MENCEGGAH DAN MENGENDALIKAN PENULARAN VIRUS MOSAIK KEDELAI (SMV) Penulis : Ni Nyoman Apriani, SPNIP. 198704272015032001Kedelai (Glycine max L) merupakan salah satu komoditas pangan bergizi tinggi sebagai sumber protein nabati dan rendah kolesterol dengan harga terjangkau. Kedelai juga merupakan komoditas pangan yang penting setelah padi dan jagung. Konsumsi kedelai dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahan dapat meningkatkan gizi masyarakat. Di Indonesia, kedelai banyak diolah untuk berbagai macam bahan pangan, seperti : tauge, susu kedelai, tahu, kembang tahu, kecap, oncom, tauco, tempe, es krim, minyak makan, dan tepung kedelai. Selain itu, juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Adapun pertanaman kedelai di lahan sawah ditanam setelah atau sebelum tanaman padi. Agar mencapai produktivitas tanaman kedelai tinggi, hal yang perlu diperhatikan adalah pengolahan tanah, pola tanam dan manajemen organisme pengganggu tanaman (OPT).Salah satu penyebab rendahnya produktivitas tanaman kedelai di Indonesia adalah karena serangan penyakit virus dan penggunaan benih yang kualitasnya tidak terjamin. Di antara lebih dari 10 jenis penyakit virus yang menyerang tanaman kedelai di Indonesia, dua diantaranya yaitu virus mosaik kedelai (Soybean mosaic virus= SMV ) dan virus kerdil kedelai ( Soybean stunt virus =SSV) ditularkan, melalui benih kedelai. Di dalam biji kedelai yang terinfeksi, virus SMV dan SSV terdapat di dalam jaringan kulit biji atau embrio (kotiledon dan lembaga). Penularan SMV and SSV melalui benih kedelai memegang peranan penting dalam penyebarluasan dan perkembangan epidemi penyakit virus di lapang. Untuk mendeteksi SMV dan SSV dalam biji kedelai dapat dilakukan cara sederhana dengan mengamati langsung secara visual. Virus mosaik kedelai (SMV) merupakan patogen tular benih, Gejala SMV tergantung pada beberapa faktor seperti strain virus, genotipe inang, umur tanaman pada saat infeksi, dan kondisi lingkungan. Tanaman yang terinfeksi SMV umumnya menunjukkan gejala seperti tanaman menjadi berkerut, kerdil, daun melengkung, vena berwarna hijau gelap, daerah intervenal hijau terang, deformasi bunga, nekrosis, lesio lokal kadang-kadang nekrotik, dan nekrosis sistemik (ICTVdB Manajemen, 2006). Gejala SMV ini dapat terjadi pada suhu di atas 30° C (Hill, 1999).Di lapang, infeksi SMV memiliki gejala khas yaitu permukaan daun tidak rata, daun mengecil, tepi daun melengkung, tulang daun menebal, klorosis, mosaik sampai ke daun yang paling muda dengan warna hijau gelap di sepanjang tulang daun, daun melepuh dengan warna hijau tua dan melengkung ke dalam dan ke luar, pemucatan tulang daun, dan mosaik sepanjang tulang daun (Wulan, 2017 dan Inayati, 2015). SMV juga dapat terbawa sampai ke biji, menyebabkan biji berwarna belang coklat berbentuk radial. Infeksi SMV pada benih menyebabkan bintik?bintik dan ukuran benih lebih kecil sehingga menurunkan kualitas benih (Saleh, 2007). Infeksi SMV menghasilkan gejala benih mottle (burik) dan non-mottle. Oleh karena itu benih non-mottle tidak dapat dijadikan jaminan bebas SMV.Infeksi virus pada benih dapat menyebabkan viabilitas atau daya tumbuh benih rendah. Virus ini akan aktif setelah benih disemaikan dan menyebabkan tanaman terinfeksi. SMV dapat menyebabkan kehilangan hasil antara 35−100% dalam kondisi infeksi alami tergantung dari strain virus, ketahanan genotipe, dan waktu infeksi. Di lapangan , SMV terutama ditularkan dan disebarkan oleh serangga vektor. Wulan (2017) melaporkan bahwa temuan serangga kutu daun Aphis gossypii (Hemiptera: Aphididae)Pengelolaan infeksi penyakit SMV dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan cara melakukan pembongkaran atau memusnahkan tanaman yang sakit, penggunaan varietas tahan serta mengendalikan vektor yang menjadi penyebab penyebaran virus tersebut pada tanaman budidaya. Selain itu, dikarenakan penyakit SMV merupakan penyakit terbawa benih, maka pengelolaan penyakit dapat dilakukan dengan menggunakan benih yang bersertifikat (Andayanie, 2011).http://www.karantina-kendari.org/2018/03/05/penyakit-virus-mosaik-kedelai-soybean-mosaic-virus-di-sulawesi-tenggara/, di akses tanggal 23 Mei 2019http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/bulpa/article/view/8598, di akses tanggal 23 Mei 2019