Hama yang tadinya tidak pernah menjadi perhatian para petani tiba-tiba menjadi hama yang sangat membahayakan bagi tanaman. Dalam waktu hitungan kurang dari 5 hari jika Liriomyza sp. menyerang bisa menyebabkan gagal panen. Di tanaman kentang, para petani menyebut hama ini dengan nama orek-orek sedangkan di tanaman bawang merah hama ini disebut dengan hama gerandong. Ketika musim kemarau tiba, petani sangatlah cemas jika terserang hama ini karena bisa mengakibatkan kegagalan. Hama pengorok daun sangat ditakuti oleh petani sayuran, kerusakan yang ditimbulkannya bisa mencapai 60-100%. Beberapa spesies hama pengorok daun yang merusak tanaman sayuran diantaranya Liriomyza huidobrensis yang menyerang sayuran kentang, Liriomyza trifolii yang menyerang bunga krisan dan Liriomyza chinensis yang menyerang tanaman bawang. Tanaman Inang Lain Selain pada kentang, krisan dan bawang merah, hama ini mampu hidup dan menyerang pada beberapa jenis tanaman lain diantaranya adalah kacang panjang, timun, melon, semangka, pare, gambas, kacang polong, kedelai, sawi, seledri, paprika, camellia, cabai, mawar, bawang daun, tomat, dsb. Selain tanaman sayuran, hama tersebut juga menyerang berbagai jenis gulma yaitu babadotan, sawi tanah, senggang, bayam liar dan sejenisnya. Gejala Serangan Liriomyza sp menyerang daun, namun bisa juga menyerang batang muda dan buah. Lalat ini menyerang daun tanaman dengan cara meletakkan telur di bagian epidermis daun. Setelah telur menetas dan berubah menjadi larva, akan menggorok dan masuk ke dalam jaringan mesofil daun. Sehingga jaringan daun menjadi kosong, dan tampak guratan berwarna putih atau perak dengan pola acak tak beraturan di permukaan daun. Serangan berat akan mengakibatkan daun mengering dan tidak mampu mengeluarkan tunas baru. Ekologi Liriomyza sp. Siklus hidup Liriomyza sp. berlangsung selama 22-25 hari. Telur yang diletakkan pada bagian epidermis akan menetas setelah 2-4 hari. Stadium larva berlangsung selama 6-12 hari dan terdiri dari tiga instar. Larva instar kedua dan ketiga merupakan larva yang paling besar menimbulkan kerusakan. Pada fase berikutnya, larva akan berubah menjadi pupa, yang bersembunyi di dalam tanah atau di antara daun. Setelah delapan hari, stadium pupa selesai dan berubah menjadi lalat dewasa. Lalat ini akan berkembang baik pada saat cuaca panas dan kelembaban rendah. Pada suhu 25-32°C dengan kelembaban udara rendah, lalat dewasa akan terangsang untuk kawin dan menghasilkan keturunan baru. Sehingga pada suhu yang demikian, berpotensi terjadi serangan berat lalat penggorok daun Liriomyza sp. dengan tingkat kerugian yang dialami oleh petani sangat tinggi. Pemupukan dengan nitrogen tinggi akan merangsang terjadinya serangan Liriomyza sp. Memang, salah satu hal yang mempengaruhi tingkat serangan hama atau penyakit adalah faktor abiotik, salah satunya adalah pemupukan tidak berimbang.Oleh karena itu, penggunaan pupuk berimbang dan terukur selama proses budidaya lebih disarankan, sebagai salah satu upaya menanggulangi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Sumber Agrinet Penulis : Penyuluh BPP Lembo Pengendalian Liriomyza sp. Yang perlu diperhatikan dalam melakukan upaya pengendalian terhadap lalat Liriomyza sp. adalah tingkat resistensi yang cukup tinggi terhadap aplikasi suatu jenis pestisida tertentu. Oleh karena itu, hindari penggunaan pestisida tunggal selama proses budidaya. Pengendalian kultur teknis Pengendalian ini menitikberatkan pada teknologi dan pola budi daya yang dilakukan oleh petani. Pembersihan lahan dari gulma atau tanaman pengganggu perlu dilakukan secara berkala. Selain itu, menghindari menanam komoditas yang rentan terhadap serangan lalat Liriomyza sp. secara berturut-turut dalam kurun waktu lama. Dengan kata lain, penggiliran tanaman merupakan solusi efektif. Pengendalian mekanis Menggunakan perangkap kuning, yang terbuat dari papan atau plastik lembaran berukuran 15 x 15 cm yang telah dioleskan perekat, vaselin, oli, atau minyak goreng pada perangkap tersebut. Seperti halnya serangga lain, lalat penggorok daun ini juga tertarik dengan warna kuning. Dengan memasang perangkap sebanyak 100 buah per hektar, sudah mampu menekan serangan hingga 50%. Pengendalian biologis Upaya pengendalian ini menitikberatkan pada pemanfaatan musuh alami Liriomyza sp. Salah satu parasitoid yang cukup efektif untuk mengendalikan hama ini adalah Hemiptarsenus varicorni, H. varicornis (Hymenoptera : Eulophidae). Parasitoid ini banyak ditemukan di arela pertanaman kentang. Selain itu, dapat juga dengan memanfaatkan parasitoid dari keluarga tawon Braconidae, Pteromalidae, dan Eulopidae. Pengendalian kimiawi Menurut beberapa penelitian yang dilakukan para ahli, diduga, lalat Liriomyza sp. sudah resisten terhadap beberapa pestisida terutama dari golongan hidroklorin, organofosfat, karbamat, dan piretroid. Terlepas dari benar tidaknya penelitian tersebut, ada baiknya untuk tidak menggunakan pestisida dari golongan di atas. Beberapa jenis insektisida yang bisa digunakan untuk mengendalikan Liriomyza sp. antara lain, siromazin, abamektin, atau klorfenapir. Gunakan insektisida tersebut secara berseling. Dosis dan konsentrasi sesuai pada kemasan.