Loading...

MENGENAL BEBERAPA JENIS PENGATURAN POLA TANAM

MENGENAL BEBERAPA JENIS PENGATURAN POLA TANAM
Pola Tanam Monokultur Pola tanam monokultur adalah sistim tanam tunggal (satu jenis tanaman) pada sebidang lahan pada waktu yang sama. Misalnya, sawah padi saja, atau jagung saja. Pola tanam monokultrur bisanya dilakukan pada lahan yang luas, menggunakan alat mesin pertanian, pestisida dan lainnya, serta biasanya lebih berorientasi pasar. Jenis tanaman yang diusahakan biasanya nilai ekonomis yang tinggi serta sudah jelas pemasarannya. Kelemahan pola tanam monokultur dapat menyebabkan lingkungan pertanian kurang mantap, terbukti dari tanah pertanian yang harus selalu diolah, dipupuk dan dilakukan penyemprotan pestisida untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (hama, penyakit dan gulma). Pola Tanam Polikultur Pola tanam polikultur adalah pola penanaman dua jenis tanaman atau lebih pada sebidang lahan pada waktu yang sama. Umumnya dilakukan dengan terencana dan memperhatikan kondisi lingungan dan sumberdaya yang tersedia, seperti sumberdaya air dan kesuburan lahan. Beberapa keuntungan penerapan pola tanam polikultur diantaranya:• Dapat mengurangi serangan OPT, khususnya populasi hama, karena tanaman yang satu dapat mengurangi serangan OPT lainnya. Misalnya bawang daun dapat mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena mengeluarkan bau allicin,• Dapat menambah kesuburan tanah. Misalnya, dengan menanam kacang-kacangan- kandungan unsur N dalam tanah bertambah karena adanya bakteri Rhizobium yang terdapat dalam bintil akar. Dengan menanam yang mempunyai perakaran berbeda, misalnya tanaman berakar dangkal ditanam berdampingan dengan tanaman berakar dalam, tanah disekitarnya akan lebih gembur.• Dapat memperkecil risiko kegagalan usaha.• Memperoleh hasil panen yang beragam. Penanaman lebih dari satu jenis tanaman akan menghasilkan panen yang beragam. Ini menguntungkan karena bila harga salah satu komoditas rendah, dapat ditutup oleh harga komoditas lainnya.Selain kelebihan diatas, pola tanam secara polikultur juga memiliki kekurangan, diantaranya dapat terjadi persaingan unsur hara antar tanaman, dan jenis OPT (khususnya hama penyakit) lebh beragam sehingga sulit dalam pengendaliannya. Ada beberapa jenis pengaturan pola tanam secara polikutur, diantaranya sebagai berikut: 1. Tumpang sariMerupanan sistim penanaman beberapa jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama dengan pengaturan jarak tanam yang jelas. Keuntungan sistim tumpang sari diantaranya: memanfaatkan lahan kosong disela-sela tanaman pokok, dapat meningkatkan produksi total persatuan luas karena lebih efektif dalam penggunaan cahaya, air serta unsur hara, disamping dapat mengurangi resiko kegagalan panen dan menekan pertumbuhan gulma. Sebagai contoh, tanaman jagung dapat ditumpangsarikan dengan tanaman kedelai, kacang tanah atau dengan kacang hijau. 2. Tanaman Bersisipan (Relay cropping)Merupakan pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Cara ini umumnya dikembangkan untuk mengintensifikasikan lahan. Petani dituntut untuk semakin jeli menentukan tanaman apa yang perlu disisipkan agar waktu dan nilai ekonomisnya dapat membantu dalam usaha meningkatkan pendapatan. 3. Tanaman Campuran (Mixed cropping)Merupakan penanaman beberapa jenis tanaman pada lahan yang sama dan pada waktu yang sama tanpa jarak tanam yang jelas atau ditanam secara tidak beraturan, atau dengan kata lain tidak dilakukan pengaturan jarak tanam. Rotasi TanamanDalam pengaturan pola tanam juga dikenal dengan rotasi atau pergiliran tanaman. Rotasi tanaman adalah penanaman dua jenis atau lebih tanaman secara bergiliran pada lahan yang sama dalam periode waktu tertentu (umumnya dalam periode satu tahun). Pengaturan pola tanam ini biasanya dengan memperhatikan curah hujan atau ketersediaan sumberdaya air. Sebagai contoh, pola tanam yang diterapkan pada lahan tadah hujan dapat berupa: (1) gogo rancah – padi sawah – kacang tunggak; (2) padi sawah – palawija/sayuran; (3) gogo rancah – palawija – palawija/sayuran dsb. Sumber : dari berbagai sumber Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian; Email: ume_humaedah@yahoo.com