Menurut pengamat asal Belanda, Hans Westenberg (dalam Tim Karya tani Mandiri, 2010), mengemukakan keyakinannya bahwa Indonesia dapat menjadi Negara kaya lebih kaya daripada Amerika Serikat, apabila Indonesia menangani budidaya tanaman pangan secara besar-besaran, sungguh-sungguh dan terencana. Produk Jagung merupakan produk tanaman pangan setelah padi yang secara besar-besaran memang harus diusahakan dan menjadi keharusan yang didasarkan pada skala ekonomi. Untuk dapat bertahan hidup dan melanjutkan kehidupan usaha, harus dihasilkan keuntungan pada tingkat tertentu. Keuntungan usaha merupakan sumber utama penyokong kehidupan usaha. Untuk menghasilkan keuntungan, secara sederhana, akuntansi mengajarkan haruslah penerimaan lebih besar dari pengeluaran. Penerimaan berasal dari penjualan. Pengeluaran berasal dari biaya-biaya. Jadi, penjualan harus lebih besar dari biaya-biaya baru diperoleh keuntungan atau laba. Selanjutnya biaya dibagi atas biaya tetap dan biaya variable. Biaya tetap secara relative dikeluarkan tetap besarnya tidak tergantung berapa banyak produk yang dihasilkan. Misalnya yang termasuk biaya tetap adalah sewa lahan, biaya hidup petani, penyusutan peralatan dan perlengkapan. Sedangkan biaya variable berubah besarnya seiring dengan berubahnya produk. Sebagai contoh adalah bibit dan pupuk. Kalau produk yang mau dihasilkan lebih banyak lagi, maka dibutuhkan bibit dan pupuk yang lebih banyak. Urusan pendapatan, biaya dan laba adalah urusan internal perusahaan. Ini baru sebatas bertahan atau berlangsung hidup. Ini adalah masalah inti yang harus dimiliki dan dikuasai pengusaha, termasuk petani jagung. Tetapi skala besar-besaran tidak terbatas pada kepentingan internal. Barangkali dengan laba tertentu buat petani sudah cukup, tidak perlu memikirkan skala besar-besaran. Tetapi disinilah masalahnya. Pengguna utama produk jagung petani adalah pabrikan, yaitu produsen pakan ternak misalnya, mereka juga mengikuti aturan skala ekonomis. Mereka telah menanamkan dana yang sangat besar dalam pembangunan pabriknya, menjalankan usahanya. Untuk mengembalikan investasi yang besar tersebut mereka harus menghasilkan juga dalam jumlah besar. Untuk menunjang penghasilan yang besar maka pabrik mereka harus juga memproduksi hasil olahan dalam jumlah besar. Bahan baku harus tersedia, salah satunya adalah jagung. Pabrik berproduksi setiap hari, ada yang 24 jam sehari. Berarti setiap saat harus tersedia bahan baku jagung. Petani jagung panen empat bulan sekali dan paling banyak dua kali dalam setahun. Bagaimana mungkin mereka memenuhi bahan baku pabrik pakan yang harus dipasok setiap hari? Petani itu sendiri tidak akan mampu, dan tentu pabrik tidak mau berhubungan dengan mereka yang hanya panen dua kali setahun. Pabrik pakan butuh kepastian ada pasokan setiap hari. Jadi, produksi jagung harus mampu memenuhi syarat budidaya tanaman pangan secara besar-besaran. Mereka butuh bantuan pihak lain. Paling tidak para petani harus bekerja sama dengan pihak lain sehingga dapat berhubungan bisnis dengan pabrik pakan. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Madya, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com Sumber : 1) Pedoman Bertanam Jagung, Tim Karya Tani Mandiri, Seri Budi Daya Tanaman. 2010. 2) http://ziemensagrobisnis.blogspot.com 3) http://www.google.com