Mahkota dewa (Phaleria Macrocarpa (Scheff.) Boerl.) termasuk pohon perdu anggota family Thymelaecae. Habitatnya adalah daerah berketinggian 10-1200 m dari permukaan laut (DPL), namun pertumbuhannya paling baik di ketinggian sampai 1.000 m dpl. Mahkota dewa memiliki tajuk pohon yang bercabang-cabang. Tinggi pohon 1,5 - 2,5 meter, terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan buah. Akarnya berupa akar tunggang dengan panjang akar bisa mencapai 100 cm. Batangnya terdiri dari kulit dan kayu. Kulit batangnya berwarna coklat kehijauan, sedangkan kayunya berwarna putih. Batangnya bergetah, dengan diameter batang tanaman dewasa mencapai 15 cm. Percabangan batang cukup banyak. Batang ini secara empiris terbukti bisa mengobati penyakit kanker tulang. Ketinggian tumbuhnya bisa mencapai 5 m. Umurnya bisa mencapai puluhan tahun dengan umur produktif sampai 10 - 20 tahun. Daun mahkota dewa merupakan daun tunggal. Bentuknya lonjong langsing, memanjang, dan berujung lancip. Sekilas sosoknya mirip daun jambu air, tetapi lebih langsing. Teksturnya lebih liat daripada daun jambu air. Warna daun hijau, daun tua berwarna lebih gelap daripada daun muda. Permukaannya licin dan tidak berbulu. Permukaan bagian atas berwarna lebih tua daripada permukaan bagian bawah. Pertumbuhannya lebat, panjangnya bisa mencapai 7-10 cm dan lebarnya 3-5 cm. Daun mahkota dewa termasuk bagian pohon yang paling sering dipakai untuk pengobatan. Penyakit yang dapat disembuhkan dengan daun mahkota dewam antara lain lemah syahwat, disentri, alergi, dan tumor. Bunga mahkota dewa merupakan bunga majemuk yang bersusun dalam kelompok 2-4 bunga. Warnanya putih, bentuknya seperti terompet kecil, baunya harum, dan tumbuh menyebar di batang atau ketiak daun. Buah mahkota dewa merupakan ciri khas dari tanaman mahkota dewa. Bentuknya bulat seperti bola. Ukurannya bervariasi dari sebesar bola pingpong sampai sebesar buah apel merah. Buah mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang, dan biji. Saat masih muda, warnanya hiaju, setelah tua menjadi merah marun. Dagingnya berwarna putih, begitu juga cangkangnya. Bijinya bulat, berwarna putih, dan sangat beracun. Penampilannya tampak menawan dan merah menyala namun hati-hati, karena memakannya berarti harus bersiap-siap untuk setidaknya merasakan mabuk atau pusing. Buah ini mampu tumbuh cukup lebat. Dalam pengobatan, bagian tanaman yang dipergunakan adalah batang, daun, dan buah. Penggunanan buah mahkota dewa dalam pengobatan alternatif secara empiris telah terbukti berhasil mengobati berbagai macam penyakit berbahaya, seperti kanker, diabetes mellitus, sakit jantung, asam urat, gangguan ginjal, gangguan pada darah, lever, penyakit kulit (alergi), kolesterol, lemah syawat, disentri, wasir, reumatik, darah tinggi, stroke, migrain dan sebagai obat untuk ketergantungan narkoba. Bahkan, ekstrak mahkota dewa juga dapat digunakan untuk mengatasi penyakit pada hewan piaraan. Besar kemungkinan, masih banyak penyakit lain yang bisa ditaklukkan, namun masih belum ada bukti dan penelitian yang mengungkapnya. Dari hasil penelitian ilmiah yang sangat terbatas, diketahui bahwa tanaman mahkota dewa memiliki kandungan kimia yang kaya, sepert zat antihistamin, antioksidan, dan antikanker. itupun belum semuanya terungkap. Dalam daun dan kulit buahnya terkandung alkaloid, saponin, dan flavonoid. Selain itu, didalam daunnya juga terkandung polifenol. Seorang ahli farmakologi dari Fakultas kedokteran UGM, dr. Regina Sumastuti berhasil membuktikan bahwa mahkota dewa mengandung zat antihistamin. Zat ini merupakan penangkal alergi. Dengan demikian, dari sudut pandang ilmiah mahkota dewa bisa menyembuhkan aneka penyakit alergi yang disebabkan oleh histamin, seperti biduran, gatal gatal, salesma, dan sesak napas. Penelitian dr. Regina juga membuktikan bahwa mahkota dewa mampu berperan seperti oksytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga persalinan bisa berlangsung lebih lancar. Begitu juga hasil pengujian yang dilakukan oleh Vivi Lisdawati yang membuktikan bahwa buah mahkota dewa memiliki efek antioksidan dan antikanker. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian