Loading...

MENGELOLA TANAH MASAM AGAR PRODUKTIF

MENGELOLA TANAH MASAM AGAR PRODUKTIF
Teknologi yang dikembangkan Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementrian Pertanian sudah tidak diragukan lagi karena juga dilakukan pendampingan oleh peneliti dan penyuluh. Dengan menggunakan inovasi teknologi pengelolaan tanah dan air melalui pembuatan jaringan tata air makro dan tata air mikro, dan penataan lahan mampu meningkatkan produktivitas lahan sulfat masam. Namun demikian dalam melakukan penataan lahan perlu memperhatikan hubungan antara tipologi lahan, tipe luapan, dan pola pemanfaatannya. Misalnya untuk tata air pada lahan yang bertipe luapan A dan B perlu diatur dalam sistem aliran satu arah (one way flow system), sedangkan untuk lahan bertipe luapan C dan D, saluran air perlu ditabat/disekat dengan stoplog untuk menjaga permukaan air tanah agar sesuai dengan kebutuhan tanaman serta memungkinkan air hujan tertampung dalam saluran tersebut. Untuk keperluan pengaturan tata air ini perlu dibangun pintu-pintu yang sesuai sebagai pengendali air. Inovasi teknologi lainnya yang wajib diterapkan dalam pengelolaan lahan sulfat masam adalah ameliorasi dan pemupukan berimbang. Keduannya merupakan upaya dalam mengatasi kendala kesuburan lahan sulfat masam yang dicirikan dengan tingginya tingkat kemasaman tanah, tingginya kelarutan Fe, Al dan Mn serta rendahnya ketersediaan unsur hara terutama P dan K dan kejenuhan basa yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Upaya ameliorasi lahan dengan kapur pertanian atau dolomit dengan tujuan untuk meningkatkan pH tanah dan ketersediaan hara dan aplikasi bahan organik dalam mendukung peningkatan kualitas sifat fisik dan biologi tanah. Balai Penelitian Tanah sebagai lembaga riset telah memiliki teknologi perangkat uji cepat untuk tanah rawa atau dikenal dengan sebutan PUTR (Perangkat Uji Tanah Rawa) dimana perangkat uji ini dapat memberikan informasi terkait status hara tanah serta rekomendasi pemupukannya. Dalam hasil penelitian di Balitbangtan menunjukkan dengan pemberian dolomit 2 t/ha dan SP-36 200 – 300 kg/ha dapat menghasilkan rata-rata 4,0 t/ha GKG. Pada penelitian yang lain juga diperoleh hasil penelitian di Tanah Anen, Kalimantan Selatan, dengan aplikasi 43 kg P/ha, 52 kg K/ha, kapur 1 t/ha dan pupuk kandang 5 t/ha memberikan hasil 3,24 t/ha GKG. Pengembangan usahatani di lahan sulfat masam memerlukan strategi yang tepat yaitu dengan melakukan penanaman komoditas yang adaptif, baik adaptif dengan tipologi lahan maupun tipe luapan, penyesuaian pola tanam, yaitu dengan mempertimbangkan kondisi air, iklim dan tipe luapan pasang surut serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam pengelolaan lahan sulfat masam dengan menerapkan teknologi pengelolaan lahan yang efektif dan efisien guna meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman secara berkelanjutan serta meningkatkan pendapatan usahatani. Lahan sulfat masam adalah mutiara yang terpendam yang harus kita angkat agar bisa bermanfaat khususnya di bidang pertanian. Dengan pengelolaan yang tepat beserta kawalan sepenuhnya dari segenap pihak, lahan sulfat masam mampu menjadi penyumbang kebutuhan pangan di Indonesia.