Sipu Murbei atau Keong Mas (Pomacea canaliculata) merupakan salah satu jenis keong air tawar yang diduga berasal dari Benua Amerika dan tidak jelas mulai kapan masuk ke Indonesia. Pada tahun 1981 di Yogyakarta keong mas secara bebas dijualbelikan sebagai hewan hias karena bentuk dan warnanya yang menarik. Disamping itu keong mas dibudidayakan di kola-kolam sehingga ada yang lari ke persawahan. Habitat sawah cocok untuk perkembangbiakan keong mas sehingga populasi cepat meningkat dalam waktu yang singkat. Karena itu dalam waktu yang cepat statusnya berubah dari hewan piaraan menjadi hama pada tanaman padi. Keong mas menyukai berbagai habitat, baik perairan yang mengalir (sungai, irigasi), maupun lahan yang relative tergenang (rawa, sawah, kolam). Perpindahan dan penyebaran populasi keong mas dapat terjadi melalui berbagai cara seperti gterbawa aloiran air ataupun melalui transportasi perahu. Adanya sistemn irigasio di Indonesia menyebabkan penhyebaran keong mas menjadi mjudah. Kenhyataannnya keong mas telah menyebar luas di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi sampai Papua. Di Jawa Barat sampai tahun 1992 tidak ditemukan keong mas di saswah dan hanya dipelihara di kolam. Siklus hidup keong mas bergantung pada temperature, hujan, ketersediaan air, dan makanan. Pada lingkungan dengan temperature tinggi dan makanan cukup, siklus hidupnya lebih pendek sekitar tiga bulan dan berproduksi sepanjang tahun. Jika makanan kurang, siklus hidup lebih panjang dan hanya berproduksi pada musim semi atau awal musim panas. Keong mas merupakan hewan molusca yang siklus hidupnya pendek (+ 60 hari) untuk mencapai dewasa, dan berproduksi cepat karena bersifat hermaprodit. Satu ekor betina dapat menghasilkan 15 kelompok telur berkisar 1000 – 1200 butir. Telur diletakkan dalam kelompok pada tumbuhan, pematang, ranting, dll beberapa sentimeter di atas permukaan air. Pada umunya telur berwarna merah muda dengan diameter telur berkisar antara 2,2 – 3,5 mm tergantung pada lingkungan. Telur diletakkan berkelompok sehingga menyerupai buah murbei. Warna telur akan berubah lebih muda jika akan menetas. Telur menetas setelah 8 – 14 hari, dengan daya tetas berkisar antara 61 – 75% dan daya tetasnya akan berkurang jika terkena air. Keong mas bersifat ampibi, karena mempunyai insang dan paru-paru. Paru-paru tertutup jika sedang dalam air dan terbuka setelah keluar dari air. Keong mas juga mempunyai sifon pernafasan untuk bergerak sambil mengambang. Semua kelebihan tersebut berguna untuk mekanisme survival. Pada musim kemarau, keong akan masuk bergerak menuju lapisan tanah yang lembab, dan muncul kembali jika lahan digenangi air. Jika hidup pada tanah kering, keong mas akan mengganti system pernafasan dari aerobic menjadi anaerobic. Adapun indra yang paling aktif adalah indra penciuman, yang dapat mendeteksi makanan dan lawan jenis. Kandungan Nutrisi Keong Mas Hasil uji proksimat di Institut Pertanian Bogor menunjukkan bahwa keong mas memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, dimana setiap 100 gr daging keong mengandung energi makanan sebanyak 83 kalori, protein 12,2 gr, lemak 0,4 gr, karbohidrat 6,6 gr, abu 3,2 gr, fosfor 61 mg, natrimum 40 mg, kalium 17 mg, riboflavin 12 mg, niacin 1,8 mg, serta mengandung vitamin seperti vitamin C, Zn, Cu dan Iodium. Daging keong mas juga kaya dengan mineral khususnya fosfor, sodium, potassium yang sangat bermanfaat dalam pembentukan rangka dan tulang serta sisik ikan. Edizal (Pusat Penyuluhan Pertanian); Bacaan : Nia Kurniawati, Potensi dan Pemanfaatan Siput Murbei Sebagai Bahan Pakan Ternak, Balai Besar Penelitian Padi. Jl. Raya 9, Sukamandi – Subang 41256, Jabar