umur kelapa sawit 8 tahun mampu meningkatkan hasil panen TBS yang sebelumnya hanya 15–20 kg/tandan menjadi 20–30 kg/tandan serta tahan terhadap serangan hama dan penyakit yang menyerang akar sawit. Tidak hanya itu, hasil pengujian biokar sebagai media tanam pada tanaman padi varietas Ciherang juga mampu meningkatkan hasil panen menjadi 10 ton/ha dibandingkan sebelumnya yang hanya 3 ton/ha, bebas hama penyakit serta dapat memperpendek usia panen menjadi 90 hari. ( https://www.wartaekonomi.co.id/read253947/tkks-limbah-sawit-sejuta-manfaat) Jenis limbah pertama pada tanaman kelapa sawit generasi pertama adalah tandan kosong,pelepah,cangkang dll. Selama ini Tangkos dibiarkan melapuk di kebun sawit hal ini sebenarnya menggangu pertumbuhan sawit yang akan di tanam selanjutnya karena tangkos membutuhkan waktu yang lama terurai kemungkinan bisa sampai waktu 6 bulan bila tampa decomposer, oleh karena itu perlu suatu teknologi dalam memanfaatkan limbah tandan kelapa sawit agar lebih bermanfaat dalam usaha tani melalui pembuatan kompos tandan kosong kelapa sawit yang mana hal ini menjadi solusi untuk menjawab kelangkaan dan mahalnya harga pupuk terutama pupuk kalium yang menjadi masalah bagi petani dan perkebunan-perkebunan besar.Cara pembuatan pupuk organic kompos tkks adalah : 1.Tkks hasil panen dibiarkan selama 2 minggu di lapangan Selanjutnya di cacah untuk memperkecil ukuran dan memperluas TKKs 3.Selanjutnya di campur TKKS dengan pupuk kandang, dolomite yaitu 100/10/5 Campur dengan limbah pabrik kelapa sawit atau decomposer atau aktifitor pengomposan agar semua merata perlu di lakukan pembalikan, juga bertujuan menurunkan suhu dan memberikan airasi kepada kompos 6.Tkks di tumpuk dengan ketinggian minimal 75 cm lalu ditutup dengan menggunakan terpal yang cukup kuat dan tebal serat yang tahan air hujan, tutup terpal berfungsi menjaga kelembapan suhu agar optimal untuk proses dekomposisi Tangkos Lakukan pembalikan setiap 2 minggu hingga tumpukan bagian bawah pindah ke atas, perlu juga di tambahkan air, agar suhu kompos tidak terlalu tinggi 8.Proses dekomposisi berlangsung selama 3 bulan 9.Kompos yang sudah matang bisa di panen, cirri –ciri kompos yang sudah matang yaitu warna menjadi coklat kehitaman, suhu sudah turun mendekati awal proses pembuatan, bisa di remas, mudah putus serat-seratnya sebelum digunakan agar dikering anginkan hingga kadar 50 % dan siap digunakan Pemakaian pupuk dari tongkos ini memberikan keuntungan secara Ekologis dan Ekonomi, bahan-bahan organic yang terdapat dalam pupuk memperbaiki kesuburan tanah secara kimiawi dan bilogis tanah sehingga dapat menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah menjaga unsure hara organic yang terdapat di dalam tanah serta mengurangi penggunaan kimia. Oleh: Vivi Endriyati,SP BPP Penanggalan